Menurutnya, sebelum dan sesudah diterbitkannya Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), MUI bahkan tak pernah menjalankan tugas dan fungsi memegang label halal.
Sejauh ini, MUI hanya terlibat dalam proses fatwa dan penerbitan sertifikat halal sebelum aturan itu disahkan.
“Sebagian orang yang mengatakan label halal berpindah dari MUI ke BPJPH atau BPJPH mengambil alih label halal dari MUI, itu nggak benar,” kata Asrorun, di Jakarta, Jumat (18/0/2022).
Hal itu disampaikan untuk menanggapi banyaknya anggapan masyarakat bahwa Kemenag telah mengambil alih pembuatan label halal dari MUI. Menyusul banyaknya sorotan terkait logo baru yang sebagian pihak menilai mirip dengan gunungan wayang.
Asrorun menandaskan bahwa label halal merupakan domain dan fungsi yang dilakukan oleh negara. Maka sebelum UU JPH disahkan, wewenang penerbitan label halal pun berada di bawah Kementerian Kesehatan dan BPOM.
Hanya saja, dalam pelaksanaaanya BPOM dan MUI membangun kesepahaman bersama bahwa bentuk label halal yang diterbitkan mengikuti MUI.
“Di mana label halal itu jadi label pangan yang jadi domain BPOM didasarkan UU tentang Pangan. Di mana harus memuat keterangan halal,” kata Asrorun menambahkan.
Setelah UU tentang JPH disahkan, Asrorun mengakui bahwa BPJPH Kemenag memiliki kewenangan untuk menerbitkan label halal tersebut.
“Jadi intinya, perpindahan kewenangan label halal ini bukan dari MUI ke BPJPH. Tapi dari BPOM ke BPJPH. Sebelumnya dari Depkes ke BPJPH,” tandasnya.
Arti dan Filosofi Logo Halal Baru ….
Arti dan Filosofi Logo Halal Baru
Sebelumnya, Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham menjelaskan, logo halal yang baru itu secara filosofi mengadaptasi nilai-nilai ke-Indonesiaan. Menurutnya, bentuk dan corak yang digunakan merupakan artefak-artefak budaya yang memiliki ciri khas unik dan berkarakter kuat, merepresentasikan halal Indonesia.
Bentuk Label Halal Indonesia terdiri atas dua objek, yaitu bentuk gunungan dan motif surjan atau lurik gunungan pada wayang kulit yang berbentuk limas, lancip ke atas.
“Ini melambangkan kehidupan manusia. Bentuk gunungan itu tersusun sedemikian rupa berbentuk kaligrafi huruf arab yang terdiri atas huruf Ḥa, Lam Alif, dan Lam dalam satu rangkaian sehingga membentuk kata Halal,” jelasnya.
Meenurut Aqil, bentuk logo baru tersebut menggambarkan semakin tinggi ilmu dan semakin tua usia, maka manusia harus semakin mengerucut (golong gilig) manunggaling Jiwa, Rasa, Cipta, Karsa, dan Karya dalam kehidupan, atau semakin dekat dengan Sang Pencipta.
Sementara, untuk motif surjan yang juga disebutnya sebagai pakaian takwa mengandung makna-makna filosofi yang cukup dalam. Di antaranya bagian leher baju surjan memiliki kancing tiga pasang atau enam biji kancing yang kesemuanya itu menggambarkan rukun iman.
Selain itu motif surjan/lurik yang sejajar satu sama lain juga mengandung makna sebagai pembeda/pemberi batas yang jelas.
“Hal itu sejalan dengan tujuan penyelenggaraan Jaminan Produk Halal di Indonesia untuk menghadirkan kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian ketersediaan produk halal bagi masyarakat dalam mengonsumsi dan menggunakan produk,” jelas Aqil.
Label Halal Indonesia menggunakan ungu sebagai warna utama label dan hijau toska sebagai warna sekundernya.
“Warna ungu merepresentasikan makna keimanan, kesatuan lahir batin, dan daya imajinasi. Sedangkan warna sekundernya adalah Hijau Toska, yang mewakili makna kebijaksanaan, stabilitas, dan ketenangan,” katanya.
“Ini sebagai penanda yang memudahkan kita semua seluruh masyarakat Indonesia dalam mengindentifikasi produk yang telah terjamin dan memiliki sertifikat halal yang diterbitkan oleh BPJPH,” ujar Aqil.
Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama menetapkan logo halal yang baru. Logo halal teranyar ini akan berlaku secara nasional dan wajib ada di kemasan produk sebagai tanda kehalalan produk dan kepemilikan sertifikat halal yang diakui pemerintah.