Penyatuan Pusaka Simbol Persatuan Unsur Pemerintah Daerah

PEMALANG, mediakita.co- Menjelang tiba hari jadi Kabupaten Pemalang, dilakukan sebuah prosesi penyatuan pusaka. Pusaka dibawa dari balai rakyat dprd menuju ke pendopo bupati.

Prosesi penyatuan pusaka ini digelar pada Kamis malam tadi (19/1/2023). Diikuti oleh unsur eksekutif dan legislatif.

Prosesi ini mengandung maksud untuk menyamakan persepsi antara bupati dengan dprd. Hal ini diungkapkan oleh Plt Bupati Pemalang.

“Harapannya dengan adanya acara ataupun prosesi ini hubungan kami (eksekutif) dan legislatif, kedepannya bisa lebih erat lagi. Karena apa, pemerintah daerah itu terdiri dari eksekutif dan legislatif, tidak bisa kemudian berjalan sendiri-sendiri,” ungkap Plt Bupati, Mansur Hidayat.

Prosesi juga dapat menjadi simbol persatuan.

Bacaan Lainnya

“Boyong pusaka dari sana (dprd) kesini (pendopo), juga menjadi simbol persatuan. Tidak ada lagi sekat-sekat tertentu,” kata Plt Bupati Pemalang.

Sementara itu, pemerhati budaya yang juga menjadi anggota DPRD Pemalang, Rabadi, menuturkan, pusaka yang diboyong ke pendopo ini ada 2 pusaka.

“Boyong pusaka ini ada 2 pusaka, yang mana ini adalah 1 pasang. Pertama adalah Keris Kyai Sitapak dan kedua adalah Keris Kyai Simongklang,” tuturnya.

Ia pun menceritakan secara singkat mengenai riwayat dibuatnya 2 keris tersebut.

“Keris ini dibuat pada saat keadaan berantakan. Terjadi kekacuan dimana-dimana, kemudian dibuatlah keris ini dan pada akhirnya tercipta ketentraman,” ucap dia.

Sebagai informasi, kedua keris ini memiliki panjang 103 cm. Keris juga memiliki pamor banyumili, sedangkan luk (lekukan) keris sebanyak 13.

 

Oleh: Arief Syaefudin

Pos terkait