Tarif Bus Lokal Dongkal – Pemalang Ora Nggenah
Ilustrasi bus www.youtube.com

“Tapi sampai sekarang aku memang tidak mengetahui berapa tarif resmi yang diberlakukan, dari Pemalang ke randudongkal, ora nggenah (tidak jelas)”

 

Pemalang nama kabupaten dan pusat kota, Randudongkal kecamatan,-yang mungkin, terbesar di bagian selatan Pemalang. Namun, Randudongkal – Pemalang bukan sebentang jarak sekian puluhan kilometer. Waktu kecil, aku dan ibuku berkunjung ke Pemalang dengan bus, ia selalu menunujuk nama sebuah toko, Ia suruh padaku untuk membacanya, dari hal demikian aku lancar membaca sebelum sekolah.

Naik bus lokal jurusan Randudongkal – Pemalang sebuah keceriaan tak terhingga. Namun tidak pada masa kini, yang lekat kita sebut,-maaf, premanisme. Istilah ini dinisbatkan kepada salah satu ormas Islam yang gemar melakukan sweeping, merusak fasilitas umum, dan membubarkan diskotik maupun bar. Hanya berbekal pentungan dan keengganan untuk berdialog, dan sebuah takbir, mereka menyebutnya Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Simak cerita dibawah ini.)

Bus meninggalkan terminal Pemalang, si kernet menyisipkan berapa ribu kepada Calo di lokasi, dan ia berlalu. Kernet dengan bopeng  di wajah, rambutnnya panjang hampir menyentuh bahu, mulutnya bau rokok, dan tubuhnya berkeringat keringat. Celana levis butut ia tekuk di bagian bawah, kulitnya cenderung hitam daripada sawo matang.

Bus melewati persimpangan jalan, berhenti di pos polisi. Si kernet turun, Polisi menyambut senang, ia diberi beberapa lembar ribuan. Aku terhenyak, untuk apa polisi meminta retribusi, bukankah itu kewenangan dari Dinas Transportasi. Bukankah Polisi itu bagian penindakan hukum, bukankah kalo demikian Pungutan liar, tapi bukankah ini adalah bagian gratifikasi. Ah, mbuh.

Kembali ke bus, Tangan si kernet bergerak lincah menghitung fulus untuk setoran, ia dengan terampil meluruskan duit kusut meski bernilai seribu rupiah. Di bolak balik sedemikian rupa, yang besar dibagian bawah, yang bernilai kecil di atasnya. Sesekali tangan kirinya menyeka keringat yang mengalir di atas pelipis.

BACA JUGA :  Pakar : Dana Desa Perlu Pengawasan Hukum

Ia mengetuk pundak setiap penumpang, dan dengan sebuah anggukan , si penumpang langsung memberikan ongkos perjalanan.

“Randudongkal mas”. Penumpang itu menyerahkan uang sepuluh ribuan

“kurang 5 ribu”

“biasanya segitu mas” timpal si penumpang yang tampaknya seorang mahasiswa.

“harganya memang segini, kamu naiknya dari terminal” suaranya agak meninggi menanggapi protes penumpangnya. Matanya melotot, mukanya menunjukan ekspresi tidak suka

“lha aku kemarin naik bis lain segini mas” suaranya makin mengecil, hampir tak terdengar kecuali si kernet.

“lha bensin udah naik mas” si kernet menambah frekuensi suaranya.

Kemudian Hening, si penumpang merelakan untuk menambah lima ribu. Dialog tadi terdengar oleh semua penumpang, mereka yang awalnya kaget mendengar harga yang begitu tinggi membatalkan rencananya membayar separuh harga. Mungkin dalam hati mereka, ah sudahlah daripada nanti ribut dengan kernet.

Setelah aku merelakan lima ribuku, di belakangku duduk seorang tentara, dilihat dari pangkatnya ia masih Pratu, meski taksiranku ia sudah berkepala tiga. Ia membayar sekedarnya, dan si kernet berlalu, dan tidak ada wajah seram maupun nada protes yang ia tunjukan ketika ia menagih si mahasiswa. Kemudian semuanya hening, tak ada protes, hanya suara si kernet, ketika bus menurunkan dan menaikan penumpang.

BACA JUGA :  Antisipasi Gesekan Pendukung di KPU, Ratusan Personil Gabungan Disiagakan

Aku terhitung puluhan kali naik bus dengan nasib yang sama, dalam beberapa kesempatan ingin kutanyakan tentang penetapan tarif. Penetapan Tarif menjadi pedoman bagi perusahaan jasa transportasi untuk memungut tarif kepada penumpang. Sebagai contoh, tarif resmi bagi penumpang bis Solo-Semarang adalah Rp 25.000 untuk kelas Patas AC.

“Tapi sampai sekarang aku memang tidak mengetahui berapa tarif resmi yang diberlakukan, dari Pemalang ke randudongkal, ora nggenah (tidak jelas)

Namun kadang niatan untuk bertanya ini terantuk ingatan wajah sangar para kernet bus lokalan Pemalang, mereka aduhai ngototnya dan tidak mau kompromi, ah, Persetan apa itu tarif resmi. Dan tidak ada kisah penumpang memprotes tarif secara serempak, mereka seolah isitlah Freire (1997) adalah Kebudayaan Bisu.

Sebuah keadaan di mana sebuah kelompok masyarakat tidak bisa mengutarakan pendapatnya sendiri, sehingga diam dan membisu menjadi sebuah sikap yang pantas.

Melabeli sikap para kernet sebagai Premanisme, terlalu Hiperbolis, sekali lagi saya mohon maaf. Mungkin penumpang tidak masalah berapa mereka harus membayar, selagi itu adalah tarif resmi dan rasional. Namun dengan tidak ada kejelasan, dan sikap dan bertutur yang cenderung kasar, sekali lagi saya mohon maaf, untuk menyebutnya Premanisme. Maaf.

Adisurya Faisal, asal Sikasur Randudongkal, Pemalang