Arti Patung Gajah Di Daerah Sraten Kabupaten Semarang
Patung Gajah di Sraten (Istimewa)

Kabupaten Semarang,- Masyarakat Sraten, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, pasti sudah terbiasa melihat patung Gajah yang ada dipinggir jalan. Namun, mungkin belum banyak yang mengerti arti sejarah dari patung tersebut.

Ketua Pusat Studi Budaya Jawa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Dr.Tri Widiarto Soemardjan, menyebut dalam postingan di akun Facebook-nya bahwa patung Gajah tersebut tidak terlepas dari nama Desa Sraten.

“Secara etimologis berasal dari bahasa Jawa Kuno Srati, yaitu pawang Gajah. Dengan adanya kata Srati atau Sraten, berarti pada jaman Pengaruh Hindu-Budha di Jawa Tengah Abad 7 sampai 10 Masehi di daerah tersebut menjadi pusat keramaian paling tidak para Srati dan gajahnya tinggal di daerah tersebut”, ungkap Pengajar Sejarah di UKSW itu.

Gajah adalah binatang yang dianggap suci oleh Agama Hindu-Budha. Hal ini, menurut Tri, diperkuat dengan ditemukannya peninggalan Hindu dan Budha di sekitar Sraten. “Di daerah Candi Soba ditemukan Lingga, di Pulutan ditemukan Yoni yang cukup besar, di sepanjang patung gajah sampai Rowo Boni ditemukan Baturan candi, lingga, yoni, bahkan Candi Brawijaya di Rowoboni,” tulis Tri lebih lanjut

BACA JUGA :  Sambangi Ponpes Iqlima, Bripka Ari Gandeng Warga Ciptakan Kamtibmas Kondusif

Pendapat para ahli sejarah menguatkan hal itu. Bahwa jalur kuno di Salatiga adalah melalui jalur Banyubiru-Salatiga. Perjalanan Ziarah Ki Ageng Pandanaran dari Semarang ke Bayar lewat Salatiga tidak menyeberang Sungai Tuntang, tetapi lewat Banyubiru. Itu berarti Desa Sraten menjadi pusat keramaian pada jaman Pengaruh Hindu-Budha, dan jaman pengaruh Islam, karena letak nya sangat strategis di pinggir jalan perhentian perjalanan panjang dari Semarang menuju Salatiga, Solo, Klaten sebagai pusat pemerintahan Hindu-Budha.

“Ada juga pendapat bahwa Desa Sraten sebagai tempat istirahatnya para bangsawan dengan gajah dan Sratinya, gajah adalah alat transportasi pada masa Hindu-Budha”, tutur Tri.Dari penjelasannya, menurut Tri, ada dua nilai yang dapat kita ambil dari sejarah Desa Sraten. Pertama, Sraten, melambangkan toleransi, yaitu kerjasama yang erat antara pemeluk Agama Hindu-Budha waktu itu. Kedua, Sraten melambangkan kemakmuran, yaitu sebagai pusat keramaian dan perdagangan, Gajah adalah alat transportasi yang mewah pada masanya, dan Srati adalah profesi yang sangat terhormat pada masa Hindu-Budha. (sf/Mediakita.co).

BACA JUGA :  1,5 Hektar Sawah Terkena Abrasi