Headline

Kamis, 29 Januari 2026
ajibpol
OPINI

Asuransi SyariahTradisional Jadi Primadona

OPINI, mediakita.co- Dunia asuransi di Indonesia sedang mengalami pergeseran besar.

Tahun 2025 kemarin, justru menjadi titik balik. Masyarakat kini lebih cerdas, lebih berhati-hati dalam menginvestasikan uangnya.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami dahulu tentang ‘apa sebenarnya asuransi tradisional itu?’

Secara sederhana, asuransi tradisional adalah bentuk perlindungan murni.

Berbeda dengan Unit Link yang mencampurkan proteksi dengan investasi saham atau reksa dana, asuransi tradisional fokus sepenuhnya pada fungsi utama asuransi, yaitu perlindungan risiko.

Di tengah dinamika ini, model syariah dari produk tradisional muncul sebagai primadona baru Dalam dunia asuransi.

 

Produk ‘Sederhana’ tapi Paling Berkah dan Diminati.

1. Akhir dari Era Janji Manis Investasi

Kita harus jujur bahwa trauma terhadap fluktuasi nilai investasi di produk asuransi modern masih membekas bagi sebagian nasabah. Pada tahun 2025, kesadaran masyarakat telah bergeser dari ‘ingin untung’ menjadi ‘ingin aman.’

Asuransi Syariah Tradisional menawarkan proteksi murni tanpa embel-embel investasi yang rumit.

2. Prinsip Takaful, Gotong Royong yang Sebenarnya

Baca Juga :  Peringatan Kemerdekaan Bangun Imunitas, Melawan Radikalisme, dan Penyemaian Kepemimpinan Nasional

Konsep Takaful atau tolong-menolong menciptakan rasa aman yang berbeda.

Nasabah bukan sekadar ‘pembeli polis,’ melainkan bagian dari komunitas yang saling menanggung risiko. Mengetahui bahwa uang anda dikelola untuk membantu sesama peserta yang tertimpa musibah memberikan ketenangan batin yang tidak bisa dinilai dengan uang.

3. Transparansi dan Bebas dari Ketidakjelasan

Seringkali, konflik dalam asuransi muncul karena kerumitan kontrak. Asuransi syariah tradisional memotong semua kerumitan itu. Sesuai prinsip syariah, produk ini wajib bebas dari Gharar (ketidakjelasan) dan Maysir (spekulasi).

Tidak ada biaya-biaya tersembunyi yang membingungkan. Nasabah tahu persis berapa kontribusi yang diberikan, berapa yang dikelola sebagai dana cadangan, dan berapa yang menjadi hak pengelola (ujrah).

4. Relevansi di Tengah Ketidakpastian Global

Kondisi ekonomi global yang masih dinamis membuat orang enggan berspekulasi dengan proteksi dasar mereka. Asuransi syariah tradisional, dengan pengelolaan aset yang konservatif dan beretika, menawarkan stabilitas.

 

Kesimpulan

Tahun 2025 adalah tahun di mana kita berhenti mengejar angka semu di atas kertas dan mulai mengejar ketenangan dalam proteksi yang nyata. Asuransi Syariah Tradisional bukan sekadar produk keuangan; ia adalah pernyataan sikap bahwa perlindungan terbaik adalah perlindungan yang jujur, sederhana, dan beretika.

Baca Juga :  "Sepakat Di 14" Menawar Bekerja Film di Indonesia

 

Penulis: Seftiyani, Mahasiswi IAI SEBI.

Artikel Lainnya

Indeks Berita Memuat...Tidak Adal Lagi Postingan.