Borjuis vs Marhaen (Sikaya Lawan Rakyat Miskin)

OPINI, mediakita.co- Kata “ungu, tolol” dan kata yang lebih kotor yang sering diucapkan oleh Rocky Gerung (RG) hanya terjadi pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Seringkali kata-kata itu, langsung ditujukan kepada Presiden Jokowi. “Masuk gorong-gorong, celingak-celinguk, plongak-plongok” juga kata-kata yang sering dipakai oleh RG, dkk ini untuk Jokowi, dengan nada ejekan dan merendahkan.

Dalam beberapa kesempatan RG juga menceritakan bahwa dia lama hidup di Menteng. Oleh sahabat pengagumnyanya, Syahganda Nainggolan, RG juga disebut sebagai orang yang bergaul dengan orang-orang PSI (Partai Sosialis Indonesia).

“Menteng” dan PSI memang merupakan satu kesatuan, keluarga-keluarga elite yang pada masa orde baru bercokol dalam kelompok teknokrat, mafia Berkeley, kaki tangan IMF dan Bank Dunia, dan pemimpin perusahaan-perusahaan multinasional yang mengeruk kekayaan alam Indonesia (Freeport, Mobil-Exxon, INCO, Inalum, dan sebagainya). Tidak heran jika perusahaan-perusahaan multinasional ini berjaya pada masa orde baru dan tidak memberi keuntungan pada rakyat Indonesia. RG, menurut Nainggolan, bergaul dengan dan bergabung dalam keluarga-keluarga PSI-Menteng ini.

Di pihak lain, Joko Widodo adalah anak petani yang pernah menjadi korban penggusuran di pinggir Sungai Bengawan Solo, dari keluarga miskin sebagaimana kebanyakan rakyat Indonesia. Penampilan dan gaya bicaranya pun mencerminkan 100% orang berasal dari keluarga sederhana, kalau tidak disebut keluarga miskin. Yang jelas Jokowi berasal dari keluarga kalangan rakyat jelata.

Kelompok Menteng, darimana Rocky berasal, adalah keluarga-keluarga borjuis, keluarga-keluarga kaya, yang sudah lama memegang kendali kebijakan dan memegang pimpinan perusahaan-perusahaan multinasional di Indonesia. Sementara Joko Widodo berasal dari kalangan rakyat biasa, dari kalangan marhaen. marhaen menjadi presiden! presiden marhaen mengambil-alih perusahaan-perusahaan multinasional, menyetop ekspor bahan mentah, yang menjadi sumber utama kehidupan leisure dari kaum borjouis. Presiden Marhaen yang membangun infrastruktur darat, laut dan udara yang mempercepat mobilitas rakyat dan produk rakyat. Tentu fakta ini bertentangan dengan mimpi gaya hidup mewah dari kaum borjuis Menteng, yang menginginkan rakyat tetap naik andong di jalan kecil di pinggir sawah. Mimpi borjuis yang menjadi mimpi dan kemewahan Rocky dkk.

Bacaan Lainnya

Ekonom Deirdre (dulu Donald, laki-laki) McCloskey dalam bukunya “The Bourgeoise Virtues” memerikan dengan rinci tentang citra dari kaum borjuis yang melekat pada kapitalisme. Mereka hidup dari bisnis dan usaha yeng menggunakan tenaga budak, buruh murah, anti-serikat buruh, dan merasa satu-satunya kelompok yang beragama secara rasional. “Kami pebisnis dan birokrat/teknokrrat, bukan raja (feudal) dan petani.” “Kami berpendidikan atau intelektual, bukan buruh dan proletar yang tidak berpendidikan.” Itulah bagaimana kaum borjuis mencitrakan dirinya dan bagaimana mereka menyingkirkan petani, buruh dan proletar. Kaum yang bukan bagian dari mereka itu tolol, dungu, tidak punya gagasan dan “baj*****.”

Pernyataan dungu, tolol kepada Presiden Jokowi yang merepresentasi kaum marhaen, rakyat jelata, subaltern, juga adalah pernyataan dungu dan tolol terhadap rakyat, kaum marhaen yang mendukung Presiden Jokowi. Perrnyataan dan gaya bicara Rocky terhadap Presiden Jokowi itu. mencerminkan bagaimana kaum borjuis melihat pemimpin yang berasal dari kalangan marhaen, dari kalangan rakyat jelata. Kata-kata Rocky: dungu, tolol dan … terhadap Presiden Jokowi menunjukkan bagaimana kaum borjuis memandang rakyat, kaum Marhaen.

Salah satu politisi PDI Perjuangam baru-baru ini meninggalkan partainya, meninggalkan kaum marhaen, karna ingin bergabung dengan kaum borjuis bersama Rocky. Mungkin dia malu disamakan dengan marhaen, yang dianggap oleh kaum borjuis sebagai dungu, tolol dan miskin. Minyak wangi tidak ada pada kaum marhaen, cermin untuk menjaga penampinan tidak ada pada kaum marhaen. Silahkan gabung dengan kaum borjuis bersama Rocky. Silahkan memanggil Jokowi dungu dan tolol, dan rakyat pendukungnya juga dungu dan tolol.

Kaum marhaen mendukung calon Presiden dari kalangan marhaen, Ganjar Pranowo, sang pemberani dan pekerja keras yang siap menghadapi tantangan masa depan Indonesia, yang siap berjuang mensejahterakan rakyat Indonesia, yang siap mengantarkan Indonesia menjadi negara maju. Kaum Borjouis boleh bilang Ganjar “miskin gagasan,” tapi inspirasi dan gagasan bagi Ganjar jelas ada di hadapannya, di lingkungannya yaitu Marhaen-marhaen yang kokoh menjungjung nasionalisme, kebhinekaan dan Pancasila.

Pemilihan Presiden 2024 adalah memilih antara “Borjuis” melawan “Marhaen”; adalah pertarungan antara “Borjuis” melawan “Marhaen.”

Bersatulah kaum marhaen! Jangan biarkan kaum borjuis menindas dan memiskinkanmu.

 

Bogor, 25 Agustus 2024.

Oleh: Don K. Marut, Dewan Pakar DPP Jari Nusantara

Pos terkait