Jejak Sejarah Pangeran Purbaya “Banteng Mataram” di Pemalang Sejarah : Babad Tanah Pemalang
Gapura Pintu Masuk Wisata Pangeran Purbaya Desa Surajaya

oleh : Bambang Mugiarto

Bagian 2 (Tamat) 

Purbaya juga tak habis pikir, hampir semua ilmu yang diajarkan kakeknya, Ki Ageng Giring juga masih bisa diihalau dengan jurus-jurus yang dimiliki Paselingsingan. Ia masih terngiang pesan ibunya mengapa harus belajar ilmu kanuragan dari eyang Giring.

Suatu ketika ibunya bercerita, bahwa ayahnya, Ki Ageng Giring adalah sosok yang sangat disegani. Dikenal sebagai tokoh berilmu tinggi. Karena itulah maka Ki Ageng Giring selalu menjalin hubungan persahabatan dengan Ki Ageng Pemanahan. Karena keduanya sering bersama-sama menimba ilmu kanuragan. Dan Keduanya, menurut ibunya, masih keturunan dari Kerajaan Majapahit. Ki Ageng Giring adalah keturunan Brawijaya IV, sedangkan Ki Ageng Pemanahan masih keturunan dari Brawijaya V.

“ Paselingsingan, kau memang kesatria yang digjaya dan pilih tanding”, katanya dalam hati.

“Kau memang hebat kisanak, tapi tidak mungkin bisa mengelahkan aji-aji pamungkasku nanti, tunggu saja Paselingsingan”, ungkapnya mendesah, tapi mulutnya nampak sedikit meringis menahan sakit karena luka dalam dan meredam kekesalannya dalam hati.

Ia membalikan badannya. Nampaknya ia begitu gelisah, wajahnya pucat, hanya karena kesaktiannya, maka wajah ketangguhannya tak terkalahkan oleh luka dan sakitnya. Seharian ia bertarung habis-habisan, hahkan dari beberapa hari yang lalu. Ia sejatinya sangat kelelahan. Dikeluh dan gelisah hatinya yang tak terucap, Purbaya mencoba menenggelamkan seluruh angan dan risau hatinya yang terus bergelayut dihatinya. Ia sandarkan seluruh raganya kepada malam yang bersolek dengan kunang-kunang, untuk menghentikan percakapan dihatinya. Demi cintanya kepada bumi Mataram yang menonggak didadanya, ia tawarkan seluruh jiwa dan raganya. Ia sadar, masih ada jalan panjang yang membentang di esok hari, jalan menuju padang pertarungan penuh misteri yang harus ditaklukan demi memegang titah raja, sang Panembahan Senopati, ayahnya  !

Paginya, seorang prajuritnya melaporkan keberadaan Paselingsingan. Menurut informasinya, lawan tandingnya berada ditepi hutan jati di areal perbukitan sebelah barat. Hanya melewati beberapa gundukan arah barat jalan. Paselingsingan terluka cukup parah dan sengaja disembunyikan oleh prajurit yang mengawalnya. Kabarnya, seorang tabib bahkan sengaja didatangkan dari Cirebon untuk mengobati luka dalamnya. Disini, Purbaya mendapati bahwa banyak dari serangan-serangannya, dan segala ilmu yang digunakannya kemarin benar-benar bekerja. Tapi ia juga mendapati bahwa Paselingsingan ternyata masih bisa bertahan hidup dan tidak lama lagi tentu akan kembali bertarung denganya. Dan untuk memastikannya, Purbaya harus melakukan kontak batin agar bisa menemukan isyarat-isyarat-nya sendiri, untuk mengenali situasi sebenarnya.

Dua hari kemudian, ketika Purbaya sedang melakukan kontak batin dengan alamnya untuk ketujuh kalinya, ia mendapati Paselingsingan sudah tidak ada ditempatnya. Ia merasa sudah saatnya harus kembali memulai pertandingan ini. Ia akan tetap berjuang untuk mengalahkan Paselingsingan. Karena menurutnya, mengalahkan Paselingsingan menjadi sebuah tujuan cukup berharga diperjuangkan. Setiap prajurit yang bisa mengemban titah raja sebesar ini, patut memperoleh seluruh keyakinan dan keteguhan segenap usahanya. Dan untuk menunjukan bahwa ia mengembannya dengan seluruh keteguhannya, untuk menunjukan betapa pentingnya menjaga martabat Mataram, ia akan melakukan semua yang dimilikinya, seberat apapun dengan pertaruhan apapun, bahkan dengan nyawanya.

Ia sadar, pertarungan kali ini pasti lebih berat karena selain secara fisik telah ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, pasti akan menjadi pertarungan habis-habisan. Pertarungan dengan ilmu-ilmu yang lebih dahsyat dari yang telah dikeluarkan sebelumnya. Ia sendiri tengah menyiapkan seluruhnya. Seluruh ilmunya, tenaga dalamnya, seluruh ajian sakti andalan berikutnya, baik yang ia peroleh dari eyang dari ibunya- Ki Ageng Giring maupun eyang dari Ayahnya Ki Ageng Pemanahan.

Sebelumnya, Purbaya belum pernah menggabungkan seluruh ilmu yang dimilikinya. Namun saat ini, sudah saatnya ia harus melakukannya agar semua segera cepat berakhir. Paselingsingan harus segera dihentikan langkahnya. Baik dengan cara menyerah atau dengan kematiannya sekalipun, jika itu memang harus terjadi.

“Ampun yang mulia, apakah paduka benar-benar akan kembali mencari Paselingsingan ?”, tanya seorang prajurit dari balik badannya yang baru selesai menyiapkan kudanya.

“Iya” jawabnya tegas tanpa menoleh sedikitpun.

“Aku harus bisa mengalahkan Paselingsingan. Dan Aku harus segera menghadap Sultan Cirebon secepatnya, karena itu titah raja yang harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya”.

Sesaat terdiam. “Paselingsingan yang telah menghalang-halangi langkahku. Dan itu artinya dia harus disingkirkan,” katanya melanjuttkan.

Pangeran Purbaya sudah diatas kuda. Ia bergerak secepat kilat kearah barat mencari Paselingsingan. Semua prajurit dan abdi dalem bergegas mengikutinya. Mereka semua tau bahwa setiap kali Pangeran Purbaya melakukan tugasnya, ia akan melakukan apapun untuk menyelesaikannya. Bagaimanapun, itulah yang diyakini sebagai seorang kesatria yang bertanggung jawab. Ia punya tujuan yang jelas saat ini, untuk menyingkirkan orang yang menghalangi dalam melaksakan tugasnya. Ia punya tujuan yang jelas, untuk menghadap Sultan Girilaya. Ia punya tujuan yang jelas, untuk menagih upeti kepada Sultan Cirebon itu. Mereka dengan sabar mengikuti Purbaya sampai diujung barat hutan jati. Tempat dimana Paselingsingan katanya sempat beristirahat disitu.

Diantara semak-semak pohon jati, nampak orang-orang berduyun-duyun melintas didepan dan menghdangnya. Paselingsingan, salah satu dari mereka, walaupun dia nampak sedikit berbeda dengan dengan waktu bertanding sebelumnya, matanya menatap lurus ke depan. Ada dua pria tua dan satu wanita muda dibelakangnya. Semua mengenakan baju berwarna putih, ada bekas bercak tanah dibajunya. Selain mereka, ada seorang lelaki tua dengan memegang tongkat berkepala harimau. Mereka serempak mundur beberapa langkah, ketika Paselingsingan memberi isyarat dengan tangan kanannya. Tak ada kalimat apapun keluar dari mulutnya. Lagi-lagi, datang suara angin yang memusar menerbangkan daun-daun kering dibawah pohon. Angin yang menyerupai badai kecil itu meliukan pepohonan, menggoyang dan merontokan dahan dan ranting.

Purbaya meloncat dari kudanya. Secepat kilat kedua kakinya telah memasang kuda-kuda. Ia menempelkan kedua tangannya didepan dadanya seperti orang menyembah. Ia sedang mengerahkan seluruh energi ilmu andalannya untuk digabungkan menjadi ilmu pamungkasnya. Ia sadar, bahwa ilmu lawan tandingnya sekarang kelihatan lebih berlipat ganda secara mengejutkan. Begitu seluruh energi ilmunya telah menyatu dalam satu kekuatan, ia menggeram, mendorong kedua telapak tangannya ke arah Peselingsingan yang sedari tadi sudah lebih dulu mengeluarkan jurus anginnya.

Semua bala pasukan dari dua kubu hanya menyaksikan dari kejauhan dengan wajah tegang. Mereka sadar pertarungan habis-habisan ini sudah menjadi ajang adu ilmu kanuragan yang tak biasa lagi. Keduanya sudah bertarung dengan mengerahkan seluruh ilmu dan aji pamungkasnya. Hidup dan mati sudah menjadi ketentuan mereka dalam pertarungan ini.

Glendung !!!

Taaar…!

Suara-suara seperti petir dan ledakan dahsyat terus menggelegar mengguncang langit dan bumi hutan jati itu. Terlihat mereka berdua nampak sama-sama terdorong kebelakang. Meski hanya beberapa langkah, tapi gerakan kakinya sempoyongan. Dari mulut Paselingsingan mengalir darah segar. Purbaya sendiri terhuyung-huyung membungkuk kesakitan sambil memegang dadanya. Dengan tertatih-tatih, mereka berdiri saling pukul, saling tendang dan seterusnya dari siang hingga matahari terbenam. Mereka terus bertarung dan tidak mau berhenti. Sesekali mereka nampak terjatuh, tersungkur di tanah secara bergantian. Dengan tertatih-tatih, mereka mencoba bangun lagi, tapi ambruk lagi. Matanya saling tatap dan saling menuding.

“Kau memang hebat Pangeran!”

“Kau sungguh luar biasa Kisanak,” jawab purbaya dengan suara parau menahan sakit.

Keduanya terkapar tak berdaya. Beberapa orang dari kubu masing-masing mencoba melerai dan menolongnya. Tapi kedua kesatria itu menolaknya. Keduanya masih berusaha bangkit dan menyerang, tapi luka ditubuhnya sudah tak kuat menahan beban tubuhnya.

Berhenti!!!

Kata seorang lelaki paruh baya yang datang tiba-tiba dari balik kegelapan.

“Sudah, sudah berhenti sampai disini saja pertarungan ini”, katanya sambil tergopoh berjongkok ditengah, diantara dua tubuh kesatria yang terkapar di atas tanah. Kedua tangannya memegang pundak keduanya. Kedua kesatria itu nampak mengangkat kepala dan kedua bola matanya memandang lelaki yang suaranya terdengar begitu berwibawa.

Tujuh hari lalu, salah seorang penasehat Paselingsingan telah mengutus prajurit terbaiknya untuk melaporkan peristiwa ini kepada Sultan Cirebon. Mendengar pertarungan yang sama kuat dan tak kunjung usai, Sultan Girilaya mengutus menantunya Elang Sutawijaya menyusulnya ke medan tempur untuk melerainya.

Astagfirullahaladzim

Elang Sutawijaya merasa datangnya terlambat melihat keadaan keduanya. Meskipun ia datang pada waktu yang tepat. Dia tidak menyangka bahwa mereka sudah bertatarung kembali. Sebab menurut laporan yang diterima, lima hari lalu, pertarungan mereka berhenti karena masing-masing mengalami luka parah.

“Kalian ke sini. Baringkan mereka dengan diatas tikar atau apa saja yang kalian punya”, pinta Elang Sutawijaya kepad kedua pasukan yang berkerumun agak jauh darinya. Dengan sigap dan cepat prajurit dari kedua belah pihak bersatu padu menyiapkan apa yang diminta Elang Sutawijaya. Hanya dalam beberapa hitungan nafas, Pangferan Purbaya dan Paselingsingan sudah berada diatas tikar.

“Bawa air kendi itu kemari”, pintanya kemudian. Elang Sutawijaya memegang kendi berisi air putih yang tadi diminta dari salah seorang abdi dalem, sambil mulutnya berkomat kamit membaca doa. Baik Purbaya maupun Paselingsingan, oleh Elang Sutawijaya disuapi minuman air kendi itu. Setelah beberapa saat, dia duduk bersila diantara kedua kesatria yang tubuhnya terluka dan lemas lunglai tak berdaya.

BACA JUGA :  Berpulangnya "The Silent Endorser" Pejuang Pemikir Banteng: Kenangan Dari Kawan Seiring DKL

“ Wahai Pangeran Purbaya dan Paselingsingan. Sudahlah, jangan kalian teruskan pertarangan ini. Cobalah berdamai dengan diri sendiri masing-masing. Sudah berapa lama pertarungan ini berlangsung ?”, tanyanya.

“ Kita akhiri saja dengan damai. Karena peperangan ini sudah cukup lama,  dan rakyat membutuhkan kita. Kalau perang tidak segera diakhiri, kapan kita akan mengabdi dan mengurus rakyat ?”, tegasnya dengan suara datar dan penuh rasa cinta kasih.

“ Biarlah bumi hutan jati ini menjadi kesaksian, betapa kalian berdua seorang yang gagah berani. Seorang kesatria pinunggul yang gagah berani, digjaya dan pilih tanding. Untuk mengingat itu semua, sebagai kesaksian atas keberanian kalian, ketangguhan dan kedigjayaan kalian yang sama-sama berani, sama-sama digjaya, tempat ini saya beri nama Surajaya”, tegasnya dengan nada yang penuh suka cita.

Berbekal kemampuan Elang Sutawijaya menuturkan kata dengan bahasa yang bijak dan baik, maka luluhlah hati kedua kesatria pilih tanding itu. Keduanya, baik Pangeran Purbaya maupun Paselingsingan, dibuat menangis hingga tersedu sedan mendengarnya.  Dalam keadaan rapuh jiwa dan raganya setelah bertarung sekian lama, timbul rasa penyesalan yang begitu dalam. Mereka terus menangis hingga air matanya menyeruak mewujud menjadi danau yang hingga saat ini masih ada di wilayah itu. Sesaat timbulnya sebuah danau, munculah bidadari di sekitar danau itu seolah-olah hendak menjemput nyawa keduanya.

Ini menjadi malam ketiga, Pangeran Purbaya tidak beranjak dari tidurnya. Badannya panas dingin. Di atas dipan, cabang kayu jati yang sengaja dibuat para prajuritnya tempo hari, ia terbaring lemas dengan wajah berlumuran ramuan sambetan yang menempel berantakan dikeningnya.  Keringat dingin telah melunturkan ramuan hijau yang yang menghiasi bagian atas alis tebalnya. Ikat kepalanya sudah tidak dipakai lagi. Sekali lagi, ia menyibakan ikat kepalanya yang melintang di leher untuk menyeka keringat dinginnya.

Diluar gubug bambu itu, ia memalingkan wajahnya menatap keluar dari balik pintu yang terbuka separoh. Gelap membias, dengan bayang-bayang pohon yang menghampar. Ia berharap : semoga malam ini terlewati dengan baik tanpa rasa yang menyakitkan badannya. Ia kembali teringat ibunya, ayahnya dan bahkan ke dua eyangnya yang juga guru sejatinya.

Ia teringat, sewaktu kecil dipanggil ibunya dengan nama Joko Umbaran. Baginya, Rara Rembayung adalah seorang ibu yang banyak memberikan inspirasi. Ia begitu bangga terhadap ibunya meskipun hanya anak seorang Ki Ageng Giring, petani biasa dari desa. Belakangan, ia baru tau bahwa darah yang mengalir ditubuhnya adalah darah titisan seorang raja Mataram, Panembahan senopati. Dari ibunya, ia kemudian tahu bahwa dirinya dilahirkan dari kisah cinta yang dibangun antara ke dua kakeknya saat terjadi perebutan wahyu kedaton.

Ibunya bercerita, ketika itu Ki Ageng Giring bertempat tinggal di daerah Paliyan Gunung Kidul. Suatu ketika, Ki Ageng Giring mendapatkan wangsit, yang olehnya diyakini sebagai Wahyu Gagak Emprit. Saat itu, Ki Ageng Giring sedang memanjat pohon untuk menyadap gula kelapa.  Di atas pohon kelapa, tak jauh dari pohon yang sedang di panjat, ia melihat ada sebatang pohon kelapa yang selama ini tidak pernah berbuah walau sudah cukup tua. Namun saat itu, dia melihat sedang berbuah satu. Hanya satu saja buahnya. Dari balik pohon itu, ia mendengar suara gaib merasuk dikedua telinganya.

“ Ki Ageng Giring, Ambilah buah kelapa yang sedang kau lihat itu. Jika nanti kau bisa meminum air kelapa itu habis dalam sekali tenggak, maka kelak dikemudian hari anak turunmu akan menjadi Raja Agung di tanah Jawa,” jelas suara gaib itu.

Mendengar suara itu, Ki Ageng Giring bergegas turun dari pohon. Dia berputar-putar, menengok kanan kiri mencoba mencari sumber suara tadi. Dia benar-benar yakin bahwa suara tadi bukan sebuah halusinasi. “Itu suara go’ib. Itu suara wangsit dari Hyah Widi kepada saya. Dan saya harus melaksanakannya sebagai amanah yang harus dijunjung tinggi”, pikirnya, sambil meletakkan tabung yang berisi gula kelapa yang diambilnya seraya cepat-cepat memanjat pohon kelapa yang dilihatnya berbuah tadi.

Setelah dipetik, Ki Ageng berfikir bagaiman cara meminumnya agar habis dalam sekali teguk, sebagaimana pesan suara gaib itu. Masih terngiang ditelinganya, bahwa air kelapa itu harus diminum habis dalam sekali teguk. Dia berfikir  bagaimana caranya sedangkan saat itu, Ki Ageng Giring belum merasa haus. Tak mungkin mampu meminumnya hingga habis. Apalagi dalam sekali teguk, itu tidak mungkin, pikirnya sambil terus mendekpnya buah kelapa, duduk dibawah pohon kelapa itu. Yang terlintas diotaknya, satu-satunya cara hanya menunggu haus. Harus menunggu rasa haus yang sangat agar impiannya tercapai. Dan ahirnya dia memilih pergi bekerja ke hutan yang lebih dlu agar haus. Dia sudah bulat dengan akan meminumnya nanti setelah pulang dari hutan.

Ki Ageng Giring berjalan menempuh jarak puluhan kilometer menaiki perbukitan terjal tanpa membawa bekal. Rasa haus dan lapar meulai meia tahan demi hajat untuk mewujudkan impiannya. Baginya, memiliki keturunan yang bakal menjadi raja-raja di tanah Jawa bukanlah impiannya. Tapi jika itu menjadi sesuatu yang bisa diraih, adalah satu kebanggan yang tak dapat ia gambarkan dengan kata-kata. Terik matahari yang membakar tubuhnya, menjadi kesaksian dari setiap jengkal tanah yang ia lewati tanpa henti.

Siang itu, Ki Ageng Pemanahan hampir tiba di gubuk Ki Ageng Giring. Sudah seumur jagung mereka tidak saling bertemu. Ia berharap bisa bertemu dengan sahabatnya itu, bertukar pikir dan bertukar senyum.

Atap ijuk gubuk yang ditujunya tampak seperti bongkahan hitam. Pintu rumah itu tertutup tetapi tidak di selot.  Pemanahan mendorong pintu yang tidak diselot dengan ujung jarinya. Dan engsel pintu mengeluarkan suara seperti rintihan yang menembus telinga dan memecah keheningan. Saat ia melangkah masuk, langsung tercium olehnya bau apek yang sangat ia kenal. Di bilik dinding rumah persis dibelakang lincak bambu, nampak tergantung sebuah iket wulung milik Ki Ageng Giring. Iket wulung itu seperti menyambut kedatangannya, mewakili Ki Ageng Giring yang masih di hutan. Ki Ageng Pemanahan memang tak asing dengan rumah itu. Ia menatap seluruh sudut ruangan dari sebuah lincak yang ia pilih untuk duduk dedepan pintu masuk rumah tua itu.

Sorot matanya yang tajam, tiba-tiba berhenti pada satu titik dimana ada satu benda yang tergeletak di dapur. Ya, benda itu adalah kelapa muda yang di simpan Ki Ageng Giring. Rasa haus yang ditahan sejak dalam perjalanan, mematri pandangannya. Matanya tak mau berpaling dari kelapa muda yang seolah menari-nari memanggilnya. Hijau kulit kelapa muda yang mengkilau, angannya menerawang jauh. Tatapan matanya menembus pada batok kelapa hijau itu, didalamnya, ada berbalut lendir-lendir kelapa muda yang menggoda selera. Seketika itu, kelapa muda itu sudah berada di tangan Ki Ageng Pemanahan. Rasa dahaga yang mengeringkan tenggorokannya, telah menjadikannya tidak berfikir panjang. Dan air kelapa muda itu, pun langsung diminum dalam sekali teguk. Rasa haus luar biasa yang terasa hingga kedalam tulang-belulang, kini telah sirna. Sebutir air kelapa muda yang ia teguk, kini seperti menjadi embun yang menusup kesekujur pori-pori tubuhnya. Sambil menunggu tuan rumah, ia mencoba berbaring dilincak tua yang letaknya tak jauh dari pintu.

Hari telah melewat lingsir Ki Ageng Giring segeran bertandang pulang. Dari jauh Ki Ageng Giring melihat samar-samar pintu rumahnya terbuka. Sinar matahari yang tegak lurus seperti memaku bumi dan panasnya yang menyengat seluruh pori-pori kulitnya, rongga mulutnya yang kian kering kerontang, membuat pandangan matanya kadang seperti berkunang. Kaki-kaki kekarnya terus bergegas melintasi semak belukar. Ia ingin segera sampai dan melihat siapa gerangan yang ada dirumahnya. Ia dapat melihat dengan jelas bahwa pintu rumahnya memang benar-benar telah terbuka. Di lorong pintu masuk, seonggok bayangan hitam seseorang itu nampak telentang sedemikian rupa diatas lincak sehingga tak tampak jelas itu siapa.

“ Oh, kakang Giring sudah Pulang,”

“ Adik Pemanahan, oh… saya pikir siapa ? Sudah lama menunggu dimas ?,” tanya Ki Ageng Giring seraya merangkul sahabatnya.

Sakwetawis kakang, sudah lama saya tidak  sowan”.

Tiba-tiba pandangan mata Ki Ageng Giring kembali terlempar ke arah batok kelapa muda yang tadi tersampar. Ki Ageng Giring terdiam lalu memandangi Ki Ageng Pemanahan dengan matanya meotot ke sebelah. Mereka saling berpandangan, dan Ki Ageng Pemanahan sedikit terganggu dengan mata Ki Ageng Giring yang seperti menusuknya dengan tajam. Ki Ageng Pemanahan tersipu, tetapi Ki Ageng Giring malah mengerutkan keningnya sehingga ujung-ujung alisnya bertemu. Alis tebalnya seperti ular yang siap mematuknya.

“ Oh, maaf kakang, aku telah lancang mengambil dawegan itu. Saya benar-benar haus, jadi saya minum dawegan itu kangmas. Nyadong duko kakang, jika hal itu tak berkenan” kata Pemanahan, sambil mengerutkan wajah penyesalannya.

BACA JUGA :  Jejak Sejarah : Pangeran Purbaya “Banteng Mataram” di Pemalang

Ki Ageng Giring masih terdiam. Ia berjalan membalikan badannya yang masih bercucur keringat membelakangi Pemanahan. Di depan batok kelapa muda, kakinya berhenti. Sambil jongkok, ia memegang tepes kelapa yang serabutnya berserak. Kepalanya menengadah ke arah langit-langit rumahnya dengan tangan bergetar,  kemudian tertunduk dengan dengan wajah lesu dan muram. Pemanahan berdiri mematung dengan wajah masih terheran-heran tak percaya. “Tidak biasanya Kakang Giring bersikap begini, ada apa dengan buah kelapa itu?”.

Wajah Ki Ageng Giring memerah, mulut dan tangannya bergetar memendam rasa yang  tak terungkapkan. Sebagai seorang kesatria pinunggul, ia berusaha untuk mengungkapkan dan menghadapi kenyataan yang ada dengan cara lebih bijaksana.  Ia mencoba menenangkan diri dengan jiwa sumeleh. Dengan mengembalikan semua peristiwa ini kepadaNya. Betapapun ia menginginkan wahyu itu jatuh kepada dirinya, jika takdir menghendaki lain, maka harus diterimanya sebagai suratan. Inilah garis tangan yang harus dilakoni dengan ikhlas.

“Sekali lagi, mohon maaf kakang, ada apa sebenarnya dengan dawegan itu”. Kata Pemanahan terbata-bata.

“Sungguh Ketiwasan Adi, ini ketiwasan,” sela Ki Ageng Giring dengan suara serak.

“Sebenarnya” kata ki Ageng Giring dengan nada berat dan kemudian berhenti sejenak sambil menghela nafas. “Sebenarnya degan itu bukan degan biasa. Degan itu merupakan bagian dari wahyu yang aku terima dari laku panjang tapa brataku selama ini. Aku sebut bagian dari wahyu karena degan itu akan membuka jalan kemuliaan bagi anak cucuku kelak,” jelasnya. Suara Ki Ageng giring tiba-tiba menjadi lirih dan sedikit terbata.

“Tapi, mungkin ini sudah menjadi Titahing Gusti. Mau bagaimana lagi ?,” jelasnya, sambil menengok ke arah Pemanahan. Sorot matanya masih seperti menghujam dengan seribu warna raut kecewa. Pemanahan yang masih berdiri disebelahnya, seperti kelu lidah dan tak mampu merangkai kata.

“ Maaf, sekali lagi saya minta maaf kakang. Sungguh saya tidak mengetahuinya”.

“ Sudah Menjadi takdirmu dimas. Kelak kau bakal memiliki keturunan yang akan memimpin di tanah Jawa ini,” lanjut Ki Ageng Giring, sambil mengambil tempat duduk di sebuah tikar yang digelarnya. Ki Ageng Pemanahan pun turut bersila di depannya.

“ Adiku Ki Ageng Pemanahan”

“Aku ajukan satu permintaan kepadamu. Dan ini akan jadi permintaan terakhirku”, ungkap Ki Ageng Giring sambil memegang kaki Pemanahan dengan wajah penuh harap.

“ Apa itu kangmas Giring. Katakanlah, katakan saja apa itu. Dan, mengapa harus menanyakan kalau saya tidak keberatan ? Hampir separoh hidup kita dilalui bersama, ingat itu kangmas”.

Ki Ageng Giring berdiri dan berjalan menghampiri pintu jendela. Di bukanya jendela itu pelan-pelan. Matanya menerawang jauh ke arah hutan belantara dengan wajah masih dirundung kecewa. Di Gubug tempat tinggalnya saat ini belum ada rumah lain. Ia melihat matahari tiba-tiba telah dibungkus mega. Ada mendung  yang telah menyelimuti pepohonan. Ki Ageng Pemanahan sendiri, mulutnya seperti terkunci. Ia hanya sedang menunggu  apa yang hendak dikatakan sahabatnya.

“ Jika ada kelegaan hati, saya mohon berbagi kamulyan”.

“Maksudnya?”

Setelah ke tujuh turunanmu, saya mohon diberikan kesempatan agar anak cucuku bisa gantian nunut mukti,” pintanya, sambil membalikan badan.

Ki Ageng Pemanahan mengangkat kepalanya, menatap Ki Ageng Giring seperti tak percaya mendengar permintaannya. Namun rasa risih yang sedari tadi mengganggu  benak  kepalanya seketika sirna. Hatinya lega ketika mendengar permintaan Ki Ageng Giring. Karena disatu sisi, permintaan itu memberi jalan keluar terhadap suasana batinnya yang sedari tadi dihinggapi rasa bersalah. Hanya sejenak, kemudian ia berdiri mendekati Ki Ageng Giring.

“Kangmas”

“Jika ini memang sudah jadi pepesthen. Sudah jadi jalan hidup yang ditentukanNya, saya mohon, jauhkan saya dari anggapan sebagai orang yang telah menjadi penghalang. Apalagi merebut kemuliaan anak cucumu kelak. Aku rela, aku ikhlas dengan permintaan itu”, sahut Pemanahan mencoba meyakinkan dan penuh harap.

“ Baiklah, jika itu benar. Saya minta kesepakatan ini dibuktikan dengan adanya ikatan yang nyata. Ikatan yang akan menjamin tersampaikannya pesan ini kepada anak cucu kita. Ikatan yang bisa menjadi pengingat bagi anak cucu kita, bahwa diantara kita memiliki ikatan perjanjian yang harus dipegang teguh dan dijunjung tinggi. Ikatan yang akan memberikan jaminan bahwa diantara anak cucu kita akan menjadikan ikatan itu sebagai suatu keniscayaan yang melekat dan tidak bisa dipungkiri serta sebagai jalan hidup yang harus diterimanya sebagai takdir yang tinulis”.

“ Kakang Giring meragukan saya ?”

“ Tidak… Saya tidak pernah meragukanmu. Tapi kesepakatan ini akan bekerja dalam waktu yang cukup lama. Butuh tujuh generasi. Setidaknya, akan butuh tiga abad yang harus dilampauinya”, tukas Ki Ageng Giring.

“ Dik, saya harus pasrah dan memupus takdir ini. Mungkin Tuhan semesta alam memang telah memilihmu untuk menjadi ayah bagi raja-raja tanah Jawa. Tapi jangan lupa, ada saya yang menjadi pintu dan jalan yang saya kira juga sebagai pesan dari Yang Maha Kuasa untuk kita maknai secara bijaksana dan tepat”.

“ Saya mengerti dan memahami itu kangmas. Lalu apa jalan tengah yang bisa menjawab semua itu kangmas ?”

“ Cucu kita”

“Maksud Kakang ?”

“ Ya, yang akan menjamin dan menjaga perjanjian ini adalah cucu kita. Cucu yang lahir dan ditubuhnya mengalir darah kita sendiri. Darah kita, bukan hanya darahku atau darahmu saja”.

“ Oh, saya mengerti maksudnya. Jika itu yang terbaik, maka baiklah kakang. Saya setuju. Dan sekarang juga, dengan ini saya melamar putrimu Roro Rembayung, untuk menjadi pendamping hidup puraku Danang Sutawijaya,” jawabnya mengakhiri perdebatan itu.

Entah siapa yang memulai, keduanya dengan sekedip mata telah berpelukan. Dibalik pelukan tangan keduanya, setengah muka Pemanahan menempel dipundaknya Ki Ageng Giring. Pemanahan yang badannya lebih pendek, tak menghiraukan basah peluh yang membanjiri baju Ki Ageng Giring menyeka muka sebatas bawah kedua kelopak matanya. Keduanya saling maklum dan terdengar saling memaafkan. “Maaf, Terima kasih, Terimakasih”.

“ Ngger anaku”, kata ibunya tiba-tiba memanggil namanya. Sambil memngusap kepalanya, “ Kesepakat kedua eyangmu itu, kemudian diberi nama Perjanjian Giring”, katanya sambil menarik kepalanya dan disandarkan didadanya. Mengingat saat-saat itu, dalam pembaringannya, bibir Pangeran Purbaya nampak sedikit bergerak mengulum senyum. Dan entah mengapa, malam ini ia seperti dapat merasakan kembali tangan belaian tangan dengan penuh kasih ibunya. Sebuah belaian cinta yang dapat memberi kekuatan tersendiri, bisa mengurangi rasa sakit yang merayap diseluruh pembuluh sendi tubuhnya.

Diam-diam, tutur ibunya melanjutkan, rupanya Ki eyang giring tidak bisa melupakan peristiwa yang melatar belakangi lahirnya perjanjian giring itu. Menurut ibunya, suatu ketika sedang duduk sendirian, Eyang Giring kedapatan mengucapkan kalimat “ mengapa Ki Ageng Pemanahan yang harus meminum kelapa itu,” katanya seperti bertanya kepada dirinya sendiri, lirih.

Sejak itu, eyang Giring lebih banyak terdiam. Eyang Giring lebih banyak merenung dan mupus takdir di pinggir sungai, yang kini dikenal dengan nama Kali Gowang. Nama Kali Gowang diambil dari kisah eyang Giring yang hatinya lagi terlukakarena gagal memperoleh wahyu Mataram. Kesehatannya mulai rapuh, Ki Ageng Giring mulai sakit-sakitan, tak lama kemudian mangkat dan dimakamkan di dekat rumah.

Perjodohan yang dibangun tanpa cinta itupun terjadi. Berbekal titah sang Raja yang juga perintah ayahnya, maka Raden Sutawijaya tidak cukup memiliki alasan dan kekuatan untuk menolaknya. Ia kemudian melakoninya, mempersunting Putri Giring atau Roro Rembayung sebagai istrinya.

 Banyaknya perbedaan prinsip dan cara pandang pasangan itu  berujung pada perpisahan. Saat Roro Rembayung sedang mengandung, Sutawijaya harus meninggalkannnya dan pulang ke Mataram karena ayahnya, Sultan Hadiwijaya tutup usia. Dan itu berarti harus ada raja pengganti. Sebagai putra mahkota, Danang Sutawijaya akan menggantikan ayahnya sebagai raja Mataram.

Disinilah kemudian, ditengarai menjadi satu drama yang disusun oleh Sutawijaya untuk menyingkirkan Roro Rembayung dengan tidak mengajaknya pulang ke Mataram. Namun Sutawijaya tidak mau

memboyong istrinya ke mataram dan tidak menjadikannya istri permaisuri. Sebelum pergi, Danang Sutawijaya meninggalkan sebuah pusaka atau keris telanjang.

Sampai disini, Pangeran Purbaya ingatannya berhenti. Ia merintih menangis menahan sakit hati meningat ibunya yang harus menjadi tumbal pengakuan dirinya dari ayah kandungnya dan  rajanya, Panembahan Senopati. Menahan Sakit raganya yang kian rapuh, Pangeran Purbaya akhirnya wafat. Ia dimakamkan bersama dengan lawan tandingnya Paselingsingan di tempat itu, di Desa Surajaya.

Di tempat berbeda, Purbaya diketahui meninggal pada bulan Oktober 1676, saat ikut serta menghadapi pemberontakan Trunajaya. Kala itu, Amangkurat I mengirim pasukan besar yang dipimpin putranya-Adipati Anom, untuk menghancurkan desa Demung (dekat Besuki) yang merupakan markas orang-orang Makasar sekutu Trunajaya. Perang besar terjadi di desa Gogodog. Pangeran Purbaya yang sudah lanjut usia gugur akibat dikeroyok orang-orang Makasar dan Madura.