Puisi Karya Suhari Putra Senja

Ada Apakah Denganmu

Tiba-tiba engkau datang merajuk

engkau katakan dengan muka ditekuk

bahwa aku adalah memang sudah jadi jodohmu

ibu pun telah bilang begitu

Bacaan Lainnya

kau menegaskan ucapanmu

Tercenung aku dalam kebisuanku ….

Belum sempat aku jawab

engkau gamit tanganku

dihadapan ibumu

dihadapan bapakmu

di hadapan penghulu

langsungkan peristiwa sakral itu

Qobiltu …

Di kamar bulan madu

kau lucuti semua pakaianmu

aku makin melongo tiada kedip

kau nangis menderu-deru

kau bilang,

kurang seksi kah bodyku

tidak!

bukan begitu …

kau sangat seksi sekali

bukankah kau sahabat karibku …

sayang sekali

suara kentongan dari petugas keamanan

perumahanku berisik mengusik

terbangunlah aku!

saat itu jam dua lewat tiga puluh

kembali kubayangkan wajahmu

wahai engkau sahabat karibku

sangat ayu wajahmu

sangat seksi bodymu

adakah ini sebuah firasat untukmu

 

Setiap Kudengar Lagu Itu

Entahlah …

Setiap kudengar Camelia III

Lagu dari Ebiet G Ade air mataku tiada terasa tumpah

anganku diseret ke masa itu

Di permadani lamunan aku tercenung

kenapa kau gugah lagi aku

Layaknya di lagu itu

Kau letakkan mawar di telapak tanganku

Kuletak kan kembali di meja serambi rumah

Kau pun memaku

Kau tatap aku dengan sayu

Kau seperti berbisik

sekarang aku sudah tahu

Melenggang pergi kau tinggalkan aku

mengapa kau tidak kukejar …

 

Akan kah

ini cintaku jatuh tersungkur lagi

di bebatuan

di kerikil

di kerakal

Terlampau dalam atau tinggi kah cintaku padamu

aku terlampau banyak berharap

hingga ketika tiada sesuai kena sarap

Terlampau agung kah engkau ku jangkau

hingga aku harus kembali memeluk sedih

karena cintaku ternyata bertepuk sebelah tangan…

aku hanyalah rakyat jelata

namun aku masih punya harga diri

aku tiada butuh santunan pemanis gincu

yang aku kutunggu janji mu kala itu

 

Gundah

Ini sepi siapa mau

Ini sedih siapa punya

Ku tanya padamu ombak yang bergemuruh

di ini pantai

Lautan Widuri

Di pantai lautan Widuri

Aku duduk menyendiri

Tersayat – sayat ku kenang oeristiwa itu

Sedih

Gundah

Dendam

Campur padu jadi satu

Seribu sembilan ratus sembilan satu

di penghujung waktu

Terakhir engkau buatkan puisi untukku

 

Oleh: Suhari Putra Senja

Pos terkait