Murid Mendaftar dengan Hasil Bumi
MTs Pakis Pesawahan, Sekolah Terpencil di Pelosok Banyumas

MTs Pakis Pesawahan, Sekolah Terpencil di Pelosok Banyumas

mediakita.co-Sejumlah orang tua beserta murid MTs Pakis Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas menyerahkan hasil bumi kepada guru.(30)

Di tengah kemajuan zaman dan teknologi, masih ada anak-anak di kawasan pelosok yang mengenyam pendidikan jauh di bawah standar. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab. ‘’Biaya pendaftaran’’ sekolah pun bukan berupa uang, melainkan hasil bumi.


“Menjadi petani harus bisa jadi pemimpin Menjadi pemimpin harus mau jadi pemikir Menjadi pemikir harus berani memikirkan nasib petani”


Slogan itu disuarakan dengan keras oleh sembilan anak tak berseragam, yang duduk dengan posisi melingkar di salah satu dari tiga ruang MTs Pakis Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas.

Di luar, yang terdengar hanya desiran angin. Sunyi. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat rimbun pinus, pepohonan lain, dan segerombol rumah yang dihuni 300-an warga di dua RT. Di wilayah yang dikelilingi hutan pinus milik Perhutani Banyumas Barat itu, sangat sulit mendapatkan sinyal telepon seluler.

“Saya berangkat dari rumah pukul 05.30, jalan kaki. Saya ingin bersekolah dan ingin jadi pemain bola,” ujar Rohmat (12), murid berperawakan paling kecil dengan baju sederhana. Rohmat adalah bocah dari Dusun Karanggondang yang mulai Senin (18/7) bersekolah di MTs Pakis Pesawahan.

Untuk mencapai madrasah itu, ia berjalan dua kilometer menyusuri hutan. Sebagaimana di sekolah lain, pada hari kedua tahun pelajaran baru 2016-2017 itu, Rohmat dan delapan siswa baru MTs Pakis mengikuti masa orientasi siswa (MOS). Pada awal pembekalan tersebut, guru berusaha memotivasi dan mendorong anak-anak agar mau belajar hingga tuntas.

Pasalnya, berdasarkan pengalaman tiga angkatan sebelumnya, tak semua murid lulus. “Angkatan pertama 13 siswa, empat keluar. Ada yang berumah tangga, ada yang merantau. Angkatan kedua sembilan anak, tapi tinggal empat. Angkatan ketiga hanya satu anak dan berhasil lulus, meski awalnya ada empat yang akan mendaftar. Angkatan sekarang sembilan anak.

Semoga lulus semua,” jelas Isrodin (34), Kepala MTs Pakis Pesawahan. Ia menjelaskan, sebagian besar siswa madrasah berbasis pertanian ini berasal dari dua dusun terpencil, yaitu Pesawahan, Desa Gununglurah dan Karanggondang, Desa Sambirata. Letak yang jauh dari pusat desa dan dikelilingi hutan pinus membuat dua dusun itu pada masa lampau sangat tertinggal.

BACA JUGA :  Cheapest Hotels

Sebelum datang bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dari Pemprov Jateng, sebagian besar warga memanfaatkan listrik dari kincir air yang dikelola secara mandiri. Sebelum diaspal pada 2015, jalan yang menanjak sepanjang 4-6 kilometer menuju dua dusun itu merupakan jalan berbatu yang mirip sungai kering.

Di Dusun Pesawahan inilah muncul kisah Tasripin, anak piatu yang telantar dan mengurus tiga adiknya yang masih kecil di rumah reyot karena ditinggal bapak dan kakaknya yang merantau di Kalimantan. Tasripin sekarang juga menjadi murid baru madrasah ini. “Kasus Tasripin hanya sebagian kecil dari kehidupan yang miris di kampung ini. Sejak mendapat perhatian secara nasional, dusun ini mulai diperhatikan.

Saat itu sudah ada rintisan PAUD (pendidikan anak usia dini), madrasah, namun memang hingga sekarang masih pasang surut. Berbagai kendala harus dihadapi oleh pegiat pendidikan di dua dusun ini,” jelas Isrodin, warga Kalisari, Kecamatan Cilongok.

Tingkat pendidikan dan ekonomi warga kedua dusun yang masih rendah tak lepas dari berbagai kendala. Misalnya faktor geografis, ekonomi, motivasi, dan pandangan hidup. Rata-rata warga Dusun Pesawahan adalah buruh penderes getah pinus dan kelapa yang tak lulus SD.

Anak lelaki biasanya keluar sekolah untuk merantau ke kota, sedangkan yang perempuan menikah pada usia muda. Keberadaan MTs Pakis Pesawahan itu menjadi salah satu solusi untuk mendorong dan mengangkat derajat pendidikan warga.

Dengan mendekatkan sekolah kepada warga, diharapkan mereka tidak mengeluarkan banyak biaya, terutama untuk ongkos transportasi. “Kalau sekolah di Cilongok, untuk bayar ojek atau angkutan kira-kira butuh Rp 300 ribu per anak per bulan. Belum biaya yang lain.

BACA JUGA :  Tok! Moeldoko Jadi Ketua Umum Partai Demokrat

Ini sangat berat bagi mereka yang tidak mampu,” jelas Isrodin. Atas dasar keprihatinan itulah Yayasan Argowilis sejak empat tahun lalu merintis madrasah ini. Selain itu, didirikan pula Pos PAUD bagi warga di Pesawahan. Namun karena pasang surut jumlah murid, pengajar dari luar dusun terpaksa berhenti.

Tak Bertahan Lama

Di madrasah itu, kebanyakan guru adalah sukarelawan. Sebagian berstatus mahasiswa. Kondisi yang serbasulit membuat sebagian sukarelawan tak bertahan lama. “Untuk bertahan secara ekonomi, para sukarelawan biasanya punya usaha sampingan.

Selain itu, ada tambahan dari agrowisata, tapi tidak pasti,” tutur Isrodin, yang tinggal bersama tiga sukarelawan lain di salah satu ruang dan gubuk sekitar madrasah. Untuk mendapatkan siswa, para guru harus bergerilya keliling dusun. Bisa dibilang tidak ada biaya untuk bersekolah di sini, termasuk untuk seragam. Siswa tidak wajib mengenakan seragam.

Tahun ini, pengelola madrasah memperbolehkan orang tua murid menyerahkan hasil bumi untuk ‘’biaya masuk’’ madrasah. “Tahun sebelumnya kami menyarankan siswa atau orang tua menyerahkan alat pertanian. Tetapi sekarang cukup hasil bumi.

Kami mendorong itu agar siswa tetap bangga menjadi anak petani. Yang mereka berikan ini juga untuk mendukung pembelajaran.” Keberadaan madrasah itu diapresiasi warga. Mereka juga berharap para pengelola tidak menyerah. “Kami berharap dukungan untuk pembangunan wilayah kami diteruskan, sehingga kami tidak selalu tertinggal dari wilayah lain,” jelas Ahmad (40), salah seorang warga.

Di sisi lain, pengelola MTs Pakis Pesawahan tak bercita-cita muluk-muluk. Mereka hanya menginginkan anak-anak dapat mengakses pendidikan yang mudah, murah, dan dekat. Agar tak tercerabut dari akar kebudayaan dan potensi wilayah, mereka memberikan muatan lokal pertanian dan kehutanan.

“Kami tak bisa dibandingkan dengan sekolah lain. Kami masih jauh dari delapan standar nasional pendidikan. Namun kami terus berusaha semaksimal mungkin dengan berbagai keterbatasan,” jelas Windo, salah satu sukarelawan guru yang berstatus mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Purwokerto.

(Dikutip mediakita.co, Sumber : berita.suaramerdeka.com, Rabu (20/7)