Proyek Jalan Jalur Bua-Rantepao Terkesan Asal-Asalan, Warga Desak Polisi dan KPK Turun Tangan
Kondisi jalan Bastem yang proyeknya belum selesai tapi sudah rusak

SULSEL, mediakita.co – Masyarakat Wilayah Adat Basse Sangtempe’ (Bastem) menyambut gembira proyek pembangunan jalan yang dicanangkan mantan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah yang menghubungkan Kota Palopo dengan Toraja Utara.

Proyek yang diperkirakan memakan anggaran lebih dari 200 miliar tersebut mulai dikerjakan sejak tahun 2020 lalu melintasi Bastem sepanjang 40 km.

Berdasarkan pantauan mediakita.co yang menyusuri jalur Rantepao hingga desa Dampan Bastem Utara proyek penuh harapan masyarakat Bastem tersebut masih terus dikerjakan dan baru selesai sekitar 30 persen.

Terlihat oleh pantauan mediakita.co bahwa jalur yang sudah beraspal adalah jalur perbatasan Toraja Utara dan Kabupaten Luwu di Buntao hingga Rantebua sekitar 10 km dan jalur sepanjang desa Pantilang dari Toma’ka’ hingga Desa Dampan Bastem Utara sekitar 7 km sisanya masih pengerasan dan perintisan.

ajibpol
Tiang listrik yang tumbang dibiarkan begitu saja

Proyek jalan yang memakan APBD cukup besar tersebut belum bisa dilalui oleh kendaraan umum kecuali kendaraan milik warga sekitar yang jumlahnya sangat terbatas dan mayoritas kendaraan roda dua.

Meski demikian kerusakan parah sudah terjadi di mana-mana. Sebagian besar sudah berlubang, retak dan longsor. Tak hanya itu beberapa jalur tak memiliki drainase sehingga material-material lumpur tertumpuk di badan jalan saat hujan terjadi.

Menanggapi hal tersebut warga Bastem banyak yang mengelukan kualitas dari proyek jalan tersebut.

BACA JUGA :  Pemkab Pemalang Lakukan Monitoring dan Evaluasi Penanganan Covid-19

‘Kualitas aspal yang digunakan jelek sekali, belum dilalui kendaraan umum tapi sudah berlubang di mana-mana, terkelupas dan retak-retak’ ungkap RN salah seorang warga Bastem Utara.

Sementara itu Ketua Pemuda Bastem Jayapura Yonas Randan Bua, SH, MH yang selalu memantau kondisi di kampung halamannya mensinyalir ada pengerjaan asal-asalan dari pemenang tender proyek tersebut. Menurutnya tidak masuk akal pembangunan yang menelan 5-6 miliar perkilometer tersebut sudah terkelupas dan rusak parah padahal belum selesai dan belum dilalui oleh banyak kendaraan.

Yonas mengungkapkan bahwa harus ada evaluasi dari pihak terkait apakah anggaran sebesar itu memang hanya bisa membangun kualitas jalan seperti itu ataukah ada penyimpangan. Lebih jauh Yonas berseloroh kalau perlu polisi dan KPK harus memeriksanya.

‘Tidak masuk akal, pembangunan yang menelan 5-6 M perkilometer itu belum digunakan sudah rusak parah. Harus ada evaluasi dari pihak terkait. Kalau perlu polisi dan KPK harus memeriksanya’ tutur Yonas melalui sambungan telpon kepada mediakita.co.

Selain kondisi jalan yang telah mengalami kerusakan parah meski belum selesai pembangunan, beberapa tiang listrik juga bertumbangan begitu saja tanpa perbaikan. Beberapa yang kabel-kabelnya sudah rapat di tanah sehingga sangat membahayakan bagi warga sekitar. Termasuk berbahaya bagi ternak warga yang sering melintas di sekitar lokasi tiang listrik yang tumbang.

BACA JUGA :  Idza : Imbau Masyarakat Tak Lewat Jalan Berlubang Ruas Batursari-Tuwel

Dari pantauan mediakita.co beberapa tiang listrik sudah tumbang berhari-hari di sekitar dusun Paniki Bastem Utara yang tumbang tetapi belum diperbaiki oleh instansi terkait.

Masih baru tapi sudah retak

Sudah Memakan Korban

Tanggal 24 Oktober 2021 sebuah truk yang dikemudikan RS (45) mengalami kecelakaan di jalur sekitar Buntu Kalando Desa Dampan. Kejadian tersebut menyebabkan RS dan TR (14) warga Bastem Utara meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit sementara seorang lainnya berinisial IN (15) luka parah.

Kendaraan yang dikemudikan RS tersebut meluncur tanpa kendali ke jurang hingga begian tepan ringsek menjepit RS dan TR yang duduk di depan.

Kendaraan yang di kendarai RS

Penyebab kecelakaan belum diketahui pasti namun disinyalir karena medan yang ekstrim. Sehari sebelum kejadian tim mediakita.co melintas dijalur terjadinya kecelakaan, terpantau bahwa jalur tersebut memiki kemiringan sekitar 40 derajat dengan belokan tajam tepat dipendakian. Sementara hamparan kerikil bertaburan dan bergerak di atas aspal yang sudah rusak yang sangat berbahaya bila dilintasi.

Jika kendaraan berjalan lambat maka bisa berputar atau meluncur begitu saja karena kerikil yang bergerak di atas aspal itu. Tetapi apabila terlalu cepat sangat berbahaya karena di sisi jalan ada jurang yang dalamnya puluhan meter tanpa pengaman. (Prb/mediakita.co)