Musim Angin Timur Paceklik Tiba, 90 % Bertahan Hidup dengan Andalkan Gadai-Menggadai
Musim Angin Timur Paceklik Tiba, 90 % Bertahan Hidup dengan Andalkan Gadai-Menggadai

PEMALANG,mediakita.co – Musim angin timur, sebagian besar nelayan di muara Tanjungsari dalam sepekan terakir prei melaut. Hal itu disebabkan karena selain ditandai adanya angin dan ombak besar dengan tinggi hingga 2,5 meter, musim angin timur juga mengakibatkan ikan tangkapan juga kian menjauh dari pantai.

Menurut Agus (42) nelayan di Tanjungsari mengatakan “ karena angin dan ombaknya kalau musim angin tumur kan tingginya mencapai 2,5 meter. Kalau pun kita berani, untuk mencapai lokasi yang ada ikannya makin jauh dan lamanya sampai 8 jam. Kalau biasanya kan Cuma 2 sampai 4 jam sudah sampai ke daerah yang banyak ikannya,” jelasnya.

Sementara, puluhan nelayan di muara Tanjungsari sudah sepekan terakhir nampak aktifitas nelayan menggunakan waktunya untuk merawat prau kapalnya. Mengalami musim paceklik ini, diperkirakan sekitar 90 % nelayan tak lagi melaut.

“ Angin kencang atau di kalangan nelayan disebut dengan Timuran, banyak nelayan yang memilih mengisi waktu dengan memperbaiki jaring ataupun memperbaiki mesin kapan, sehingga saat angin Timur selesai pada akhir bulan diharapkan peralatan sudah siap untuk menangkap ikan,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Banjir Bunga Di Jakarta Masih Mengalir, Mau Tau Mengapa ? Ini Penjelasannya...

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, tak jarang para nelayan setempat harus menjual barang-barang. Meski demikian, hal itu sudah dianggap hal biasa untuk menjual barang-barang di rumah, dan jika kondisi sudah membaik dan hasil tangkapan membaik maka nelayan akan membeli barang-barang baru yang dibutuhkan.

Sebagian nelayan lain, seperti Murtadho (40) nelayan setempat, pegadaian adalah salah satu caranya mengatasi masalah paceklik ini. ” Kalau ada yang bisa digadai ya digadaikan ke pegadaian. Sebagian nelayan ada yang memilih untuk memanfaatkan jasa penggadaian, nanti kalau sudah membaik barang-barang yang sudah digadaikan bisa ditebus kembali,”pungkasnya.

Terpisah, menurut Ketua KUD Mina Misoyo Sari, Sumadi Rahono, menyatakan jika hasil pelelangan ikan pada bulan ini hanya Rp 35 miliar, lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 38 Miliar.