Lagi, Ferdinand Hutahaean Semprot Anies Baswedan dengan Sebutan Logika Sakit
Ferdinand Hutahaean dan Anies Baswedan (Foto: Jambi Ekspres)

JAKARTA, mediakita.co – Aktifis Sosial Politik Ferdinand Hutahaean seperti tak kehilangan kata-kata untuk menyemprot Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan kebijakan-kebijakannya.

Kali ini Ferdinand menyebut gubernur yang getol berjuang untuk Pelestina itu dengan sebutan logika terbali. Hal tersebut diungkapkan Ferdinand melalui akun twitter miliknya https://twitter.com/FerdinandHaean3, (4/6/2021).

Hal itu diungkapkan Ferdinand sebagai kritik terhadap Pemerintah DKI Jakarta yang berencana menerapkan ganjil genap dalam sistem tranportasi di Jakarta untuk mengurai kemacetan.

Dikutip dari Kompas.com bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang mempertimbangkan untuk kembali menerapkan ganjil genap di tengah pendemi ini.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengungkapkan bahwa hal itu akan dilakukan karena telah terjadi kenaikan volume lalulintas selama penerapan PPKM mikro.

Menurut Ferdinand apa yang direncanakan Pemprov DKI tersebut bukanlah hal yang urgen dibanding dengan penanganan pandemi covid 19. Sebab menurut Ferdinand kesehatan masyarakat adalah hal yang mendesak dan harus didahulukan.

Tak hanya itu Ferdinand dengan keras mengungkapkan bahwa Gubernur DKI Jakarta tersebut belum mampu menangani pandemi covid 19 sudah berencana menerapkan ganjil genap. Ferdinand melanjutkan bahwa penerapan ganjil genap akan memicu timbulnya desakan di transportasi umum, sementara kecenderungan masyarakat belum taat prokes.

BACA JUGA :  Anies Gelar Musrembang 2021, Warganet: Syukurlah Pak Ada Perencanaan Setelah 4 Tahun Memimpin

‘Urus covid dulu pak Gub @aniesbaswedan covid blm mampu kau tangani tp angkutan umum mau kau tingkatkan dgn cara menerapkan Ganjil Genap, ini adalah sebuah logika sakit. Pikirkan kesehatan org yg kemudian akan berdesakan di angkutan umum, atau tak terangkut krn jarak prokes’ tulis Ferdinand.

Seperti diketahui bahwa penerapan ganjil genap sebelumnya menyebabkan desakan dan bertumpuknya masyarakat Jakarta di stasiun-stasiun pemberhentian angkutan umum. Jika hal ini dilakukan di tengah pandemi maka akan sangat berbahaya memicu penularan covid 19 semakin cepat. (Prb/mediakita.co)