Ini Lima Bukti Quraish Shihab bukan Syiah

JAKARTA, mediakita.co– Prof Quraish Shihab dikenal  sebagai pakar tafsir. Salah satu karya monumentalnya yakni Tafsir Al-Mishbah. Kalo secara bahasa sih, Al-Mishbah berarti lampu. Kenapa ya beliau namain tafsirnya make nama Al-Mishbah. Kalo saya boleh sotoy, mungkin biar para hati para pembacanya biar terang seperti lampu. Alhamdulillah, saya sudah mengoleksi tafsir beliau, walau baru 7 jilid. Itu pun nyicil-nyicil belinya, hehe. Bahkan, beberapa kali pertemuan, saya pernah ngaji langsung di masjid dekat rumah beliau.

Akhir-akhir ini, profesor jebolan Universitas Al-Azhar Kairo sering dituduh Syiah. Namun tuduhan-tuduhan miring itu telah diklarifikasi olehnya. Mungkin mereka yang menuduh itu belum pernah baca Al-Mishbah-nya Pak Quraish kali, ya?. Jadi hatinya peteng (gelap). Nih, saya 5 argumen beliau itu bukan Syiah. Perhatikan baik-baik, ya!

1. Tuduhan Itu Bersifat Politis
“Labelisasi Syiah terhadap Pak Quraish Shihab bukan hal baru. Kita bisa lihat, pada tahun 1997 beliau diangkat sebagai Menag di Kabinet Soeharto, tudingan Syiah pun santer sekali pada waktu itu,” seperti disampaikan Pak Mukhlis Hanafi dalam kompasislam.com. Tudingan Syiah yang disematkan ke beliau santer kembali pada Pilpres 2014 lalu.

Pasalnya, saya lihat beliau mendukung salah satu kandidat capres tertentu. Menurut saya sih wajar aja lah dukung-mendukung itu. Daripada golput, hayo?. Nah, jelaskan, ada kepentingan-kepentingan politis tertentu labelisasi Syiah kepada beliau. Makannya, hati-hati ya melabel orang! MUI ngelabel makanan aja harus hati-hati, apalagi ngelabel orang, bo’!

BACA JUGA :  Berwisata ke Lamongan, Ini Tempat yang Wajib Anda Kunjungi!

2. Tidak Pernah Mencaci Maki Sahabat
Saya sudah membaca beberapa buku Pak Quraish, dan bahkan mengoleksinya. Memang betul, beliau sering mnegutip beberapa pendapat tokoh Syiah, seperti Thabathabai, bahkan tokoh Muktazilah. Namun, saya kok belum pernah menemukan pernyataan-pernyataan beliau yang mengecilkan sahabat dalam bukunya. Kalo Syiah tulen, kayaknya berdosa gimana gitu kalo ga nyaci maki sahabat tertentu, khususnya Khulafa Rasyidin. Nah, kalo Pak Quraish mah ga pernah kok nyaci maki sahabat. Percaya deh sama ana, akhi dan ukhti!

3. Tidak Melakukan Ritual Ala Syiah
Salah satu keyakinan Syiah adalah mempercayai konsep imamah, yaitu sebuah keyakinan yang menyatakan bahwa Allah Swt. melalui Nabi Saw. telah mengangkat orang-orang yang memiliki kualitas tinggi untuk menjadi pemimpin umat setelah wafatnya Nabi Muhammad, sebagaimana dikutip dari alhassanain.com. Dalam wawancara dengan Harian Republika, Pak Quraish juga menyatakan bahwa beliau tidak pernah shalat di batu karbala dan menangguhkan buka puasa selama 10 hingga 15 menit dalam bulan Ramadan. Kalo akhi dan ukhti ga percaya, coba deh selidikin sendiri.

4. Mencintai Ahlulbait Belum Tentu Syiah
Mungkin antum perlu tahu juga beberapa lembaga Syiah terbesar di Indonesia, seperti ICC, YAPI Bangil, IJABI, ABI, dan OASE. Mungkin antum perlu juga baca 5 lembaga tersebut dalam versi lengkapnya di link ini, http://www.datdut.com/waspadai-lembaga-syiah/ . Nah, akhi dan ukhti fillah, antum semua perlu tahu juga bahwa yang identik dengan Ahlulbait itu tidak mesti Syiah.

BACA JUGA :  Peringati Hari Anak, Ini Cara Atasi Mitos "Anak Disunat Jin"

Emang apa sih Ahlulbait itu?. Ahlulbait itu adalah semua anak cucu Nabi Muhammad. Beliau punya anak bernama Fatimah yang dinikahi oleh Sahabat Ali. Kemudian, Fatimah melahirkan Sayyidina Hasan dan Husein. Nah, keturunan Ahlulbait ini dinisbatkan dari keduanya.

Sehingga di Indonesia terdapat banyak marga yang bersambung nasabnya dengan Hasan dan Husein. Ana sebut misalnya Assegaf, Yahya, Al-Kâf, dan termasuk Shihab. Nah, nama Pak Quraish belakangnya ada Shihabnya kan? Berarti beliau masih keturunan Rasulullah. Apakah salah kalo kita mencintai Ahlulbait? Tentu ngga, dong!

5. Sosok Moderat yang Difitnah
Menurut ana, Pak Quraish itu adalah sososk ulama akademis yang moderat. Ciri-ciri ulama moderat itu mudah kita identifikasi, akhi, ukhti. Apa coba, tau ga? Ulama yang menjadikan agama itu sebagai pemerasatu umat, bukan sebagai alat kepentingan popularitas pribadi, apalagi golongan tertentu. Nah, itu namanya ulama moderat.

Ana saranin antum harus selektif dalam memilih-milih pendapat ulama, apalagi antum cuma ngutip atau baca dari Mbah Google. Beliau menulis buku Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? untuk tujuan memperasatukan umat yang saat ini sedang terkena sindrom fanatisme mazhab, bukan berarti beliau Syiah. Pahami baik-baik, ya akhi, ukhti fillah!

Sumber: Ibnu Harish/Datdut.com