Sosrokartono, Pemuda Jenius dengan 26 Bahasa dari Jepara (Bag.2)

Bhisma Dewabrata

Kecewa tidak bisa melanjutkan kuliah, Sosrokartono kemudian berdiam di Bandung. Ia mendirikan Perpustakaan Dar-oes-salam. Nah, dari perpustakaan yang didirikan itulah, Soekarno yang waktu itu kuliah di Bandung sering berkunjung. Tidak hanya berkunjung, Soekarno pun menjadikan Sosrokartono sebagai guru Spiritualnya.

Sosrokartono dikenl pula sebagai “dokter Cai”. Ia bisa menyembuhkan suatu penyakit dengan media air dan secaruk kertas dengan bertuliskan (rajah) huruf alif. Metode ini sampai sekarang masih dikenal, salah satunya Endangarie Soedarmodjo (60) Warga Bandung. Pada waktu kecil, saatnya badanya panas, oleh ibunya ia hanya diberi minuman air putih yang dicelup kertas putih segi empat bertuliskan huruf “alif” berwarna merah.”biasanya tidak lama langsung sembuh” ujarnya seperti dikutip pada Kompas 19 Juli 2014.

Sosrokartono, awalnya tidak mengetahui kemampuanya. Hingga Pada Tahun 1912, terdengar berita tentang sakitnya seorang anak berumur lebih kurang 12 tahun. Anak itu adalah anak dari kenalannya yang menderita sakit keras, yang tak kunjung sembuh meki sudah diobati oleh beberapa dokter.

BACA JUGA :  Polres Pemalang Musnahkan Barang Bukti Hasil Ops Pekat

Dengan dorongan hati yang penuh dengan cinta kasih dan hasrat yang besar untuk meringankan penderitaan orang lain, saat itu juga beliau menjenguk anak kenalanya yang sakit parah itu. Sesampainya di sana, beliau langsung meletakkan tangannya di atas dahi anak itu dan terjadilah sebuah keajaiban. Tiba-tiba si bocah yang sakit itu mulai membaik dengan hitungan detik, dan hari itu juga ia pun sembuh.

Kejadian itu membuat orang-orang yang tengah hadir di sana terheran-heran, termasuk juga dokter-dokter yang telah gagal menyembuhkan penyakit anak itu. Setelah itu, ada seorang ahli Psychiatrie dan Hypnose yang menjelaskan bahwa sebenarnya Drs. R.M.P. Sosrokartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme yang besar sekali yang tak disadari olehnya.

Sosrokartono  juga dikenal sebagai ahli tasawuf, ia perlahan menarik diri dari arus keramaian. Ia menyepi untuk bertafakur, menjalani hidup tanpa seorang istri. Ia hidup layaknya brahmacarin, tidak menikah, dan menjauhi kekuasaan, meskipun pada dasarnya ia sanggup. Sosrokartono lebih dikenal di barat, sebagai seorang jenius dari timur.

BACA JUGA :  Drainase Buruk, Kawasan Dinar Semarang Banjir Lagi, Pemkot Merasa Belum Bertanggung Jawab

Ajaran penting dari Sosroakrtono adalah Catur Murti atau empat dalam satu, yaitu menyatukan pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan untuk dijalankan. Raden Mas Sosro juga meninggalkan ajaran tentang kebersahajaan hidup, yang paling kita kenal diantaranya :

Sugih tanpa banda

Ngelmu tanpa aji

Ngluruk tanpa bala

Menang tanpa ngasorake

Artinya :

kaya tanpa harta

berilmu tanpa senjata

kemanapun sendiri, dan

menang tanpa merendahkan

Kisah hidupnya hampir seperti Bhisma Dewabrata. Seorang Brahmacarin, Lelaki sakti putri Dewi Gangga, ia menolak tahta Astina dan Cinta dewi Amba. Bedanya, kematian Bhisma di Kurusetra ditangisi Pandawa maupun Kurawa, dan sejenak pertarungan Bharatayudha berhenti sekian waktu. Ajalnya begitu riuh oleh keengganan melepas raga.

Namun Sosrokartono begitu amat suka sepi. Penjaga makam RM Sosrokartono, Sunarto (55) mengatakan jarang ada pejabat maupun politisi berziarah ke makam Sosrokartono.”mungkin ia gentar dengan ajaran eyang Sosro” ujarnya.

Historia Docet !!

Faizal AS, Editor Mediakita.co

Tinggal di Sikasur, Belik