Mediakita.co – Tahukah bahwa Mbah Maoeneng merupakan pelarian dari Keadipatian Madiun? Tokoh cikal bakal berdirinya Dusun Mengoneng ini dahulu menolak menjadi Putra Mahkota Bupati Madiun. Kala itu R. Maoeneng diminta menggantikan jabatan ayahandanya.

“ Dia sebenarnya adalah seorang Putra Mahkota Bupati Madiun. R. Maoeneng sebenarnya menolak untuk menggantikan ayahandanya sebagai Bupati Madiun yang telah memasuki usia senja. R. Maoeneng tidak serta menolak atau menerima ketika diminta mau diangkat sebagai bupati Madiun. Hanya diam tanpa menjawab satu patah kata pun tentang perintah ayahnya”.

Muhamad Nur Khasan, 100 th, Juru kunci makam R. Maoeneng mengatakan, bahwa diamnya itu dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap perintah ayahnya yang berkedudukan sebagai Bupati. Betapa Mengoneng menyadari, bahwa perintah itu tidak semata-mata keluar dari seorang ayah kandungnya yang harus ditaati, tapi lebih tinggi lagi perintah itu derajatnya sama dengan Sabda Raja. R. Maoeneng memaknai perintah itu memiliki makna sakral, pemali jika tidak mengindahkan, karena mengandung filosofi “Tan Keno Ditolak”.

BACA JUGA :  Anggota Polres Pemalang Diminta Jauhi Narkoba

Tapi untuk menerima, R.Maoeneng (mengoneng) merasa tak kuasa. Sebab itu artinya telah mengingkari suara hatinya yang paling dalam. Entah mengapa, seperti ada panggilan lain di ruang batinnya, panggilan itu telah begitu menjiwa dalam dirinya. R. Maoeneng memilih tidak menggantikan ayahnya sebagai Bupati Madiun.

Singkat cerita, pantang bagi R.Maoeneng untuk berlama-lama dalam dilema. R.Maoeneng memutuskan teguh pada panggilan hatinya sebagai kesatria dan  tidak melukai makna “Sabda Raja”. R. Maoeneng pun memilih mengembara dan meninggalkan Pendopo Kabupaten Madiun.  Pengembaraan R. Maoeneng tanpa tujuan, tetapi ia sebagai berpanduan dari kata hatinya.

Di tengah perjalanannya, Maoeneng mendengar bahwa Kerajaan Madiun kejoderan diserang oleh lawan. Untuk menghadapinya, Raja Madiun membuat sayembara. “Barangsiapa mampu mengalahkan pemberontak Kabupaten Madiun, maka dialah yang akan di jadikan sebagai pengganti raja. Sebagai anak dan putra daerah Madiun, Maoeneng serta merta kembali ke Madiun untuk membela negaranya. Maoeneng yang dikenal sakti mandraguna, berhasil menundukan pemberontak dengan singkat,” ujar Mbah Muhammad Nur Khasan tadi.

BACA JUGA :  Pasar Loak Randudongkal Ini Ternyata Juga Menjadi Tujuan Bagi Pelaku Kreatif

Kemenangannya disambut gembira oleh seluruh rakyat Kerajaan Madiun. Dibalik kegempitaan kemenangan dan menjelang dinobatkannya sebagai Bupati menggantikan ayahnya, diam-diam Maoeneng memilih kembali pergi meninggalkan Madiun sebelum akhirnya bertemu dengan Bupati Pemalang R. Surodilogo ditengah hutan, ketika Maoeneng sedang duduk dibawah pohon besar tempatnya beristirahat dalam perjalanan “tapak” kakinya mengikuti matahari, ke barat. (R-01).