Bumbak dan Mbah Slamet: Geliat Seni Tradisi

LITERAKITA, mediakita.co – Seni tradisi Bumbak merupakan seni khas Desa Pulosari, Kec. Pulosari, Kab, Pemalang, Jawa Tengah. Ya, Bumbak adalah seni tradisi di lereng Gunung Slamet sisi utara, dan belum banyak orang yang tahu mengenai asal mula seni tradisi tersebut.

Saat ini, Seni Bumbak tidak bisa dilepaskan dari sosok Mbah Slamet, lelaki paruh baya yang sangat ramah dan murah senyum. Mbah Slamet adalah pelaku seni dan budaya Desa Pulosari yang sangat mengagumi dan sangat menghargai peninggalan peninggalan para leluhur. Karya yang dihasilkan sangat luar biasa. Seni yang terus bergerak hingga sampai ke generasi masa depan, dan tentang filosofi bagaimana menghargai anugerah Illahi.

Mbah Slamet adalah penemu dan pelaku musik tradisional peninggalan leluhur yang sangat langka di era yang serba digital ini. Ia sangat menghargai dan menjunjung tinggi karya peninggalan leluhur yang di Desa Pulosari sendiri banyak yang tidak tahu adanya peninggalan musik tradisional yang ada di desanya.

Bumbak Seni Spiritual

Bumbak merupakan musik tradisional, dan Bumbak sendiri menurut penuturan Mbah Slamet berasal dari kata Bum atau Bung, nama lain dari bambu. Dan Bak, adalah suara yang dihasilkan dari pukulan pada alat musik bambu tersebut.

BACA JUGA :  Bhabinkamtibmas Polsek Pulosari Amankan Penyaluran BSNT

Namun demikian, alat musik Bumbak yang sederhana dalam hal bentuk, jika ditelusur dari sisi proses pembuatannya menjadi sangat tidak sederhana. Mbah Slamet menuturkan, bahwa diperlukan ritual khusus untuk bisa menghasilkan Bumbak dengan kualitas yang baik.

Proses panjang bertahun-tahun, Mbah Slamet bisa mewujudkan cita-cita leluhur untuk memperkenalkan musik tradisional asli Pulosari ke masyarakat Kec. Pulosari khususnya. Ketekunan dan perjuangan Mbah Slamet dalam melestarikan warisan budaya dari leluhur membuahkan hasil. Dan, Mbah Slamet saat ini terus mengajarkan ke sebagian masyarakat yang perduli akan peninggalan sebagian sejarah leluhur.

Ajaran yang disampaikan melalui seni mencerminkan spiritualitas yang tinggi. Seperti dikatakan oleh Mbah Slamet, “Tiang gesang ning alam dunyo mergo Illahi nanging kudu emut karo leluhur sing wes gawe adab peradaban nang alam iki senajan wes balik karo Kanjeng Gusti Allah” (Orang hidup di dunia karena Illahi, sehingga harus ingat kepada leluhur yang sudah membuat adab peradaban di dunia meskipun sudah kembali kepada Kanjeng Gusti Allah-red).

BACA JUGA :  New Normal, Desa Mandiraja Pemalang Deklarasi Kampung Siaga Covid-19

Dengan seni Bumbak, Mbah Slamet mengisahkan bahwa musik yang sekarang didalami sebagai pakem musik tradisional asli Pulosari, ia mengembangkannya dari berbagai lirik, dari jaman ke jaman. Dan salah satunya di jaman perwalian, seperti lagu dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Dengan memainkan Bumbak, Mbah Slamet juga sering melantunkan sholawat dan kidung.

Seni Bumbak Menatap Masa Depan

Perjuangan leluhur dan segala peninggalan diwariskan ke generasi berikutnya, untuk menciptakan adab dan peradaban yang beradab. Demikian harapan Mbah Slamet, khususnya bagi generasi muda khususnya di Kec. Pulosari.

Nasib seni Bumbak di masa depan sangat tergantung pada generasi muda. Saat ini semua masih sangat bergantung pada sosok Mbah Slamet. Benar, bahwa tanpa perjuangan dan dukungan selama ini yang diberikan kepada Mbah Slamet memungkinkan kesenian tersebut masih bertahan di Desa Pulosari.

Namun sebagai warisan yang sangat berharga di kemudian hari terutama untuk generasi mendatang, hal tersebut merupakan tantangan. Dan, siapa di antara kita yang peduli pada seni Bumbak?

Penulis : Teguh Santoso