Pemilu AS : Mirip di Indonesia, Tuduh Pemilu Curang Trump Minta Bawa Kasus Ke MA
Tump, dalam pidato pdananya pasca pmilu AS

SEJAGAD, mediakita.co- Pemilu Amerika Serikat (AS) telah berakhir. Calon presiden petahana Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Donald Trump, menyampaikan pidato perdananya dengan mengungkapkan kekecewaannya setelah pemilu AS berakhir.

Menurut Trump, terdapat banyak pelanggaran dan kecurangan yang merugikan dirinya. Padahal menurutnya, pihaknya sudah mempersiapkan pidato kemenangan yang akan disampaikan di depan para pendukungnya. Seraya meyakinkan bahwa capres pilihan merekalah yang memenangi pertarungan.

“Jutaan orang telah memilih untuk kami, namun sekelompok orang berniat untuk menghancurkan suara-suara itu. Saya meminta seluruh voting dihentikan dan saya akan melayangkan gugatan ke Mahkamah Agung” kata Trump pada Rabu (4/11/2020) dini hari waktu setempat dikutip dari AFP.

Untuk itu, Trump berjanji akan membawa kekesalannya ke Mahkamah Agung.

“Ini adalah penipuan terhadap negara kita, sebuah hal yang memalukan bangsa. Terus terang, kita memenangkan Pemilu ini” tukas trump dalam pidatonya.

Pidato Trump ini disampaikan ditengah penghitungan suara yang masih terus dilakukan di seluruh penjuru Amerika.

Dikutip dari BBC, data yang masuk 40 dari 50 negara bagian menunjukkan Biden unggul tipis 220 dibandingkan Trump dengan 213. Kandidat harus mengantongi 270 suara dewan elektoral untuk dapat maju ke Gedung Putih.

BACA JUGA :  Sandiaga Uno, Bangga Berdiskusi dengan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban yang Anti Islam

New York Times menyebut Joe Biden berpeluang menang apabila memenangkan salah satu dari tiga negara bagian yakni Florida, Georgia, dan North Carolina. Namun, Trump sudah menguasai Florida, wilayah yang menjadi rebutan dua kandidat karena Demokrat dan Republik tak dominan di daerah ini.

Sementara, jajak pendapat Edison Research juga melihat bahwa Biden memimpin Trump di antara pemilih non-kulit putih. Setidaknya 11% orang Afrika-Amerika, 3% Hispanik, dan 30% orang Asia-Amerika memilih  Trump.

Pada pilpres 2020, terdapat peningkatan partisipasi pemilih. Jumlah pemilih di tahun ini mencapai 160 juta, angka ini melampaui 138 juta pemilih dari pemilu 2016.  Edison Research mengungkapkan bahwa sepertiga pemilih memutuskan untuk berpartisipasi dalam pemilu karena melihat permasalahan ekonomi di negara tersebut. Sementara itu, empat dari sepuluh pemilih mengatakan penanganan pandemic sangat buruk.

Pantauan US Election Project University of Florida mencatat, lebih dari 100 juta pemilih telah memberikan hak suaranya dalam early voting, melalui pos maupun secara langsung. Angka ini memecahkan rekor partisipasi pemilih tertinggi sejak pemilu 1908.

BACA JUGA :  Benarkah mengonsumsi Jahe Bisa Mencegah COVID-19?

Sistem pilpres AS menggunakan Dewan Elektoral untuk menentukan kandidat yang layak maju ke Gedung Putih. Setiap negara bagian memiliki elektor yang memberikan suara mereka untuk memilih presiden. Dewan Elektoral akan memberikan keputusan akhir pada 14 Desember mendatang. Pengumuman pemenang presiden pada 6 Januari 2021 dan pelantikannya pada 20 Januari 2021.

Penulis : Tim Redaksi/mediakita.co