OPINI, mediakita.co- Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pernah berdiri gagah sebagai kawah candradimuka bagi kaum intelektual muda yang memegang teguh Marhaenisme.
Semboyan ‘Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang’ bukan sekadar retorika, melainkan nafas yang menghidupkan dialektika di setiap komisariat dan cabang.
Namun, melihat realitas hari ini, kita dipaksa menelan pil pahit dan bertanya: Apakah kiamat GMNI sudah dekat?
Pertanyaan ini bukan bentuk pesimisme, melainkan autokritik keras terhadap tubuh organisasi yang kian hari kian rapuh digerogoti penyakit kronis: perpecahan, pragmatisme, dan matinya ideologi.
Perpecahan yang ‘Dipelihara’
Sejarah mencatat dinamika konflik di tubuh GMNI, namun apa yang terjadi belakangan ini bukan lagi dinamika, melainkan tragedi.
Dualisme hingga multi-lisme kepemimpinan bukan lagi kecelakaan sejarah, melainkan tampak seperti kondisi yang sengaja dipelihara.
Mengapa dipelihara? Karena dalam kekeruhan, ada elit yang memancing keuntungan.
Konflik tidak lagi didasarkan pada pertentangan ideologis—seperti perdebatan tafsir Marhaenisme—melainkan murni urusan dapur kekuasaan.
Tidak ada rekonsiliasi yang utuh karena ego sektoral dan ‘ke-aku-an’ para elitnya terlalu tinggi untuk duduk bersama. Rekonsiliasi hanya menjadi jargon, sementara di bawah meja, ‘api dalam sekam’ terus dijaga agar posisi tawar politik tetap tinggi.
Kaderisasi: Antara Ada dan Tiada
Ketika para elit sibuk berebut stempel legitimasi, siapa yang memikirkan kader di akar rumput? Kaderisasi terbengkalai.
GMNI sejatinya adalah organisasi kader, bukan organisasi massa yang mengandalkan jumlah kepala semata. Namun, hari ini kita melihat pergeseran yang mengerikan.
Proses kaderisasi seringkali hanya menjadi formalitas administratif. Indoktrinasi ideologi tak lagi mendalam; pemahaman tentang Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa hanya sebatas hafalan kulit, tanpa penghayatan ruh perjuangan.
Akibatnya, GMNI melahirkan kader-kader yang gagap ideologi tapi ‘rakus’ jabatan. Organisasi ini tidak lagi mencetak ‘Sukarno Muda’ melainkan mencetak birokrat-birokrat kampus dan politisi pragmatis yang siap gadai idealisme demi proyek sesaat.
Melupakan Khittah, Memuja Kuasa
Inilah tanda kiamat yang paling nyata: Hilangnya arah perjuangan (Khittah).
GMNI seharusnya berjuang untuk kaum Marhaen, melawan penindasan sistemis, dan mengawal keadilan sosial. Namun, diskursus yang mendominasi ruang-ruang diskusi elit organisasi hari ini bukanlah “Bagaimana nasib petani yang digusur?” atau “Bagaimana melawan neokolonialisme ekonomi?” melainkan “Siapa yang akan jadi Ketua?” dan “Bagaimana cara kita berkuasa?”
Orientasi kekuasaan (power-oriented) telah membunuh orientasi pengabdian (service-oriented). Azas perjuangan ditinggalkan di laci-laci sekretariat yang berdebu. Kader diajarkan cara memenangkan voting, melobi senior, dan memecah belah lawan, tetapi lupa diajarkan cara menangis dan tertawa bersama rakyat.
Egoisme Membunuh Gotong Royong
Prinsip Gotong Royong yang menjadi intisari Pancasila seolah lenyap digantikan oleh individualisme dan feodalisme gaya baru. ‘Ke-aku-an’ yang tinggi membuat setiap faksi merasa paling benar, paling sah, dan paling Marhaenis, sambil menunjuk faksi lain sebagai pengkhianat.
Padahal, pengkhianat sejati adalah mereka yang membiarkan organisasi ini terbelah demi ambisi pribadi. Tidak adanya upaya tulus untuk menyatukan serpihan-serpihan yang pecah membuktikan bahwa GMNI sedang mengalami krisis kenegarawanan di tingkat internalnya sendiri.
Epilog: Menolak Mati
Jika kondisi ini terus berlanjut—di mana perpecahan dinikmati, kaderisasi mati suri, dan kekuasaan menjadi satu-satunya tuhan—maka ya, kiamat GMNI sudah sangat dekat.
Ia akan menjadi fosil sejarah; namanya ada, atributnya merah menyala, tapi rohnya telah lama mati.
Satu-satunya cara menunda kiamat itu adalah dengan dekonstruksi total. Runtuhkan ego para elit, kembalikan kaderisasi sebagai panglima, dan jadikan azas perjuangan sebagai satu-satunya rel pergerakan.
Jika tidak, bersiaplah menulis obituari untuk GMNI, organisasi besar yang mati bukan karena dibunuh musuh, tapi karena bunuh diri oleh keserakahan kadernya sendiri.
Merdeka!
Penulis: Damas Baswananda











