Antara Nabi Tuhan dan ‘nabi Istana’
Pdt. Indu. Y. Panggalo

Oleh: Pdt I.Y. Panggalo

Medikita.co memuat imbauan Dirjen Bimas Kristen dari Kemenag RI (29/04/2020) dan kemudian beredar di media sosial. Menurut saya, saran itu terhormat, layak dan patut diperhatikan. Terima kasih kepada beliau.
Tetapi perbedaan pandangan teologi yang tiba-tiba viral antarbeberapa pendeta itu perlu juga dilihat dengan bertanya: Mengapa Allah mengizinkan munculnya perbedaan teologi di antara beberapa pendeta di Indonesia beberapa waktu akhir-akhir ini? Sama seperti pertanyaan, mengapa Allah mengizinkan pagebluk virus corona?

Kebenaran hakiki hanya bisa kita dapatkan pada Alkitab itu sendiri. Sudah sejak Perjanjian Lama kita membaca perbedaan nabi utusan Tuhan dengan nabi bukan utusan Tuhan yang menyebut diri dan atau dipernabi oleh publik.
Di dalam Perjanjian Lama, kita lihat bahwa semua nabi utusan Tuhan menyampaikan firman yang cenderung memarahkan orang, pemerintah dan umat. Sampai ada dari mereka itu yang mengalami pengusiran, pemenjaraan dan penganiayaan. Di pihak lain, semua “nabi istana” senang dan selalu menyampaikan hal-hal yang mereka tahu menyenangkan telinga orang, pemerintah dan umat. Publik suka dengar. Mengapa? Karena ada kebutuhan hidup (finansial, relasi, keamanan, dsb.)

Beredarnya video yang berisi informasi tentang pernyataan (mungkin dianggapnya nubuatan) Pdt. Niko, yang katanya telah berjumpa langsung Tuhan Yesus (seolah-olah punya garis privilese komunikasi personal dengan Tuhan Yesus) dan mengatakan “diutus Tuhan Yesus” untuk menghentikan pagebluk virus corona, sama seperti Tuhan Yesus telah menghentikan badai topan di danau. Mungkin hal itu serangkaian dengan satu video yang juga viral tentang seorang perempuan dalam suatu KKR (?), yang juga mengatakan telah menerima penglihatan bahwa dia menyucikan dan mengutus Pdt. Niko untuk melakukan mukjizat.

BACA JUGA :  Ini Partai yang Lolos ke DPR RI Periode 2019-2024

Ketika informasi itu sampai kepada Pdt. Stephen Tong, beliau tidak berdiam diri dan membiarkannya. Naluri kependetaan beliau yang dibingkai rasa takut dan ketaatan kepada Alkitab sebagai Firman Allah, mendorong beliau tampil menegur dengan sangat keras dan terus terang (terbuka). Memang, Alkitab sangat tegas melawan ajaran sesat. Beliau tampil melawan ajaran yang berdasarkan paham dan penghayatan beliau tentang Firman Allah itu adalah sesat.

Soal melawan ajaran sesat, Rasul Paulus jauh lebih keras, tegas dan pedas. Rasul Paulus sampai menyebut penyebar ajaran sesat sebagai ‘anjing’. ‘Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu’ (Flp 3:2). Ketika Rasul Paulus berbicara soal adanya pihak yang juga memberitakan “injil lain”, yang mengacaukan jemaat Galatia, “yang sebenarnya bukan Injil” … “untuk memutarbalikkan Injil Kristus” (Gal 1:6-7), pernyataan Paulus justru terlalu keras: “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia”. (Gal 1:8)

Saya harus jujur mengakui bahwa teguran Pdt. Stephen Tong itu memang sangat keras. Saya sungguh dapat mengerti kalau ada pihak yang marah, tidak setuju dan kembali melawan dengan pernyataan yang tidak kurang kerasnya. Terus terang, sebagai seorang pendeta yang terus berdoa dan berusaha memahami Firman Tuhan di dalam Alkitab, saya merasa bahwa Pdt. Stephen Tong telah melakukan suatu misi pastoral dengan model menegur secara terus terang. Bagi banyak orang, mungkin itu tidak beretika. Merusak nama baik kekristenan. Tentu, Tuhan bisa saja memilih siapa pun dan memberanikannya tampil menegur orang yang tidak segan memberlakukan diri seperti Tuhan Yesus sendiri. Kali ini, orang itu adalah Pdt. Stephen Tong, namun bisa juga Tuhan memakai orang lain.

BACA JUGA :  Kebangkitan Kader Ditengah Pandemi

Alkitab sendiri memang telah membayangkan akhir zaman akan menampilkan banyak nabi dan “mesias” palsu (Matius 24, Markus 13, Kisah Para Rasul, surat-surat Paulus, surat2 Petrus, surat2 Yohanes) dan memerintahkan setiap orang percaya untuk: “Janganlah kamu percaya!”

Pertanyaan di bagian awal, mengapa Allah mengizinkan munculnya perbedaan teologi di antara beberapa pendeta di Indonesia beberapa waktu akhir-akhir ini?

Menurut saya, memang kita perlu berdoa dan bertanggung jawab untuk keutuhan pengikut Yesus, tetapi Alkitab juga memerintahkan pengikut Yesus untuk mengatakan salah kalau memang salah. Kebenaran pastilah akan nyata. Dan kita tunggu, kita yakin, pasti Tuhan menyatakan ajaran manakah yang benar dari antara ajaran-ajaran yang sedang kita dengar? Apakah ajaran yang suka menyenangkan manusia? Atau yang jujur dan berani menegur kita demi pertobatan dan anugerah?

Begitulah respons saya atas apa yang dianggap perdebatan yang sedang hangat di antara beberapa pendeta di Indonesia. Kita seharusnya tunduk kepada Alkitab untuk menilai setiap hal! Saya yakin bahwa Roh Kudus menuntun kita pada jalan teologi yang benar-benar Alkitabiah.

Karena itu, hal yang tidak boleh diabaikan dalam perdebatan teologi yang sedang terjadi itu ialah perintah Yesus sendiri untuk saling mengasihi dan saling mengampuni! Tidak ada cara lain!

Penulis adalah Pendeta Emeritus Gereja Toraja, Dosen STT INTIM Makassar dan Dosen Fakultas Teologi UKI Toraja