Tahun Baru Hijriah, Habib Lutfi: Perbaiki Akhlak dalam Kehidupan Sehari-hari

RANDUDONGKAL, mediakita.co – Para jamaah pengajian di Desa Banjaranyar menyambut dengan riuh kedatangan Habib Muhamad Lutfi Bin Ali Bin Yahya dari Pekalongan pada sabtu (17/10), mereka rela berdesakan untuk bisa berjabatangan dengan Al Habib.

Sesampainya di panggung Habib Lutfi menyampaikan ceramahnya mengenai pentingnya memahami makna hijriah. Dalam ceramahnya Habib Lutfi menerangkan kepada jama’ah pengajian dalam memaknai tahun baru hijriah bahwa pertama kali yang harus dilakukan orang Islam adalah memperbaiki nilai akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

“contoh kecil yang menujukan nilai akhlak itu menyebut nama Nabi Muhammad tidak hanya menyebut Muhammad saja, akan tetapi haruslah kita menggunakan nama sanjungan. Bisa baginda nabi besar, nabi agung, syayidina,” terang Habib Lutfi

Memanggil dengan sanjungan, kata habib lutfi akan menunjukan tingginya nilai akhlak seseorang dan rasa hormat dihormati. Menurutnya bukan hanya untuk nabi, akan tetapi kita memberikan panggilan sanjungan juga kepada para alim ulama, para pemimpin dari presiden sampai RT, TNI, Polisi dan yang lainya.

BACA JUGA :  Uskup Agung Jakarta: Mengaku Beriman Tetapi Suka Berbohong dan Menyebarkan Hoaks Keimanannya Dipertanyakan

Selanjutnya, Ulama asal pekalongan ini mengajak jamaah pengajian untuk memahami hijrah nabi ke kota Madinah bukan semata-mata lari dari kafir Quraisy Mekah dan kebutuhan perut, akan tetapi hijrah nabi merupakan perintah langsung dari Allah untuk mensiarkan agama islam.

“Harusnya bangsa kita menggambil hikmah dari hijrah Rasulullah. Nilai yang terkandung dalam hijrah adalah nilai pembangunan. Nabi Muhammad begitu sampai di Kota Madinah, beliau membangun masjid sebagai tempat ibadah, membangun madrasah untuk tempat pendidikan dan membangun pasar sebagai pusat perekonomian,” jelasnya kemarin malam.

Al Habib menjelaskan, seandainya umat Islam di Indonesia benar-benar mengambil makna hijrah maka dengan sendirinya pembangunan disegala bidang akan cepat terealisasikan.

Namun Habib Lutfi mengeluhkan dengan kondisi bangsa Indonesia yang mentalnya sudah menurun hampir medekati jaman jahiliah, di mana menurutnya jaman jahiliah ditandai dengan banyaknya kerusuhan antar suku.

“Sekarang yang kita lihat bangsa kita ini terlihat seperti jaman jahiliah. Tapi bukan maksudnya jaman jahiliah itu jaman kebodohan, akan tetapi perilakunya yang menyerupai jahiliah.” ujarnya.

BACA JUGA :  Yasonna 'Tinggalkan' Jokowi, Pengamat: Itu Tidak Etis dan Sikap Politisi yang Tamak?

Ia menambahkan bahwa bangsa Indonesia saat ini mudah sekali terprofokasi, mudah diadu domba, saling serang antar umat beragama,

kata Al Habib, bahkan sesama dalam satu agama pun masih saling menyerang, apalagi kalau dalam agama itu diboncengi oleh kepentingan politik. Contoh kiyai sini dukung si A Kiyai sana dukung si B dan keduanya saling serang.” katanya.
“ Kita jangan mundur ke jaman jahiliah, lanjut Habib Lutfi, jangan sampai kita mudah dibenturkan antar suku, agama, ras dan antar golongan. Dan yang paling terpenting umat jangan sampai jauh dari ulama, rakyat harus hormat dan menghargai pemimpin, begitu juga pemimpin ataupun penguasa harus bisa memberikan kepercayaan pada rakyatnya.” Pungkasnya (Ikhrom)