Puasa dan Kesalehan Sosial

OPINI, mediakita.co- Setiap muslim beriman selalu menyambut datangnya bulan Ramadan dengan riang gembira dan penuh kesungguhan. Syariat puasa Ramadhan merupakan rutinan tahunan bagi umat Islam di seluruh dunia. Baik yang kaya, miskin, dan fakir. Semuanya dikenai taklif (hukum syariat) untuk menjalankannya sesuai dengan syarat-syarat dan rukun puasa.

Sebagaimana Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya: Wahai Orang-orang yang beriman, telah diwajibkan berpuasa kepadamu sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa. Dari ayat di atas diketahui bahwa syariat puasa bukan hal baru, akan tetapi sudah disyariatkan kepada umat-umat terdahulu, sejak Nabi Adam as hingga saat ini, tahun 2024. Akan tetapi aturan dan tata cara syariat setiap Rasul berbeda-beda, sesuai dengan konteks zamannya.

Puasa Ramadhan memiliki spiritual multidimensi, baik secara individual maupun sosial.  Kesalehan individual seperti hubungan dirinya dengan Allah swt, atau disebut dengan habluminallah. Dan kesalehan sosial seperti hubungan manusia dengan sesamanya, atau disebut dengan habluminannas. Orang yang berpuasa Ramadhan hendaknya selalu menjalin dan menghidupkan kedua hubungan tersebut. Jangan sampai timpang dengan salah satunya. Beribadah dengan Allah secara ikhlas dan khusuk dan membantu saudara sesama manusia juga harus ikhlas dan rendah diri.

Karena keimanan dan ketaqwaan akan sempurna jika dibarengi dengan amal shaleh kepada sesama manusia sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hadiid ayat 7 yang Artinya: Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar.

Karena Ramadhan adalah bulan rahmah (kasih sayang), maka dari ayat di atas, bahwa ibadah sosial yang baik ketika berpuasa adalah berinfak dan shadaqah kepada saudara-saudara kita bagi yang membutuhkan, seperti berbagi takjil, sembako, dan sebagainya. Dengan sikap sosial yang tinggi, perhatian, atensi, empati, simpati kepada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang berada dalam posisi sulit dalam kehidupannya. Maka hatinya senantiasa akan bersih dan peka, sehingga spiritualnya akan selalu naik.

Bacaan Lainnya

Ramadan merupakan bulan penuh keberkahan dan kemuliaan, maka hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensional, tak hanya moral dan spiritual, tetapi juga sosial. Puasa tak hanya membentuk kesalehan individual melainkan sekaligus juga kesalehan sosial. Dalam kenyataannya, masih terdapat ketimpangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Masih ada orang yang saleh secara individual, namun  kurang saleh secara sosial. Kesalehan individual kadang disebut juga dengan kesalehan ritual, karena lebih menekankan dan mementingkan pelaksanaan ibadah ritual.

Disebut kesalehan individual karena hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri. Sementara pada saat yang sama mereka tidak memiliki kepekaan sosial, dan kurang menerapkan nilai-nilai islami dalam kehidupan bermasyarakat.  Sedangkan kesalehan sosial menunjuk pada perilaku yang sangat peduli dengan nilai-nilai islami, yang bersifat sosial. Dalam Islam, kedua corak kesalehan itu merupakan suatu keniscayaan dan harus dimiliki seorang Muslim. Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritualnya, tetapi juga dilihat dari output sosialnya.

Puasa merupakan sarana untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa (ta’dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia yang kamil dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa yakni takwa. Takwa dan kesalehan sosial tak bisa dipisahkan. Dalam Kesalehan sosial juga tercakup kesalehan profesional. Kesalehan profesional menunjukkan sejauh mana perintah agama dipatuhi dalam kegiatan profesional.

Semoga di bulan Ramadhan ini, kita senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah swt. Sehingga bisa menjalankan ibadah puasa dengan sempurna. Dan selalu menyempurnakan keimanan baik secara individu maupun sosial.

 

Penulis: Mohammad Masruri

Pos terkait