Demi Keadilan dan Kurangi Dampak Negatif Perubahan Iklim, Thamrin School Dorong Pemimpin Dunia Tetapkan Target Nol Emisi Sebelum 2050
Farhan Helmy, Kepala Sekolah Thamrin School (Foto: Hukumonline)

NASIONAL, mediakita.co – Thamrin School  melayangkan surat pernyataan kepada 40 kepala negara/pemerintahan peserta Leaders Summit on Climate 22-23 April 2021 lalu yang juga dihadiri Presiden Joko Widodo.

Surat pernyataan itu berisi desakan agar para kepala negara yang ikut dalam konferensi tersebut segera menetapkan target net-zero emission yang lebih ambisius, selambat-lambatnya tahun 2050.

Hal itu perlu dilakukan demi terwujudnya keadilan antar generasi dan mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim yang makin menambah keterpurukan kelompok rentan seperti dinyatakan dalam Paris Agreement. Yaitu anak-anak dan generasi mendatang, perempuan, masyarakat adat, penyandang disabilitas, kelompok miskin, dan kelompok lanjut usia.

Farhan Helmy, Kepala Thamrin School of Climate Change and Sustainability mengunkapkan bahwa apa yang disampaikan tersebut bisa jadi juga merupakan isu-isu yang dihadapi negara-negara lain, terutama negara-negara berkembang.

“Aspirasi yang kami ungkapkan tersebut sangat boleh jadi juga merupakan isu-isu yang dihadapi di berbagai negara lain, terutama negara-negara berkembang. Karenanya, kami berharap berbagai isu yang mengemuka ini menjadi perhatian sungguh-sungguh para pemimpin dunia,” ujar Farhan Helmy dalam, rilisnya kepada media yang juga diulas ulang dalam breafing media secara daring (29/4/2021).

BACA JUGA :  Kerja Keras Kemenlu Pulangkan WNI

 

Surat terbuka tersebut menurut Farhan telah dikirim kepada Presiden Joko Widodo dan Presiden Joe Biden pada Kamis petang, 22 April 2021. Presiden Amerika Serikat, Biden adalah tuan rumah pertemuan secara daring Leaders Summit on Climate yang dihadiri 40 Kepala Negara/Pemerintahan.

 

Menurut Farhan, isi dari surat terbuka tersebut merupakan hasil dari  Thamrin School Summit: Indonesia Civil Society View on Climate Crisis yang diselenggarakan secara daring pada 21 April 2021.  Acara tersebut dihadiri lebih dari 40 organisasi dan komunitas pemerhati lingkungan, akademisi, tokoh agama, dll yang memberikan pandangan-pandangannya secara langsung.

Berdasarkan hasil kajian multiperspektif tersebut Farhan Helmy mengungkapkan bahwa kita hanya punya waktu hingga tahun 2030 untuk memotong sekitar 45% efek rumah kaca dari total emisi di tahun 2010. Karena itu menurut Farhan sembilan tahun  yang sangat penting untuk mencapai target penyelamatan umat manusia dan seluruh penghuni Bumi.

Menghadapi masalah yang sangat serius ini menurut Farhan sangat dibutuhkan komitmen politik dari para pemimpin negara untuk mencapai sasaran global tersebut.

Ia juga menjelaskan bahwa ketersediaan waktu yang pendek dan ketat ini, tahun 2030 dan 2050 haruslah menjadi milestone penting bagi setiap negara untuk memenuhi sasaran bersama, dengan tetap memegang prinsip-prinsip common but differentiated responsibilities (CBDR) dan fair share.

Selain itu Farhan juga mengharapkan bahwa target yang ambisius ini hendaknya juga ditopang oleh skema yang memastikan alokasi berbagai sumber daya, yang memadai terutama untuk mendukung negara-negara berkembang dan berkerentanan iklim tinggi yang saat ini mengalami dampak yang paling parah dari pandemi dan di masa depan akan mengalami dampak yang lebih parah lagi dari perubahan iklim.

BACA JUGA :  Memantapkan Pemahaman Peserta, PSI Gelar Webinar Sekolah Kader, ini penjelasanya.

‘Selain komitmen politik yang sangat krusial dari para pemimpin untuk mewujudkan hal tersebut juga dibutuhkan komitmen pemangku kepetingan lainnya baik tingkat nasional maupun subnasional untuk menghadapi setiap krisis’ kata Farhan.

Sebagai informasi Thamrin School merupakan inisiatif multi-pihak untuk mendorong pemikiran kritis dan progresif tatakelola sumberdaya alam, lingkungan dan perubahan iklim yang adil, berkelanjutan dan berpihak pada kepentingan publik. Dengan focus pembahasan meliputi: Ekonomi politik, transformasi ekonomi, bisnis dan perubahan iklim serta  komunikasi strategik. (Prb/mediakita.co)