In Memoriam Bang Radhar: Ekonomi Cukup Vs Ekonomi Rakus
Bang Radhar dan Riri Satria

NASIONAL, mediakita.co – Innalillahi wa inna laihi rojiuun. Budayawan Radhar Panca Dahana meninggal tadi pagi, Kamis 22 April 2021, pukul 20.00 di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, usia 56 tahun. Mungkin agak sedikit berbeda dengan para sahabat lain yang mengenal Bang Radhar Panca Dahana sebagai seniman atau budayawan, entah kenapa saya justru memiliki kesan beliau juga seorang pemikir ekonomi, walaupun latar belakangnya adalah ilmu sosiologi.

Mungkin ini disebabkan oleh dua hal, pertama, buku Bang Radhar yang menarik minat saya dan saya pelajari dengan seksama adalah buku “Ekonomi Cukup: Kritik Budaya pada Kapitalisme”, bahkan saya mengikuti acara diskusi buku ini di Taman ismail Marzuki Jakarta tanggal 1 April 2015 dulu. Faktor kedua, dunia saya memang banyak berkecimpung di ekonomi dan bisnis, di samping terkait teknologi digital. Dengan demikian, bahasan Bang Radhar soal ekonomi dan bisnis lebih menarik perhatian saya ketimbang yang lainnya.

Saya dan Bang Radhar tidak sering berinteraksi, namun kami sempat terlibat diskusi yang mendalam mengenai sistem ekonomi dari perspektif kebudayaan pada beberapa kali pertemuan. Inilah pemikiran yang sedikit banyaknya membuka cakrawala saya mengenai ekonomi dan bisnis yang lebih humanis.

BACA JUGA :  Tradisi Nyadran dan Sejarah Ritualnya Bagi Masyarakat Jawa, Ini 3 Hal yang Dilakukan

Dunia ini cukup untuk memberi rizki untuk semua makhluk, namun tidak akan pernah cukup untuk memuaskan kerakusan. Kelihatannya prinsip ini sangat dipegang oleh Bang Radhar, maka beliau memperkenalkan istilah “ekonomi cukup” sebagai lawan terhadap “ekonomi rakus”. Menurut Bang Radhar kapitalisme dengan prinsip mengembangkan kapital dan menumpuk aset, jika dilakukan tak terkendali akan bermuara kepada ekonomi rakus. Jika manusia sudah sampai kepada ekonomi rakus, maka manusia akan turun derajat menjadi “binatang ekonomi”.

Maka, kata Bang Radhar, ekonomi dan bisnis harus diberikan “suntikan” kebudayaan, sehingga mampu membuat manusia tetap menjadi manusia, atau tidak menjadi “binatang”, dalam menjalankan aktivitas ekonomi dan bisnis. Kebudayaan itu terkait bagaimana nilai-nilai kemanusiaan dijaga, tidak merusak lingkungan hidup sebagai tempat tinggal manusia, menjaga nilai-nilai etika dan moral, dan yang terpenting menjauhi sikap rakus dalam kehidupan ekonomi dan bisnis.

Walaupun berlatar belakang sosiologi, Bang Radhar cukup fasih berbicara soal ekonomi. Mungkin ini mirip dengan Daniel Kahneman, pemenang Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2002 yang berlatar belakang psikologi, namun memasukkan konsep perilaku manusia ke dalam aktivitas ekonomi yang dikenal dengan istilah behavioral economics. Nah, Bang Radhar kelihatannya sangat meyakini bahwa perspektif kebudayaan harus masuk ke dalam ekonomi, sehingga membawa manusia untuk mencukup hidupnya dengan aktivitas ekonomi, namun tidak untuk memuaskan kerakusan seperti menumpuk aset yang berlebihan.

BACA JUGA :  Demi Kemanusiaan, Solidaritas Nasional dan Global Sinode Gereja Toraja Imbau Warganya Taati Imbauan Pemerintah Beribadah dari Rumah

Buku Bang Radhar berjudul “Ekonomi Cukup: Kritik Budaya pada Kapitalisme” wajib dibaca untuk memahami sisi lain dari ekonomi dan bisnis, terutama sisi humanis dari perspektif kebudayaan. Ini tentu dipengaruhi oleh latar belakang beliau dengan ilmu sosiologi.

Nah, begitulah saya kesan saya terhadap sosok Bang Radhar Panca Dahana. Pemikiran yang paling berkesan justru adalah gagasan “ekonomi cukup” sebagai antitesis terhadap “ekonomi rakus”. Menurut Bang Radhar, manusia harus tetap menjaga martabatnya sebagai manusia dalam aktivitas ekonomi, sehingga tidak sampai menjadi “binatang ekonomi”.

Kita kehilangan seorang ilmuwan, budayawan, bahkan juga pemikir ekonomi (menurut saya) …

Selamat jalan Bang Radhar … Al-fatihah …

(Jakarta, 23 April 2021)

Penulis: Riri Satria (Pengamat ekonomi digital dan ekonomi kreatif)