Headline

Jumat, 23 Januari 2026
ajibpol
JAKARTANASIONAL

Budaya Digital Dibahas dalam Acara Ngobrol Bareng Legislator

JAKARTA, mediakita.co-  Budaya Digital jadi pembahasan utama dalam kegiatan Ngobrol Bareng Legislator, Sabtu (13/12/2025).

Kegiatan yang berbasiskan daring ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Komunikasi dan Digital dengan Komisi I DPR RI.

Narasumber terdiri dari Ruth Naomi Rimkabu Anggota Komisi I DPR RI, Syariful Dosen Psikologi Universitas Bina Bangsa Indonesia (UNIBI) dan E. Rizky Wulandari Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA AWS).

Dalam sambutannya, Ruth Naomi Rimkabu, mengajak seluruh peserta untuk memahami kembali makna budaya sebagai landasan pembahasan budaya digital.

Bahwa budaya digital tidak dapat dipisahkan dari etika, karena etika menjadi pedoman berinteraksi di ruang digital.

Tak lupa dirinya pun mengingatkan pentingnya tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya dan yang merugikan orang lain.

Ia mengajak peserta menanamkan budaya dan etika digital yang baik.

 

Penyampian Materi dari Akademisi

Diskusi dilanjutkan oleh Syariful yang menjelaskan budaya digital dari perspektif psikologi.

Kata dia, ada perubahan pola interaksi manusia akibat pergeseran dari komunikasi tatap muka menuju komunikasi virtual melalui pesan teks, emoji, dan voice note yang berlangsung cepat dan instan.

Baca Juga :  Komnas HAM Rekomendasikan Penundaan Pilkada Serentak 2020

Perubahan ini dapat mengurangi kedalaman emosional dalam komunikasi dan membuat individu lebih sulit memahami konteks empati, sehingga meningkatkan risiko miskomunikasi dan kesalahpahaman.

Baginya, budaya digital memengaruhi proses kognitif, emosi, motivasi, serta pembentukan konsep diri, termasuk kecenderungan pencitraan diri, kebutuhan validasi sosial, dan perbandingan sosial yang dipengaruhi sistem likes, komentar, dan algoritma.

Selain itu, pentingnya kesadaran terhadap rekam jejak digital.

Ia menyimpulkan bahwa budaya digital perlu dibangun dengan penguatan empati, literasi emosi, serta pengendalian diri agar ruang digital menjadi ruang sosial yang sehat, suportif, dan menjaga kesehatan mental.

Sedangkan narasumber E. Rizky Wulandari, menyampaikan data, bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat penggunaan teknologi digital dan media sosial yang tinggi.

Pihaknya berpandangan, perbedaan generasi sering memicu perdebatan di ruang digital, terutama di kolom komentar, yang kerap disertai rendahnya etika dan empati.

Maka dari itu, perlu adanya etika saat bermedia sosial.

Agar ruang digital semakin baik, diperlukan empat pilar literasi digital, yaitu kecakapan, keamanan, budaya dan etika digital.

Baca Juga :  Perhatikan, 7 Tahapan Pendaftaran SNMPTN 2021

Peserta acara juga diajak untuk merespons informasi secara rasional dengan membiasakan verifikasi sumber dan konteks sebelum mempercayai maupun menyebarkan konten.

Pada bagian akhir, narasumber menampilkan contoh kasus penyebaran hoaks yang berdampak buruk.

 

Respon Peserta Usai Narasumber Menyampaikan Materi

Salah satu pertanyaan peserta menyoroti dampak psikologis ancaman digital dan upaya membangun perilaku aman.

Menanggapi hal tersebut, Syariful menekankan bahwa fondasi perilaku aman adalah kesehatan mental yang stabil agar individu tidak tergesa-gesa dalam bertindak di ruang digital, mampu mengelola emosi, mengenali batas diri, serta menghindari relasi yang bersifat toksik.

E. Rizky menambahkan bahwa paparan konten negatif dapat memicu reaksi emosional dan mengganggu hubungan sosial.

 

Kesimpulan

Ketiga narasumber sepakat, pentingnya membangun ruang digital yang aman melalui literasi, etika, pengendalian emosi, dan kebiasaan memverifikasi informasi.

Artikel Lainnya

Indeks Berita Memuat...Tidak Adal Lagi Postingan.