Ekonomi Politik Love and Hate Chimerica Bretton Wood II (Bagian Kedua)
http://wannapik.com

OPINI, mediakita.co – Paruh pertama tahun 1970an strategi geopolitik dan ekonomi Amerika Serikat

mengalami perubahan fundamental. Pertama: kunjungan Presiden Richard
Nixon tahun 1972 ke Beijing dan bertemu Mao Tse Tung.

Ada beberapa alasan mengapa kunjungan bersejarah tersebut dilakukan.
Pertama: perang Vietnam yang memakan biaya sangat besar telah menguras
anggaran belanja AS; kedua: merangkul China sekaligus mengisolir Uni Soviet
dan melemahkan aliansi Sino-Sovyet; ketiga: lebih dari 50 ribu tentara AS
tewas selama perang tersebut; keempat: protes generasi muda AS yang
menjalar ke seluruh dunia dan munculnya kekuatan kiri baru, New Left; kelima:
tekanan biaya produksi industri manufaktur karena tingginya upah buruh di AS
dan negara industri lainnya mendorong relokasi industri ke luar negeri.

China merupakan pilihan utama dan dinilai sebagai negara yang memiliki
potensi besar untuk menerima relokasi industri. The New International Division
of Labour, Pembagian Kerja International Baru dikenal dalam teori
perdagangan internasional.

Berbeda dengan negara negara sedang berkembang lainnya yang
menggunakan militer sebagai faktor stabilitas politik, peran Partai Komunis
China oleh para pemikir barat dinilai merupakan faktor penting untuk stabilitas
politik. Mereka yakin, setelah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
terciptanya kelas mengenah, China akan memasuki proses demokratisasi.
Peran Partai Komunis China berangsur-angsur akan surut. Selanjutnya China
akan terintegrasi ke dalam system kapitalisme internasional dan menerapkan
demokrasi liberal.

Jadi jangan heran, jika di negara-negara lain Partai dan ideologi Komunis dibasmi
habis, di China justru dimanfaatkan untuk kepentingan akumulasi modal dan
peningkatan laba industri barat. Jumlah penduduk China sebesar 1,5 milyar
lebih merupakan potensi pasar tenaga kerja sekaligus pasar produk dari negara industri yang luar biasa besar untuk relokasi industri dari barat yang sudah
sunset.

Di sisi lain, China yang sebelumnya menutup diri dari dunia internasional dan
mengecam system kapitalisme, berubah 180 derajat dengan menerima modal
asing dan mengintegrasikan diri kedalam syatem kapitalisme internasional.
Tekanan akan kebutuhan teknologi dan perluasan lapangan kerja di China pada
akhirnya mendorong berlangsungnya pendekatan untuk kerjasama dengan AS
dan sekutunya.

Love Story antara China dan AS, Chimerica berlangsung mulus. Lihat tulisan
saya mengenai The End of Love Story Chimerica.

Hal kedua yang penting dicatat pada perubahan strategi geopolitik dan
ekonomi AS adalah diakhirinya kesepakatan Bretton Wood I oleh Richard
Nixon yang memutuskan secara sepihak dilepaskannya nilai dollar yang terkait
dengan cadangan emas.

Neraca perdagangan AS dengan Eropa Barat dan Jepang mengalami defisit dan
biaya perang Vietnam yang sangat besar menyebabkan jatuhnya nilai dollar
terhadap emas yang sama belumnya ditetapkan sebesar 35 once per satu
dollar. AS mengalami defisit perdagangan dan juga defisit anggaran.

System Bretton Wood II

Jika kesepakatan Bretton Wood I bertumpu pada nilai dollar yang terkait emas
dan setelah defisit ganda terjadi, maka ambruknya system Bretton Wood I.
Nilai tukar dollar dibiarkan mengambang. Tergantung dari permintaan dan
penawaran.

BACA JUGA :  Love Story The End of Chimerica With Covid-19 Cocktail to The Next International Order I

Untuk mempertahankan hegemoni ekonominya, AS memperkuat peran bank
sentral, The Fed yang akan mengatur mekanisme pergerakan modal
internasional dan peran pasar saham internasional di Wall Street.

Melalui mekanisme tingkat suku bunga acuan yang ditetapkan The Fed, Bank
Sentral di negara-negara industri barat seperti Central European Bank, Bank of
England, Bank of Japan, dan negara2 lainnya mengikuti apa yang dilakukan The
Fed. Arus keluar masuk devisa di seluruh dunia dengan demikian terkontrol
dengan baik. Seperti sebuah bejana berhubungan dalam ilmu fisika.

Demikian juga nilai tukar mata uang setiap negara tergantung dari mekanisme
tersebut, termasuk kebijakan expor impor yang juga menentukan cadangan
devisa setiap negara. Misalnya kebijakan devaluasi mata uang domestik
terhadap dollar akan mendorong peningkatan ekspor dan daya saing produk
dan cadangan devisa. Namun di sisi lain muncul ancaman dari sisi semakin
mahalnya harga produk impor dan tekanan inflasi dalam negeri.

Naik turunnya suku bunga acuan The Fed selain itu mendorong gairah pasar
saham di Wall Street. Mekanisme ini menghidupkan pergerakan modal untuk
perusahaan-perusahaan dari seluruh dunia yang terdaftar di bursa saham New York, New
York Stock Exchange dll. Bahkan berkembang semakin meluas jadi ajang
spekulasi yang semakin liar dan menyebabkan krisis financial 2007-2008. Istilah
Casino Capitalism menjadi populer.

Love and Hate Chimerica dan Bretton Wood II

Politik pintu terbuka China mendorong terjadinya arus relokasi industri
besar-besaran dari negara-negara industri barat, termasuk Jepang, Taiwan, Hongkong,
Korea Selatan dan Singapura ke wilayah pantai Timur China.

Perekonomian China mengalami pertumbuhan rata-rata 10% selama lebih dari
satu dasa warsa. China berubah menjadi pabrik dunia dan mengekspor hasil
industri manufaktur dengan harga rendah. Perkembangan ini memberikan
keuntungan bagi China dan negara-negara Barat.

China berhasil menciptakan empat ratus juta lebih lapangan kerja baru,
penurunan angka kemiskinan dan transfer teknologi dan know how dari
negara-negara industri yang menanamkan modalnya di China. Di sisi lain negara-negara
industri menikmati produk barang konsumsi dari China dengan harga murah.
Rendahnya produk industri yang diimpor dari China turut membantu negara-negara
Barat menekan tingkat inflasi di sana. Masa ini bisa kita namakan bulan madu
hubungan China dengan AS dan negara barat lainnya.

Pengaruhnya terhadap perkembangan finansial Amerika

Ekspor China ke seluruh dunia berarti juga meningkatkan cadangan devisanya
yang mencapai 3 triliun dollar lebih. Hal tsb disebabkan rendahnya upah buruh
dan rendahnya nilai tukar mata uang China, Yuan dengan dollar AS yang dinilai
tidak sesuai dengan mekanisme pasar, alias dimanipulasi, seperti yang pernah dilakukan Jepang dan Korea Selatan. Selain itu diterapkannya kebijakan
perdagangan luar negeri AS terhadap China melalui bea masuk yg rendah dan
longgarnya non tariff barrier.

China yang mengalami surplus devisa mau tidak mau harus menempuh dua
cara, agar surplus devisanya bermanfaat dan membawa keuntungan. Salah
satunya adalah membeli surat utang negara AS, treasury bond. Jumlah dana
yang diinvestasikan di AS lebih dari 1,1 triliun dollar.

BACA JUGA :  Institut Sarinah mendukung percepatan Pembentukan Permendikbud untuk Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di PT

Dana yang diinvestasikan di treasury bond AS digunakan untuk menutup defisit
anggaran pemerintah AS dan sebelum terjadinya krisis finansial 2007-2008
disalurkan ke dalam program untuk pembangunan perumahan untuk golongan
menengah ke bawah. Waktu itu dikenal istilah NINJA Credit, artinya kredit bagi
mereka yang juga masuk kategori No Income No Job No Asset.

Kredit dari pemerintah AS disalurkan ke perbankan dan kemudian ke
konsumen. Sementara itu surat jaminan hutang konsumen NINJA diperjual
belikan di bursa saham dan nilainya semakin meningkat melebihi nilai rumah
yang dijaminkan. Gelembung spekulasi ini terus membesar dan akhirnya
meletus menjadi krisis finansial. Lihat dampak dari subprime mortgage.

Krisis finansial ini menyebabkan bangkrutnya perusahaan sekuritas besar di AS,
seperti Lehman Brothers dll. Untuk mencegah terjadinya domino efek,
pemerintah AS turun tangan menyelamatkan perbankan besar agar tidak
bangkrut. Too big to be fail. Mereka diberi suntikan dana besar. Bailout, dana
talangan, dari pemerintah AS dan dimungkinkan melalui penurunan tingkat
suku bunga acuan The Fed sampai ke tingkat terendah. Namun langkah
kebijakan suku bunga rendah tidak mampu meredam krisis finansial yang juga
merembet ke Uni Eropa. Negara-negara anggota UE yang terkena krisis utang disebut
PIGS States, Portugal, Italia, Greek dan Spain.

Relokasi Industri Automotif

Salah satu sektor industri terpenting AS adalah industri otomotif. Tingginya
upah buruh mendorong industri otomotif AS melakukan relokasi ke negara
berupah rendah. Salah satu negara yg mendapat keuntungan dari relokasi
industri ini adalah Meksiko. Selain upah buruh rendah, insentif dari pemerintah
Meksiko dan berbagai pembebasan pajak, juga karena letaknya yang dekat
dengan AS.

Jadi ada berbagai faktor yang menyebabkan kemunduran perekonomian AS:
defisit neraca perdagangan dan defisit anggaran yang semakin besar; relokasi
Industri sunset ke negara2 berupah rendah dan menyebabkan terjadinya
lonjakan angka pengangguran, krisis financial akibat subprime mortgage dan
perkembangan cepat teknologi 4.0.

Disrupsi teknologi ini turut meningkatkan angka pengangguran. Sekitar 40 juta
warga AS menjadi pengangguran. Krisis ekonomi dan finansial ini
mempertajam polarisasi warga AS, terutama antara warga kulit putih dan
warga Afro Amerika, Latino dan kaum migran lainnya. Masyarakat AS terbelah.

Tak pernah terbayangkan proses ini akan terjadi begitu cepat. Apakah nasib AS
di abad ini akan mengikuti jejak Uni Sovyet yang mengalami implosion? Pakar
geopolitik dan ekonomi memang telah memprediksi akhir dari hegemoni AS.
Seperti yang diprediksi Paul Kennedy, Fareed Zakaria, Helmut Schmidt dan
juga Emmanuel Todd dari Perancis yang dengan tepat memprediksi ambruknya
imperium Uni Sovyet.

Bogor, 16 Februari 2021

Suchjar Effendi (Analis Ekonomi Politik tinggal di Bogor)