Headline

Jumat, 6 Februari 2026
ajibpol
NASIONAL

Penyatuan Luwu Raya dan Toraja, Poros Baru Kekuatan Sulawesi

Luwu Raya Toraja, Mediakita.co. Penyatuan Toraja ke dalam perjuangan bersama pembentukan Provinsi Luwu Raya bukan sekadar urusan administratif untuk menambah luas wilayah, melainkan sebuah strategi besar untuk menyatukan sebuah kekuatan baru di wilayah sulawesi “Otot Ekonomi” Luwu dengan “Wajah Internasional” Toraja. Gabungan kedua wilayah ini akan menciptakan sebuah poros kekuatan baru yang mandiri secara politik dan kompetitif secara ekonomi, menjadikannya kekuatan ekonomi kedua terbesar di Pulau Sulawesi setelah Sulawesi Selatan.

Kontribusi Ekonomi vs. Realitas Kesenjangan

Data menunjukkan bahwa Luwu Raya dan Toraja adalah donatur dari Sumber Daya Alam (SDA) bagi kekayaan dan branding image bagi Sulawesi Selatan. Kedua daerah ini menyumbang rata-rata 18% pendapatan per tahun bagi provinsi induk melalui eksplorasi SDA dan sektor pariwisata (BPS Sulsel dan DJPK Kemenkeu, 2024).
Toraja meski secara angka nominal menyumbang porsi yang lebih kecil dibanding Luwu, namun memegang peran krusial sebagai penyumbang citra (branding) internasional dan devisa internasional terbesar bagi Sulawesi Selatan.
Ironisnya, meski menjadi penyumbang penghasilan besar, wilayah-wilayah ini justru terjebak dalam angka kemiskinan yang relatif tinggi (Luwu Utara: 12-13%, Toraja: 11-12% bandingkan dengan Makassar yang terendah 4-5% dan Pangkep yang tertinggi 13-14%) (BPS Sulsel, 2025).
Kesenjangan ini merupakan dampak dari kebijakan yang bersifat “South Centric” atau berpusat di wilayah Selatan (Makassar dan wilayah Bosowas). Pembangunan infrastruktur jalan pun menunjukkan perbedaan mencolok; kemantapan jalan di Makassar dan Gowa mencapai >90%, sedangkan di Luwu Raya 60%-70%, dan Toraja berada di bawah 60% akibat medan pegunungan yang rawan longsor (KemenPU, 2025).

Akar Kultural dan Kesejarahan yang Tak Terpisahkan

Narasi pembentukan daerah otonomi baru ini memiliki fondasi sosiologis yang sangat dalam. Toraja dan Luwu bukan dua entitas asing, melainkan saudara tua yang dipersatukan oleh mitologi, ritual, dan sejarah administrasi.
1. Ikatan Mitologis: Masyarakat meyakini hubungan darah “Kakak-Adik” antara penguasa Luwu (Pajung Luwu) dan Toraja.
Sosok Lakipadada yang mengembara mencari mustika keabadian (undaka tang mate) yang pada ahirnya memperistri bangsawan Gowa, kemudian diangkat menjadi raja Gowa, penguasa baru yang bijak.
Dia memiliki tiga orang anak, yang kemudian menjadi penerusnya dan mengembangkan kerajaan-kerajaan lain di jazirah sulawesi.
– Pattalan Bantan yang bergelar Tomatasak ri Toraja
– Pattala Merang bergelar Sombari Gowa
– Pattala Bunga beregelar Pajung ri Luwu
2. Kesatuan Administratif: Pada masa Hindia Belanda (1904-1906), Toraja dengan Nama Afdeling Makale dan Rantepao secara resmi merupakan onderafdeeling (sub-divisi) di bawah Afdeeling Luwu. Kebersamaan ini berlangsung hingga tahun 1950-an, sebelum akhirnya Toraja secara final terpisah menjadi kabupaten sendiri pada 1957 (difinalisasi 1959).
3. Filosofi Hidup: Meskipun berbeda keyakinan (Islam di Luwu dan Kristen di Toraja), keduanya disatukan oleh falsafah “Mesa Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate” (Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh).

Baca Juga :  Update Covid-19 : 1 Juni Bertambah 467, Total 26.940, Ini 5 Provinsi Tertinggi di Indonesia

Sinergi Ekonomi Anti Resesi

Penyatuan ini akan membentuk ekosistem ekonomi yang lengkap, mandiri, dan tahan terhadap guncangan (anti-resesi).
1. Luwu Timur (Mesin Pertumbuhan): Memiliki deposit nikel terbesar di dunia (PT Vale Indonesia) yang mendominasi PDRB hingga >45%. Ini memberikan kapasitas fiskal yang kuat bagi provinsi baru (BPS Lutim, 2023-2025).
2. Toraja (Stabilitas & Branding): Menyumbang aset non-ekstraktif berupa pariwisata budaya dan kopi premium. Sektor pariwisata Toraja mampu menarik lebih dari 40.000 wisatawan mancanegara per tahun. Kopi Arabika Toraja yang berproduksi 3.000-4.000 ton per tahun memiliki Sertifikat Indikasi Geografis (IG), sebuah aset kekayaan intelektual komunal yang sangat mahal.
Integrasi logistik akan terjadi secara luar biasa. Jika selama ini kopi Toraja harus menempuh 8-12 jam ke Makassar untuk diekspor, dengan adanya provinsi baru, ekspor dapat difokuskan melalui Pelabuhan Tanjung Ringgit di Palopo, yang berpotensi memotong biaya logistik hingga 30-40%.

Mengakhiri Isolasi dan ‘Brain Drain’

Selama puluhan tahun, terjadi fenomena “Brain Drain” (pelarian orang pintar) di mana warga Luwu dan Toraja harus bermigrasi ke Selatan untuk mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan terbaik. Fasilitas medis rujukan (RS Tipe A/B) menumpuk di Makassar (>10 RS), sementara di Luwu Raya dan Toraja masing-masing hanya memiliki satu rumah sakit rujukan. Hal ini sangat berisiko karena warga Luwu Timur harus menempuh perjalanan darat 8-12 jam hanya untuk mendapatkan layanan medis darurat. Demikian dengan sarana dan prasarana pendidikan yang baik terpusat di Makassar.
Dengan Pembentukan Pemerihan Yang baru, kekuatan Toraja dan Luwu dalam mendorng peningkatan kuliatas SDM ditunjang oleh dukungan Sejumlah Universitas di Toraja dan Luwu menjadi Kekuatan Baru bagi pengambangan Sumber Daya Manusia di Sulewesi selain Makassar.

Baca Juga :  Rizieq Sendiri yang Kabur Ke Arab, Tak Mengakui Pemerintah, Eh Kok Protes Tak Dapat Bantuan Hukum Pemerintah

Kota Palopo Sebagai Pemerintahan

Dengan pembentukan provinsi baru, pusat pemerintahan kemungkinan besar akan berada di Kota Palopo. Hal ini akan:
1. Memangkas Jarak Birokrasi: Waktu tempuh untuk urusan administrasi tingkat provinsi (perizinan, sertifikasi) akan berkurang hingga 70-80%.
2. Pemerataan Pembangunan: Anggaran tidak lagi dibagi untuk 24 kabupaten/kota di Sulsel, melainkan fokus pada 6 wilayah saja (Luwu, Lutra, Lutim, Palopo, Tana Toraja, Toraja Utara).
3. Optimalisasi Infrastruktur: Pembangunan akan difokuskan pada “Sabuk Transportasi” utara, termasuk pengembangan Bandara Bua di Luwu dan Bandara Toraja (Buntu Kunyi).

Geopolitik dan Integrasi Ekologis

Secara administratif, penggabungan ini adalah solusi untuk memenuhi syarat minimal 5 kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi baru. Dengan masuknya Tana Toraja dan Toraja Utara, jumlah wilayah genap menjadi 6 kabupaten/kota. Wilayah gabungan ini memiliki luas lebih dari 20.000 km²—lebih luas dari Provinsi Bali atau Banten—dengan total populasi mencapai 1,7 juta jiwa.
Selain itu, terdapat aspek Integritas Ekologis. Toraja adalah daerah tangkapan air (catchment area) di mana sungai-sungai besar yang mengairi persawahan di dataran rendah Luwu berhulu di sana. Penyatuan dalam satu payung pemerintahan menjamin ketahanan lingkungan dari hulu ke hilir, mencegah kerusakan hutan yang bisa menghancurkan pertanian di dataran rendah.

Menjemput Masa Depan yang Berkeadilan

Penyebab ketertinggalan wilayah utara selama ini berakar pada Politik Anggaran (Pork Barrel Politics) yang lebih memihak pada basis massa elit di wilayah Selatan. Membangun 1 km jalan di Toraja memang lebih mahal 3-5 kali lipat dibanding di dataran rendah, namun itu bukan alasan untuk mengabaikan hak masyarakat atas infrastruktur yang layak.
Pembentukan provinsi gabungan Luwu Raya Toraja bukan sekadar ambisi politik, melainkan jalan keluar rasional untuk mendekatkan negara kepada rakyat. Menyatunya Toraja dan Luwu akan membentuk poros kekuatan baru yang tidak hanya mandiri, tetapi juga sejahtera dan bermartabat serta terbesar kedua di Pulau Sulawesi.
Penyatuan ini adalah solusi paling nyata untuk membawa pembangunan yang benar-benar menyentuh hingga ke puncak gunung Toraja dan pesisir Teluk Bone. (Sumber: Divisi Pengkajian Provinsi Luwu Raya Toraja).

Artikel Lainnya

Indeks Berita Memuat...Tidak Adal Lagi Postingan.