Sejarah Nyadran
Menurut sejarahnya, nyadran merupakan tradisi Hindu-Budha. Dirangkum dari sejumlah sumber, demi memudahkan dakwah Agama Islam, pada abad ke-15 Walisongo menggabungkan tradisi pumajaan roh ini dengan dakwahnya. Dengan demikian, agama Islam dapat dengan mudah diterima.
Sebagai sebuah tradisi, berlaku anggapan bahwa nyadran merupakan ritus penghormatan terhadap arwah leluhur. Ritus nyadran ini, merupakan salah satu budaya asli nusantara yang masih berlaku hingga saat ini secara turun temurun. Meskipun dibeberapa tempat, ritus dalam tradisi ini mengalami sejumlah perubahan.
Dalam sejarahnya, nyadran juga dilakukan oleh bangsawan Kerajaan Jawa. Sultan Agung Hadi Prabu Hanyakrakusuma, Sultan Mataram yang memerintah dari tahun 1613 hingga 1645 ini diriwayatkan pernah melakukan bersih-bersih ke makam Sunan Tembayat pada tahun 1633.
Hal yang sama dilakukan oleh Susuhunan Amangkurat II. Pada dekade tahun 1684, ia pernah berkunjung ke makam Imogiri sebelum dan selama bulan Ramadan. Kunjungan ini untuk disebut-sebut sebagai caranya menghormati Sultan Agung, kakeknya.
Merujuk manuskrip Wilujengan Sadranan (1935) dan Memule Sadran, di Keraton Surakarta tradisi sadranan pada bulan Ruwah dalam bentuk slametan yang digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Adam. Ada sejumlah sesaji, pembacaan solawat Nabi dan doa untuk para wali, raja-raja Mataram hingga Surakarta, sebagai leluhur tanah Jawa.
Di Kasultanan Yogyakarta, nyadran ditandai dengan menggelar dua ritual. Pertanma, kegiatan caos dahar yang digelar khusus bagi kalangan keraton. Kedua kegiatan ziarah melibatkan masyarakat umum.
Oleh : Tim Redaksi/mediakita.co











