Begini Cara Rampak Sarinah Tulungagung Mengenang Nasionalisme Kartini
Rampak Sarinah Tulungagung

TULUNGAGUNG, mediakita.co – Group Kerawitan Rampak Sarinah melakukan kunjungan ke Kelompok Kerawitan Desa Segawe untuk berlatih bersama sekaligus merayakan Hari Kartini Rabu, (21/4/21). Kegiatan diikuti oleh 20 ibu-ibu yang dengan sengaja mengenakan kebaya dan berkain seharian.

Bagi Rampak Sarinah Kartini dikenang bukan hanya sebagai pemikir tetapi juga pejuang ekonomi rakyat cilik misalnya pengrajin batik dan pengukir kayu.

Hal itu terlihat dalam surat-surat Kartini yang dikrim ke Ratu Wilhelmina  berisi contoh-contoh produk Jepara dengan harapan mendapat perhatian dari pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu.

Wakil Ketua Rampak Sarinah Astinawati mengungkapkan bahwa pihaknya sedang memperjuangkan agar Pemerintah Tulungagung mengeluarkan kebijakan untuk menggunakan batik lokal Tulungagung sebagai kostum daerah demi menghidupkan sentra-sentra batik di Kab. Tulungagung.

“Rampak Sarinah Tulungagung juga sedang memperjuangkan agar ada surat bupati untuk kostum Tulungagungan dengan menggunakan batik lokal Tulungagung. Jika kebijakan itu ada, maka diharapkan akan menghidupkan sentra-sentra batik di Kab Tulungagung” kata Astinawati.

Sementara itu Sekretaris Rampak Sarinah mengungkapkan bahwa berkebaya dan berkain selama berkegiatan diharapkan dapat membantu mengenang berbagai gagasan dan pemikiran kebangsaan Kartini.

BACA JUGA :  6.990 Nakes Tegal Diprioritaskan Terima Vaksin Tahap Pertama

“Ibu Kartini dan kakaknya Sosrokartono adalah pioner gerakan kebangsaan sehingga kemerdekaan bangsa bisa diwujudkan. Jadi, kebaya bukan sekedar fashion tapi merupakan identitas budaya bangsa,” ungkap Mudrikah menjelaskan.

Untuk menguatkan penghayatan terhadap perjuangan emansipasi Kartini,  Rampak Sarinah juga memilih berkerawitan dan silaturahmi di kediaman Ibu Suharno yang juga pembina kesenian masyarakat Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung.

“Silaturahmi demikian akan kami teruskan ke kelompok-kelompok kesenian yang lain sehingga Rampak Sarinah bisa semakin diterima komunitas kesenian di Tulungagung,” sambung Mudrikah.

Kaum Ibu Rampak Sarinah Bermain Musik Karawitan

Ibu Sumarti dari Segawe menyambut baik kedatangan Rampak Sarinah karena menambah paseduluran (persaudaraan) sesama perempuan pecinta seni budaya tradisional.

“Ini bikin segar bagi tamu dan tuan rumah ya.. tambah semangat berlatih dengan dulur-dulur baru,” kata bu Sumarti sambil tertawa.

Astinawati, wakil ketua Rampak Sarinah menambahkan bahwa kunjungan tersebut akan membiasakan para anggota untuk bisa bermain profesional, dengan alat-alat milik siapapun tidak grogi.

“Kita berlatih memainkan gamelan dengan hati dan perasaan. Dimana saja dan kapan saja kita diminta main, kita mampu melakukannya,” jelas Astinawati.

BACA JUGA :  Rampak Sarinah Tulungagung Tawarkan Konsep Menari untuk Olah Raga Budaya 

Diskusi tentang seni dan gamelan sore itu dilanjutkan para ibu di Waduk Wonorejo yang bersebelahan dengan Desa Segawe. Kegiatan seharian ditutup dengan buka puasa bersama berbekal makanan yang dibawa dari rumah.

Kalau Kartini berpiknik di Pantai Jepara, ibu-ibu Rampak Sarinah berwisata air di Waduk Wonorejo Tulungagung yang juga tujuan wisata yang menyenangkan. (Redaksi/mediakita.co)