Disebut Desa Warungpring, Begini Asal-Usulnya!

PEMALANG, mediakita.co,- Warungpring adalah desa yang berjarak sekitar 40 km dari kota Kabupaten Pemalang atau sekitar 1 jam perjalanan menggunakan mobil.

Bicara tentang desa Warungpring, menurut para pendahulu, riwayatnya berasal mula dari areal hutan rimba, padang ilalang yang tak ada penghuninya.

Seiring perkembangan zaman, penduduk semakin bertambah, letak geografisnya terputus – putus antar gerombol pertanahan, dan letak lokasinya naik turun berliku-liku terhampar padang ilalang membentang dari utara barat ke selatan.

“Ketinggian dari permukaan laut + 590 m, sebelah utara gunung slamet”, ujar Kades Warungpring M. Yusuf ke Wartawan Mediakita.co, Selasa ( 23/11/2021).

ajibpol

“Riwayat sejarah sejak itu diperkirakan masa zaman kerajaan Mataram (Raja Amangkurat II), terakhir sampai masa perang pengeran Diponegoro kurang lebih dari abad 17-19 (1825-1830) dikejar-kejar bala tentara Belanda, yaitu pangeran Amangkurat II dan Mangkubumi, Untung Suropati yang lari sampai ke Tegal Arum yang tujuannya ke Cirebon”, lanjut Yusuf.

Bahkan, menurut cerita para sesepuh pada waktu itu, termasuk pengikutnya Amangkurat II singgah atau istirahat di daerah ini yang sekarang bernama Desa Warungpring.

Mereka akhirnya menetap di Warungpring, yang pertama masuk dari Selatan, di mberi nama nama Tegalharja, karena tujuan utama mau ke Tegal, naik ke Dusun Pamulian karena sebagian bala tentaranya pulang terus turun ke Gerombol tengah (diberi nama karangtengah).

BACA JUGA :  Pengacara senior Adnan Buyung Nasution meninggal

“Karang artinya pekarangan terus keutara diberi nama desa Keputihan,” kata Kades.

Karena semakin lama bertambah tambah penduduknya, maka lewat rembug masyarakatnya secara terbuka dibentuk suatu pemerintahan walaupun belum sempurna seperti sekarang.

Pusat pemerintahan di Dukuh karangtengah (gerombol terpencil/ komplek utara SDN 05 Warungpring sekarang).

Kepala Desa definitif sampai sekarang turun ke 12 (kecuali PJS 2x).

Susunan pemerintagan pada zaman itu antara lain : lurah, bau, polisi desa, lebe, kebayan, dan ulu-ulu.

Berikut nama-nama kepala desa Warungpring :

1). Kerta Laksana
2). Jaya Laksana
3). Kerta Diwangsa
4). Bakhri
5). H. Ashari (zaman Belanda)
6). H. Sirad (zaman Belanda)
7). Dakup
8). Slamet  2 PJS Rasimun dan Darsono
9). Anwar Supadi
10). Roesbad
11). Untung
12). Saeful Azam

Mengapa diberi nama Desa “Keputihan” ? sebab konon riwayat yang berdomisili di Desa ini seorang ulama pengikut Pangeran Mangkubumi, Pasukan dari Pangeran Antawirya / (Pangeran Diponegoro). Akhirnya menetap di desa ini dengan nama Desa Keputihan.

“Adapun nama Warungpring, karena orang tersebut bersama keluarga disini sambil usaha kecil-kecilan warungan jajanan (dari bodin) dan mereka yang singgah karena warung tersebut semuanya dari bambu lalu masyarakat tersebut memberi nama Warungpring”, tambah Kades.

BACA JUGA :  Update Corona 5 Maret : Sehari Tambah 181 kasus, Total 2.273 orang, 198 Meninggal. IDI sebut 18 Dokter Gugur

“Keputihan artinya suci, orang tersebut seorang ahli syareat agama Islam konon dari daerah Wonosobo yang sampai sekarang ciri khas desa Warungpring kaumnya beragama Islam. Adapun daerahnya sekarang terbagi menjadi 5 perdusunan yaitu:

1). Dusun Warungpring
2). Dusun Gombong
3). Dusun Karangtengah
4). Dusun Pamulian
5). Dusun Tegalharja

Sampai sekarang masyarakatnya mutlak beragama Islam, patuh sama para ulama / kyai. Mata pencaharian penduduk bertani, berdagang, bidang jasa dan Pegawai Negeri.

Kades Warungpring, M.Yusuf menyebutkan, untuk mata pencaharian warga kebanyakan petani dan buruh, untuk tingkat ekonomi kebanyakan masih tingkat menengah kebawah, Karena dari jumlah KK 5570  yang kategori mampu itu sekitar kurang lebih 1000 KK.

“Dari segi sejarah keunikan desa Warungpring adalah bekas kerajaan termasuk pendopo balai desa karena masuk dalam sejarah, Sehingga tidak boleh dirubah bentuknya.” Terangnya.

Usia desa ini diperkirakan 4 abad, dan pendidikan masyarakatnya cukup maju, dari TK sampai banyak yang perguruan Tinggi.

Keadaan alam/bumi seisinya potensi letak geografis dengan ketinggian 590 m ada : hutan, sawah, ladang, air cukup, sumber daya manusia sebenarnya cukup kuantitatif, yang perlu dipacu adalah kualitas manusia selaku pelaku pembangunan masyarakat perdesaan khususnya generasi usia produktif. Demi terwujudnya masyarakat mandiri dan sejahtera.

Penulis : Teguh S