Headline

Selasa, 19 Mei 2026
ajibpol
DAERAH

Penyatuan Luwu dan Toraja, Akademisi: Mengembalikan Marwah “Saudara Kandung”

TANA TORAJA, Mediakita.co – Wacana pembentukan provinsi baru yang menyatukan wilayah Luwu Raya dan Toraja kembali mendapat dukungan kuat dari kalangan akademisi. Piter Randan Bua, seorang akademisi yang memiliki ikatan emosional mendalam dengan kedua wilayah tersebut, menegaskan bahwa penyatuan ini bukanlah sekadar urusan administratif, melainkan upaya mengembalikan hubungan “saudara kandung” yang sempat terpisah oleh sekat birokrasi.

Piter, pemuda kelahiran Pantilang yang tumbuh besar di Luwu Utara dan kini mengabdi sebagai akademisi di Tana Toraja, melihat bahwa secara historis dan filosofis, Luwu dan Toraja adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Akar Sejarah dan Administrasi

Menurut Piter, jauh sebelum kolonialisme menyentuh tanah Sulawesi, Toraja dan Luwu sudah berada dalam satu naungan Kerajaan Luwu. Hubungan ini tetap terjaga bahkan di masa pemerintahan Hindia Belanda.

“Secara administratif modern, Toraja yang meliputi Rantepao dan Makale dulunya berada di bawah divisi (Onderafdeeling) dalam lingkup Afdeeling Luwu. Jadi, jika hari ini kita bicara penyatuan, kita sebenarnya sedang membicarakan rumah lama yang ingin kita huni kembali bersama,” ujar Piter.

Baca Juga :  Penyatuan Luwu Raya dan Toraja, Poros Baru Kekuatan Sulawesi

Filosofi Basse Sangtempe’: Sumpah yang Tak Lekang oleh Waktu

Kekuatan utama dari argumen penyatuan ini terletak pada memori kolektif masyarakat Bastem melalui narasi Basse Sangtempe’ (Sumpah Persatuan). Sumpah ini diucapkan oleh dua tokoh besar, Sanggalangi (mewakili dataran tinggi/Toraja) dan Datu Lakaseng (mewakili dataran rendah/Luwu).

Bunyi sumpah tersebut menjadi landasan moral yang sangat kuat:

“Iake rondonni jaomai buntu’ bijanna Sanggalangi’ lanatulak kambutu’ bijanna Datu, Iake tallan wai’i bijanna Datu lana rakkai lima bijanna Sanggalangi. Tangmengkilala sipakilala, malilu sipakainga’.”

Secara filosofis, sumpah ini memiliki makna yang sangat dalam:

  • Jika keturunan Sanggalangi (Toraja) tertimpa masalah dari gunung, keturunan Datu (Luwu) akan menopangnya.
  • Jika keturunan Datu (Luwu) tenggelam dalam air, keturunan Sanggalangi (Toraja) akan mengulurkan tangan.
  • Saling mengingatkan saat lupa, dan saling menuntun saat khilaf.

Harapan Masa Depan

Piter Randan Bua menekankan bahwa nilai-nilai tolong-menolong dan kasih sayang yang tertuang dalam Basse Sangtempe’ harus menjadi ruh dalam perjuangan politik penyatuan wilayah ini. Penyatuan Luwu dan Toraja dipandang sebagai langkah strategis untuk mempercepat pembangunan dan memperkuat identitas budaya yang selama ini sudah menyatu di hati masyarakatnya. (Red/mediakita.co)

Artikel Lainnya

Indeks Berita Memuat...Tidak Adal Lagi Postingan.