Opini

REFLEKSI HALRAH ANSOR KE 83 TAHUN 2017

REFLEKSI HALRAH ANSOR KE 83 TAHUN 2017

Oleh : Mohamad Masruri

OPINI-mediakita.co-Gerakan Pemuda Ansor sejak didirikan pada 24 April 1934 di Banyuwangi Jawa Timur, telah menunjukan eksistensinya dalam berbagai aspek kehidupan. GP Ansor yang bersifat keagamaan, Kepemudaan, Kemasyarakatan dan Kebangsaan memiliki tanggung jawab moral yang kuat untuk selalu menghadirkan perubahan serta mendorong tumbuhnya gerakan demokrasi yang tidak hanya memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk berserikat dan menyuarakan aspirasinya, tetapi juga dapat mendukung lahirnya manajemen pemerintah yang lebih baik dan bersih, pelayanan publik yang lebih prima dan reformasi semua aspek kehidupan kebangsaan untuk Indonesia yang lebih baik.

Ikhtiar untuk memperbaiki diri secara kelembagaan dan penguatan SDM kader, juga berupaya memberikan pelayanan yang lebih baik pada masyarakat, terus dilaksanakan oleh GP Ansor secara berkelanjutan. Terlihat dari implementasi agenda program strategis. Agenda besar Gerakan Pemuda Ansor tentang Revitalisasi nilai dan tradisi, penguatan sistem kaderisasi dan pemberdayaan potensi kader terus digenjot sebagai wujud komitmen dan peran GP Ansor dalam berkhidmat untuk kemandirian NKRI menuju terwujudnya masyarakat yang demokratis, adil, makmur dan sejahtera berdasarkan ajaran Islam Ahlussunah waljama’ah.

Gerakan Pemuda Ansor yang notabene sebagai organisasi kepemudaan berbasis kaum muda Nahdlatul Ulama, merupakan salah satu kekuatan perubahan sosial yang berdiri di garis depan perubahan (Avant Garde). Melihat kondisi fenemona sosial yang berkembang, Gerakan Pemuda Ansor dituntut untuk bisa menengok dalam lintasan sejarah, bahwa kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor, nyaris melegenda. Terutama, saat perjuangan fisik melawan penjajahan di episode awal berdirinya dan penumpasan G30S/PKI di episode berikutnya, peran Ansor sangat menonjol.

Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi ”konflik” internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader. KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.

Penguatan serta orientasi GP Ansor dalam perjalanan sejarahnya senantiasa menetapkan titik kuatnya pada pengembangan kualitas sumber daya kader sebagai upaya mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Selain itu, GP Ansor juga senantiasa aktif terlibat dalam dinamika sosial yang sedang berkembang baik pada tingkat lokal, regional, bahkan tingkat nasional sampai global dalam kerangka dasar keagamaan dan kebangsaan. Dalam melaksanakan itu semua, GP Ansor memantapkan dirinya terhadap Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) sebagai Manhajul Fikr yaitu metode berpikir yang digariskan oleh para sahabat nabi dan tabi’in. Dalam menggerakkan roda organisasi, GP Ansor membekali dirinya dengan sikap kehati-hatian, kejelian, kecermatan serta kearifan dalam memahami dinamika serta isyarat zaman, sebagaimana kaidah fiqh “Tasharruful Imam Manuthun Bil Maslahathir Ro’iyah (kebijakan seorang pemimpin haruslah berlandaskan kepada kemaslahatan orang banyak/masyarakat).  Sehingga, ketika GP Ansor berusaha melakukan penguatan terhadap ideologi kader, visi-misi, interpretasi, persepsi dan orientasi organisasi, maka sudah sepatutnya jika ditindaklanjuti melalui gerakan, tindakan, aksi dan reaksi organisasi. Dengan demikian, formulasi idealitas dan realitas di atas diharapkan dapat melahirkan sikap proaktif, kritis, humanis, professional, dan inovatif untuk melahirkan perkembangan dan mewujudkan perubahan sebagai jawaban atas dinamika realitas zaman yang terus bergerak. Berangkat dari persoalan-persoalan tersebut, maka upaya reformulasi ideologi serta realisasi kaderisasi menjadi sebuah keniscayaan.

Makna penting Harlah GP Ansor ke-83 bagi kader-kader GP Ansor se Kabupaten Pemalang dinilai sangat strategis meningat sudah sangat mapan dan seniornya usia Ansor, sehingga sudah saatnya kader-kader Ansor dan Banser memperbaiki diri, berintegritas, berkualitas kader dan berkomitmen terhadap organisasi. Terlebih kader-kader Ansor Banser yang sudah lulus kaderisasi baik PKD atau PKL maupun Diklatsar atau susbalan dan seterusnya harus lebih baik lagi dibandingkan dengan anggota lain atau simpatisan Ansor Banser. Sudah saatnya semua pengurus Ansor itu “ngurusi” organisasi Ansor bukan malah menjadi “urusan” bagi ansor apalagi justru menjadi benalu bagi bagi kemajuan Ansor Kab. Pemalang. Kader ansor harus bisa menjadi cermin bagi kader-kader organisasi lainnya di Kabupaten pemalang. Terlebih dukungan SDM dari sisi kualifikasi di kepengurusan GP Ansor Pemalang ini sangat menjanjikan dan mumpuni tinggal mewujudkan ekspektasi dari para pendiri, senior dan alumni Ansor Pemalang terhadap kepengurusan PC GP Ansor Kab. Pemalang 2016-2020 ini direalisasikan.

Dalam kesempatan yang baik ini semoga di usianya yang sudah sangat tua kader-kader Ansor masa kini bisa mengisi kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk kebesaran Ansor, meminimalisir konflik internal pengurus, sudah saatnya ansor bersiap memasuki perubahan global di era modern seperti sekarang ini, sehingga organisasi Ansor sudah tidak lagi dipandang sebelah mata. Tantangan Ansor kedepan sudah semakin plural apalagi dengan maraknya rongrongan terhadap keutuhan NKRI, adanya sekelompok orang yang ingn mendirikan Negara Khilafah, banyaknya orang yang mudah mengkafirkan, menghujan bahkan meneror para Kyai-kyai yang sarat dengan ilmu agamanya justru hari ini menjadi bulan-bulanan di media sosial. Maka sudah menjadi komitmen Ansor dan hanya Ansor Banser lah harapan para kyai-kyai dan ulama untuk menjadi garda terdepan dalam mempertahankan keutuhan NKRI yang kita cintai bersama ini serta menjada marwah NU dan para Alim Ulama kyai-kyai sepuh kita. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi niatan tulus dan ikhlas dari Ansor Banser, serta hal ini menjadi amalan sholeh bagi Ansor Banser. Amin Ya Robal Alamin.

Wallahul Muwafiq ila aqwamittharieq

 

Selamat Hari Lahir Gerakan Pemuda Ansor ke-83 tahun 2017

“ Meneguhkan semangat kebangsaan, membawa khazanah Islam Nusantara untuk perdamian Dunia”

 

Siapa kita ? Ansor NU !!!

Pancasila ? jaya !!!

NKRI ? Harga Mati !!!

Nusantara ? Milik Kita !!!

Aswaja ? Aqidah Kita !!!

 

 

Refleksi Harlah Ansor ke-83

@mohamad_masruri

24 April 2017

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top