Amatan Pertemuan antara Joe Biden dan  Putin di Jenewa
Suchjar Effendi

OPINI, mediakita.co – Setelah Joe Biden berhasil mematri kembali aliansi Transatlantik di Carbis Bay Inggris, Biden juga berhasil meredakan ketegangan antara AS dan Rusia setelah bertemu Putin di Villa La Grange di tepi danau Jenewa. Pertemuan tersebut berlangsung hampir tiga jam 21 menit. Ini merupakan rekord pertemuan pemimpin dunia.

Biden menjelaskan, pembicaraan dengan Putin dalam suasana baik dan positif. Putin menilai pembicaraan sangat konstruktif dan memuji Biden sebagai negarawan yang berpengalaman dan tenang. Tidak seperti pendahulunya Donald Trump.

Kesepakatan yang telah dicapai pada pertemuan puncak tersebut diantaranya adalah:

1. Tukar menukar dinas rahasia AS dan Rusia yang ditangkap, yaitu Paul Whelan dan Trevor Reed warga AS yang ditangkap Rusia dan Viktor But dan Konstantin Jaroschenko warga Rusia yang ditangkap di AS. Kedua negara juga sepakat untuk menempatkan kembali para duta besarnya di Washington dan Moskow;

2. Kedua negara juga sepakat untuk kembali pada perjanjian INF (Intermediate Range Nuclear Forces) yang dbatalkan secara sepihak oleh Trump. Pakar persenjataan nuklir AS menilai keputusan Trump untuk menarik diri dari perjanjian tersebut, justru melemahkan posisi AS. Pembicaraan antara Biden dan Putin mengenai stabilitas strategis merupakan sinyal penting untuk keamanan global;

BACA JUGA :  Joe Biden Menang Pilpres AS 2020, Bagaimana Sikap Trump ?

3. Biden menjelaskan, bahwa tidak ada agenda penyerangan terhadap Rusia, jika Rusia melanggar HAM. Tapi untuk mempertahankan nilai-nilai Demokrasi, karena hal tsb merupakan bagian dari DNA negaranya.

Putin menolak tuduhan pelanggaran HAM dan menunjukkan pelanggaran HAM yang di lakukan AS seperti yang terjadi pada penjara penjara rahasia CIA.

Putin juga melontarkan pertanyaan, apa tujuan Washington mendukung organisasi di Rusia. Seperti diketahui, AS mendukung oposisi di Rusia yang dipimpin Navalny yang mengalami serangan membahayakan jiwanya.
Setelah itu dia dirawat di rumah sakit di Berlin dan kembali ke Rusia setelah sembuh.

Navalny, pemimpin oposisi di Rusia, sadar bahwa ia akan ditangkap , jika kembali ke Rusia dan dia sadar memilih jalan tersebut.

4. Ketegangan kedua negara akibat adanya serangan cyber yang diduga dilakukan hacker Rusia terhadap lembaga pemerintahan dan perusahaan AS mendorong kedua negara tersebut untuk sepakat membicarakan masalah keamanan cyber.

Rusia membantah tuduhan tersebut dan menawarkan untuk memberikan penjelasan rinci dan bersedia bekerja sama di bidang keamanan cyber. Putin juga mengeluhkan terjadinya serangan terhadap lembaga pemerintahan Rusia.
Biden kembali menghimbau kepada negara negara yang memiliki tanggung jawab agar melakukan tindakan terhadap pencipta serangan Ransomware.

BACA JUGA :  Update Corona Indonesia 8 Juni, Total Kasus Positif 32.033 Orang

Secara keseluruhan, perjalanan Biden ke Eropa dan pertemuannya dengan Putin memberikan kontribusi positif bagi stabilitas keamanan dunia, termasuk langkahnya yang cepat dalam menghentikan perang terbatas antara Israel dan Hamas.

Biden seperti mengulangi kesuksesan diplomasi Henry Kissinger di tahun 1970 an yang berhasil mengatasi kesulitan Washington pada waktu itu, terutama pada perang Vietnam dan krisis ekonomi di AS dengan memecah aliansi Sino-Sovyet dengan merangkul China.

Apa yang dilakukan Biden sekarang adalah lebih pada meredakan ketegangan dengan Rusia. Aliansi Sino-Russo kini berbeda dengan Aliansi Sino-Sovyet tahun 1970an.

Biden kini mempersiapkan diri menghadapi China melalui berbagai tekanan sekaligus perundingan yang menguntungkan kedua belah pihak. Bukan perang terbuka dengan China.

Dunia kini menantikan langkah Biden selanjutnya untuk meredakan ketegangan antara kekuatan adidaya dan pemulihan ekonomi dunia pasca pandemi.

Bogor, 18 Juni 2021
Suchjar Effendi (Pemerhati Ekonomi & Politik). Ditulis dari berbagai sumber.