Dolar Naik, Harga Tempe di Pasar Moga tetap Normal
Siti Nurhayati sedang menjajakan tempe di Pasar Moga, Pemalang. kamis (1/10). Foto: Ikhrom

MOGA, mediakita.co – Kondisi perekonomian yang kian tidak menentu disertai nilai tukar rupiah melemah terhadap Dolar AS. membuat sejumlah pedagang di pasar mengeluh,

Salah satunya Siti Nurhayati (50) penjual tempe yang mengeluhkan harga kedelai mengikuti naiknya harga dolar. “Memang sekarang semua harga bahan pokok  naik, termasuk harga kedelai, yang dulu 60ribu per-kuintal, tapi sekarang mencapai 70ribu per-kuintal, bahkan cenderung terus naik.” Keluhnya. Kamis (2/10).

“meski harga kedelai naik, tapi saya tidak menaikan harga tempe-nya, kalau saya naikan harganya malah nanti tidak ada yang beli.” Ungkapnya kepada mediakita.co, kamis, (1/10).

Untuk mensiasati kondisi seperti ini, Siti Nuryati melakukan terobosan dengan cara memperkecil ukuran tempe yang Ia jual.”cara ini supaya tidak merugi besar,” katanya, sambil menunjuk arah salah satu tempe.

Dia menjelaskan, sebelum harga kedelai naik satu plastik penuh isi tempe, “tetapi saat ini dikurangi sedikit.”Jelasnya

Kendati demikian, dengan usaha mengurangi ukuran tempenya tersebut tidak membuat pendapatanya sama seperti sebelumnya yang rata-rata 150ribu perhari. “kini omsetnya menurun lebih dari 20%.” katanya.

BACA JUGA :  Desa Cikendung Pulosari, Berdzikir dan Bermunajat Kepada Allah Swt dipimpin Langsung Ulama Kharismatik Abah Nur Salim Gondrong

“Iya sekarang untuk mendapat penghasilan 150ribu per-hari saja susah, paling-paling dapat 120ribu sudah Alhamdulillah. Itupun belum dipotong biaya produksi, transport dan biaya lainnya. Jadi kalau dihitung pendapatan bersih tiap hari kira-kira 70 ribu.” Pungkasnya.

Pedagang yang juga asal Randudongkal, Pemalang ini berharap agar kondisi perekonomian bisa pulih seperti semula, minimal harga kedelai tidak semakin naik supaya penghasilannya bisa bertambah dan kebutuhan sehari hari dapat terpenuhi dengan baik. (Ikhrom/Ed:Mas Iben).