Tafsir Sastra, Hegemoni Dalam Kekuasaan Jawa
Seseorang turis membaca sejarah tentang penciptaan dan sejarah berdirinya Borobudur di tanah Jawa saat matahari terbit. GETTY IMAGES

LITERAKITA, Mediakita.co – Serial Seminar Sastra dengan tema, ”Membaca, Menelaah dan Menafsir Sastra” dilakukan untuk mencoba membuka praktik hegemoni dalam kekuasaan Jawa. Praktek hegemoni kekuasaan Jawa itu ternyata bisa dilihat misalnya di kisah Nagasasra dan Sabuk Inten yang berisi tentang cerita silat klasik, Selasa, (16/02/2021).

Seminar ini diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada UGM bersama Balai Bahasa Provinsi Yogyakarta (DIY). Seminar ini tembus 300 peserta, dipandu oleh Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra seminar ini berjalan lancar dan penuh antusiasme dari peserta.

Menurut Prof. Dr. RM Teguh Suprianto, M.Hum selaku pembicara dalam seminar tersebut, NSSI (Nagasasra dan Sabukinten) dalam pembahasan yang disampaikan, ada 7 macam aliran yang bisa dikatakan sebagai situs aliran ideologi. Empat di antaranya adalah mengenai sakti, agal, alus dan juga mitos-mitos.

Suprianto melihat NSSI mengandung tanda-tanda hegemonik yang berkaitan dengan kekuasaan Jawa dalam arti luas, bukan saja ketaatan pada Raja selaku penguasa tradisi dan kultural akan tetapi juga pada penguasa era modern.

BACA JUGA :  Makna Tinggi Janur Kuning Dalam Pernikahan

“Melalui mitos hegemonik, dapat menemukan common sense dan karenanya masyarakat baik secara sadar maupun tidak sadar seringkali menjadikan ideologi yang ada dalam NSSI telah dianggap sebagai kebenaran umum sehingga dipandang sebagai hal yang seharusnya,” Tutupnya di akhir presentasi.

Pandangan lainnya menurut Dr. Aprinus Salam, M.Hum selaku pembahas dalam seminar tersebut mengutarakan pendapatnya mengenai kemungkinan hegemoni, dan bagaimana kekuasaan Jawa menjadi bisa hegemonik.

“Pertama, terjadinya hegemoni itu membutuhkan waktu dan proses yang panjang, ini sama dengan semacam pewarisan ilmu dan pengetahuan itu sendiri,” paparnya.

Lebih lanjut ia juga menambahkan, struktur dan hierarki sosial, politik dan ekonomi membuat pihak-pihak yang mendapat kesempatan lebih luas akan memapankan atau melegitimasi posisinya.

“Tentu saja ada pengecualian, dalam sejarah Jawa yang lebih awal, terdapat subjek-subjek yang lebih keras dalam berbagai cara untuk menerobos partisi sosial hingga mendapat kedudukan penting, selalu ada selipan kisah misal sosok lembu peteng.” Jelasnya.

Masih menurut Dr. Aprinus Salam, kontruksi kekuasaan, praktik kekuasaan, dan mereka yang ada di dalam sistem kekuasaan tersebut, semuanya terhegemoni.

BACA JUGA :  La Barka, Rumah Penuh Cinta

“Bedanya, dalam posisi yang berbeda-beda, mereka mengelola wacana dan ideologi dominan untuk keperluan, kepentingan, dan tujuan masing-masing, termasuk diskusi kita kali ini,” Tutupnya.

Dalam diskusi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai. apakah asumsi bahwa cerita silat mendukung hegemoni bersifat unviversal.

Menurut Prof Teguh, hal tersebut termasuk universal, “Saya pikir universal,”

“Hegemoni secara alamiah adalah seuatu peristiwa kebudayaan yang diproses terus menerus sampai saat ini,” Tutup Dr. Aprinus Salam.

Kekuasaan hegemonik ditandai peristiwa kebudayaan yang terus menerus. Dan kekuasaan Jawa bisa menjadi hegemonik di dalam prakteknya apabila terkait peristiwa kebudayaan secara berkelanjutan, sehingga tanpa sadar kekuasaan menunjukkan kuasannya tanpa yang dikuasai merasa diperintah. (Fakriah/mediakita.co)