Berdamai dengan Sakit
Radhar Panca Dahana (Foto:Media Indonesia)

IN MEMORIAM, mediakita.co – Interaksiku dengan Radhar yang cukup intens belakangan ini adalah sewaktu kami sama-sama jadi team panelis membuat pertanyaan debat calon Walikota Tangerang Selatan untuk acara di TV, pengganti Airin yang habis masa jabatannya setelah dua periode jadi walikota.

Cukup sering saya ketemu Radhar, baik di rumahku maupun di luar. Saya tahu dia sudah lama mesti rutin melakukan ritus cuci darah, karena penyakit ginjalnya.

Dari sekian banyak pertemuan, Radhar tak pernah cerita dan mengeluh penyakitnya, kecuali jika ditanya. Menjawabnya pun datar-datar saja. Kelihatannya dia tidak mau penyakitnya menjadi bagian dari obrolan ketika kumpul dengan teman. Seakan penyakitnya telah menjadi bagian dari kehidupannya yang mesti dia peluk dan terima, layaknya isteri atau anaknya. Tak ada kemarahan dan protes, mengapa saya sakit.

Ketika disinggung tentang ritual cuci darah, dia bercerita datar-datar saja kadang sambil bercanda. Bahkan ketika keluar kota,  tidak mudah menemui rumah sakit yang menyediakan darah, dia cerita tanpa emosi. Sementara itu rokok, kopi dan sakit ginjalnya seakan jadi teman dan amunisi untuk selalu berpikir dan menulis – berpacu dengan usia –  bagaimana merawat dan membangun kebudayaan maritim yang jadi kekayaan dan jati diri bangsa ini. Dengan baik hati dia senang berbagi buku-buku karangannya.

BACA JUGA :  Ibadah Di Rumah Adalah Bentuk Tanggung Jawab Sosial Gereja Mendukung Pemerintah Memutus Rantai Penularan Virus Corona.

Yakin dan berdoa, Radhar tengah memasuki hidup barunya yang serba damai, dengan gelar barunya: almarhum. The blessed one. Hidup dalam limpahan kasih ilahi. Meninggal pada hari malam Jumat di bulan Ramadhan (Kamis,  20 April jam 20.00)  diyakini banyak orang sebagai petanda orang baik, meninggal dengan husnul khotimah.

Usia kalender memang ada batasnya, tapi umur dan amal yang ditinggalkan tetap abadi, karena kematian itu sebuah gerbang melanjutkan peziarahan lebih lanjut menuju rumah Tuhan, tempat kita berasal. Kita semua penumpang kapal dengan bendera: Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Selamat jalan sahabat baikku Radhar Panca Dahana. Suatu saat nanti kami pasti akan menyusulmu.

Penulis: Komaruddin Hidayat (Cendekiawan Muslim)