Menyingkap Masa Prasejarah Pulau Sirang
Enam buah alat serpih dengan tipe “berpunggung tinggi” yang cukup baik teknologi pembuatannya yang ditemukan di Pulau Sirang (Dok. Balai Arkeologi Kalimantan Selatan). Salah satu serpih berpunggung tinggi di atas mempunyai kemiripan dengan serpih jenis yang sama yang ditemukan pada situs Gua Babi (Tabalong).

Pulau Sirang, barangkali belum terhitung dalam data jumlah pulau di Indonesia. Pulau seluas sekitar 1 hektar ini merupakan sebuah pulau yang muncul akibat surutnya permukaan waduk Riam Kanan, Kalimantan Selatan.

Pulau Sirang hingga saat ini menjadi salah satu titik destinasi wisata lokal. Pulau seluas sekitar 1 hektar telah mnejadi daya tarik sendiri, dan pada Sabtu dan Minggu Pulau Sirang menjadi sasaran kunjungan warga lokal untuk berlibur.

Jejak Budaya Yang Tersingkap

Aktivitas liburan di Pulau Sirang bisa memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Adalah Eko Herwanto, seorang arkeolog yang saat ini bekerja sebagai peneliti di Balai Arkeologi Kalimantan Selatan, liburan ke Pulau Sirang membawa kabar gembira bagi dunia ilmu pengetahuan, khususnya ilmu arkeologi.

Di hamparan tanah berwarna merah, Eko Herwanto melihat ratusan serpihan batu yang menunjukkan ciri-ciri teknologi pembuatan alat batu paleolitik. Bentuk pangkasan batu yang terlihat pada artefak batu tersebut memperlihatkan betapa intensifnya proses pembuatan alat batu (penyerpihan) di situs ini Pulau Sirang.

Pulau Sirang sebagai situs paleolitik di Kalimantan Selatan layaknya bongkah berlian yang tersingkap. Budaya paleolitik di Kalimantan sangat lama dicari dan ditelusuri, dan baru ditemukan lewat munculnya situs Pulau Sirang ini.

Sejarah mencatat bahwa sebaran alat batu paleolitik cukup banyak di Kalimantan Selatan. Namun demikian, temuan pertama alat paleolitik pertama dari Kalimantan berasal dari undak sungai di tepi selatan Sungai Riam Kanan oleh H. Kupper pada tahun 1939. Alat batu paleolitik tersebut oleh Heekeren dinyatakan menyerupai alat-alat batu tipe Hoabinh yang monofasial.

Berdasarkan pengamatan yang lebih lanjut, Heekeren mengubah pendapatnya, dan menggolongkannya alat tersebut dalam unsur budaya kapak perimbas. Selangkapnya alat-alat batu tersebut terdiri dari lima buah kapak perimbas dan dua buah alat serpih. Kemudian pada 1958, Toer Soetardjo menemukan sebuah alat paleolitik di dasar Sungai Riam Kanan, Kecamatan Karangintan (SNI 1993: 95).

BACA JUGA :  Pandemi, Koperasi dan Agenda Demokratisasi Ekonomi

Kedudukan Situs Paleolitik Pulau Sirang

Alat-alat batu paleolitik yang ada di Pulau Sirang mempunyai peran penting karena berada pada permukaan tanah yang relatif datar dan dalam jumlah yang sangat melimpah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa Pulau Sirang di masa lalu merupakan tempat pembuatan alat batu (situs perbengkelan).

Pusat budaya paleolitik sudah lama dicari oleh kalangan arkeolog baik di dalam maupun luar negeri. Dalam dua dekade belakangan ini, Kalimantan memang manjadi “incaran” kalangan arkeolog karena potensi sumber daya arkeologi yang ada di dalamnya. Dan, Pulau Sirang nampaknya merupakan pusat budaya paleolitik yang dicari tersebut.

Pulau Kalimantan sebagai sebuah pulau besar selama ini dikenal dengan budaya Dayaknya yang terdiri dari lebih 600 sub etnis. Dan, dalam banyak temuan akhir-akhir ini di Kalimantan menunjukkan kekayaan jejak peradaban tersebut. Seperti misaknya lukisan dinding gua (rock-art) yang ada di Sulawesi, Ambon, dan Papua, ternyata juga ada di Kalimantan, yaitu: Kalimantan Timur, Barat, dan Selatan. Bahkan rock-art Kalimantan Timur sudah masuk waiting-list sebagai salah satu warisan budaya dunia yang ditetapkan oleh Unesco.

Upaya tersebut setidaknya didasarkan pada hasil penelitian penyelamatan yang dilakukan Balai Arkeologi Kalimantan Selatan yang berhasil menemukan ratusan alat batu dengan teknologi batu paleolitik (batu tua).

Teknologi Paleolitik

Teknologi paleolitik merupakan teknologi yang dikuasai manusia pada tingkat permulaan, dengan mengutamakan pada segi praktis. Pembuatan alat batu disesuaikan dengan tujuan penggunaan saja. Makin lama teknologi pembuatan alat batu ini semakin meningkat ke arah penyempurnaan bentuk. Teknologi paleolitik yang ditemukan di Pulau Sirang antara lain: kapak perimbas (chopper), kapak penetak (chopping), pahat genggam (hand-adze), dan kapak genggam awal (proto hand axe), serta tradisi serpih dalam bentuk sederhana.

BACA JUGA :  La Barka, Rumah Penuh Cinta

Semua alat batu di atas disiapkan atau dibuat dengan teknologi pemangkasan sederhana secara langsung pada batu-batu kerakal atau pecahan batu. Teknologi pemangkasan batu dan penggunaan pecahan-pecahan batu merupakan teknologi pertama yang dikuasai manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan dasar kehidupannya.

Satu hal yang menarik dari penemuan alat-alat batu paleolitik di Pulau Sirang ini adalah bentuk alat yang ada. Pengamatan atas bentuk dan bekas pemangkasan, Jatmiko, peneliti prasejarah di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menyatakan bahwa terdapat beberapa alat batu dari Pulau Sirang yang dikerjakan dengan teknologi yang lebih maju pada jamannya.

Alat serpih yang ditemukan di Pulau Seran menunjukkan teknologi pemangkasan yang begitu intensif, yang menjadi ciri khas teknologi alat batu mesolitik yan berada pada masa setelah masa paleolitik. Artinya ada kemungkinan alat-alat paleolitik ini merupakan hasil dari tradisi pemangkasan batu paleolitik pada masa yang lebih kemudian, bukan murni budaya alat batu paleolitik.

Salah satu indikasi adanya budaya mesolitik adalah persamaan bentuk dari serpih berpunggung tinggi yang di temukan di Pulau Sirang dengan yang ditemukan pada Gua Babi (Tabalong), yang oleh Harry Widianto diklasifikasikan dalam budaya mesolitik. Oleh karena itu, kegiatan penelitian pada beberapa pulau lain di sekitar Pulau Sirang diharapkan akan bisa menjawab pertanyaan tersebut.

 

Penulis:

Bambang Sugiyanto
(Peneliti Madya dari Balai Arkeologi Provinsi Maluku, Tinggal di Ambon)