Adu Keberanian dan Kesaktian, Begini Para Jagal Menyembelih Kerbau Di Basse Sangtempe
Tradisi Penyembelihan Hewan di Basse Sangtempe

Bastem, mediakita.co – Indonesia sangat kaya dengan tradisi dan budaya. Banyak sekali tradisi-tradisi leluhur yang masih hidup dan berkembang dalam masyarakat tradisional. Tradisi-tradisi itu menjadi perekat solidaritas sosial bagi mereka yang menjalaninya.

Meski bagi masyarakat lain tradisi-tradisi tersebut seperti tak dapat dinalar dan bertentangan bagi agama-agama modern. Namun bagi masyarakat yang melakoninya itu adalah sesuatu yang masuk akal, sakral dan telah memelihara kehidupan dan solidaritas mereka turun temurun.

Salah satu masyarakat yang tetap memelihara tradisi leluhurnya hingga kini adalah masyarakat Basse Sangtempe (Bastem) di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Bastem adalah wilayah adat yang ada di perbatasan antara Toraja dan Luwu. Awalnya Bastem adalah kesatuan dari wilayah Toraja, namun setelah Indonesia merdeka Luwu dan Toraja terbagi menjadi kabupaten sendiri-sendiri. Bastem secara administraif menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Luwu.

Secara sosiologis budaya dan tradisi Bastem mirip dengan Toraja. Salah satunya tradisi pemakaman atau Rambu Solo’ dalam sebutan Bastem dan Toraja. Pada tradisi Rambu Solo’ ada ritual penyembelihan hewan seperti babi dan kerbau.

Kerbau bagi masyarakat Bastem dan Toraja memiliki makna sakral dan teologis menurut kepercayaan leluhur mereka. Selain itu kerbau juga adalah simbol kesejahteraa,  kekuatan dan kemuliaan.

BACA JUGA :  Sudah Berumur 58 Tahun, Tapi Semua Desa Di Basse Sangtempe Masih Berstatus Sangat Tertinggal dan Tertinggal. Kok Bisa?

Penyembelihan kerbau pada upacara rambu solo’ dilakukan pada hari tertentu biasanya sehari sebelum pemekaman. Para penyembelih ‘jagal’ atau pa’tinggoro dalam bahasa Toraja bukanlah orang sembarangan melainkan orang-orang berpengalaman, bernyali besar dan ‘sakti’.

Prosesi penyembelihan kerbau bagi para ‘jagal’ adalah ajang pertunjukan keberanian dan mungkin juga kesaktian. Acapkali ada kerbau yang tak tertembus dengan parang, atau tembus dengan parang tetapi tetap berdiri bahkan tetap memakan rumput seperti tidak terjadi apa-apa. Tak hanya itu kadang-kadang kerbau yang telah disembeli tersebut menaiki tangga rumah atau tempat para pelayat duduk.

Di Bastem jarang sekali kerbau yang disembeli diikat dengan tali, kalau pun ada yang diikat itu hanya sekedar berjaga-jaga, jika kerbau lari tidak terlalu jauh. Mereka yang mengikat kerbau saat menyembelihnya akan dianggap penakut dan akan menjadi bahan ejekan/bullying mereka yang menyaksikannya.  Bagi para jagal mengikat kerbau dengan kuat saat menyembelihnya itu artinya membunuh kerbau dua kali.

Kecuali kerbau yang dikhususkan bagi mereka yang beragama islam disembelih sesuai ritual dan kepercayaan islam. Biasanya diikat hingga tak berdaya sama sekali, lalu disembelih oleh mereka yang dipercayai. Selain itu semua kerbau akan ditebas begitu saja oleh para jagal.

BACA JUGA :  Uskup Agung Jakarta: Mengaku Beriman Tetapi Suka Berbohong dan Menyebarkan Hoaks Keimanannya Dipertanyakan

Ada aturan tidak tertulis jika para jagal tidak berhasil menumbangkan kerbau yang disembelihnya maka jagal lain bisa ambil alih dan mereka akan berbagi hasil dari upah daging yang diberikan.

Umumnya para pa’tinggoro jika berhasil menumbangkan kerbau yang disembelinya akan diberi upah daging di lingkaran leher kerbau yang disembelihnya, kira-kira setebal 10-20 cm atau setelapak tangan orang dewasa. Sebenarnya tidak terlalu banyak tetapi secara sosial hal itu memiliki makna yang penting. Jika mereka berhasil maka akan selalu dipercaya sebagai penyembelih/pa’tinggoro dalam acara yang lain.

Secara lengkap bagaimana cara para jagal menyembelih hewan kurban di Bastem? Dapat dilihat di Channel Youtube Ronald Rante Tandung @https://www.youtube.com/watch?v=VL_Bv6hKBME, putra Bastem yang banyak mendokumentasikan tradisi dan budaya dari Basse Sangtempe. Anda juga bisa menyediakan waktu untuk berkunjung menikmati budaya dan keindahan Basse Sangtempe. Ritual-ritual pemakaman biasanya dilakukan di masa-masa setelah panen atau masa libur sekolah. (prb/mediakita.co)