Kisah Capt Mafella Pilot yang menyelamatkan 140 Penumpang dari Gempa Palu, Sembuh dari Covid 19
Capt. Ricosetta Mafella (Foto - BBC) Sembuh dari Covid 19

Nasional, mediakita.co – Masih ingat dengan Capt Ricosetta Mafella? Dia adalah pilot Maskapai Batik Air yang menyelamatkan 140 penumpang dari Gempa Palu karena mengambil keputusan menerbangkan pesawat lebih awal dari jadwal.

Pandemi covid 19 yang melanda seluruh dunia, jutaan orang telah terinfeksi virus paling mematikan tersebut. Salah satu dari mereka yang terinfeksi covid 19 adalah Capten Ricosetta Mafella.

Rico menuturkan bahwa ia tidak tahu persis kapan terinfeksi covid 19 tetapi akhir Februari 2020 ia terbang dari Jakarta ke Jeddah dan tiba – tiba mengalami sakit sebelum berangkat, namun setelah diperiksa dokter ia dianggap masih bisa menerbangkan pesawat. Ia melakukan penerbangan ke Jakarta – Jeddah dan Jeddah Jakarta. Beberapa saat kemudian ia Kembali lagi terbang ke Jeddah dengan kondisi yang masih belum sehat.

‘Awal kenanya saya gak ingat tetapi waktu itu kira – kira akhir Februari saya terbang ke Jeddah dalam keadaan sakit, tiba – tiba sakit waktu itu, dokter datang ke pesawat periksa saya, lalu saya dikasih obat dan dinyatakan oke, lalu terbang. Setelah sampai di Indonesia beberapa waktu kemudian saya terbang lagi ke Jeddah, hari itu masih tidak enak badan tetapi masih oke, sampai di Jeddah langsung kembali ke Jakarta lagi’ tutur Rico.

ajibpol

Menurut Capt Rico ia merasakan demam yang sangat tinggi pada tanggal 8 Maret, lalu ia ke Rumah Sakit dan diberi antibiotik. Ia sembuh beberapa waktu namun tanggal 15 Maret sudah mulai merasa tidak enak. Tanggal 16 sudah mulai demam, batuk dan tulang mulai sakit. Ia pun berinisiatif ke RS lagi dan diberi obat antibiotik oleh dokter selama tiga hari. Menurut Rico obat tersebut lumayan bisa menawan rasa sakitnya, ia di rontgen dan periksa darah. Hasilnya ia didiagnosa terkena broncho pneumonia lalu diberi obat tetapi itga hari tidak sembuh, justru batuk dan demamnya semakin parah.

BACA JUGA :  Aktivis Press Kampus Moestopo Adakan Visit Media di MPR

Singkat cerita setelah menjalani pemeriksaan swab, ia didiagnosa terinfeksi covid 19 sehingga ia harus dirawat secara insentif di RS Persahabatan. Ia dirawat selama dua hari di IGD dan ia melihat situasi yang mengerikan.

‘Di RS Persahabatan saya, masuk UGD, dirawat selama dua hari di UGD yang cukup mengerikan lihat kanan kiri koma, sesak nafas, di depan saya batuk, dipojok sesak nafas dengan keadaan payah sekali … dan saya disitu sudah tidak enak sekali panas dan batuk yang sangat keras lalu saya berdoa kepada Tuhan untuk mereka yang ada di situ’ kisah Rico.

Hari keempta Rico dipindahkan ke rung isolasi dengan perwatan insentif. Rico mengaku itulah waktu yang paling mengerikan,  ia mengaku hidupnya sudah diambang kematian. Namun ia memutuskan untuk tetap berdoa, membaca Firman Tuhan dan memuji Tuhan.

Rico mengaku tidak lagi berdoa untuk kesembuhan dirinya melainkan merendahkan diri dan mengakui segala dosa – dosanya untuk menghadapi kematin. Dalam keadaan yang mengerikan itu Rico juga memanfaatkan waktu untuk berbagi, mendoakan dan menguatkan mereka yang sakit bersamanya. Beberapa di antara mereka yang didoakan Rico sembuh dan bisa kembali ke rumah.

BACA JUGA :  Ganjar Pranowo : Saya Akan Nginap di Rumah Warga Miskin di Pemalang

Setelah menjalani perawatan beberapa minggu dengan kondisi yang mengerikan akhirnya Rico dinyatakan negative covid 19 dan bisa pulang ke rumah tetapi masih harus menjalani isolasi selama 14 hari.

Rico mengisahkan ketika keluar dari RS ia melewati lorong – lorong dan ia melihat dari balik kaca begitu banyak pasien covid yang keadaannya sangat parah.

‘Pada saat saya keluar ternyata tempat itu lorong kanan kiri bangsal – bangsal tempat isolasi, saya lihat dari kaca, semua pasien covid keadaannya sangat parah dengan alat bantu nafas, baju dibuka dan semua dipasangi alat, I don’t know what is that, lalu saya mulai mendoakan mereka, merinding saya sangat takut’ tutur Rico.

Ketika Rico mencapai pintu terluar rumah sakit untuk breafing dengan dokter di taman, ia merasa seperti keluar dari kubur.

‘Akhirnya saya mencapai pintu terluar untuk breafing dengan dokter di taman, itu rasanya keluar dari tempat itu seperti keluar dari dalam kubur, dari ruang mayat karena semua orang sudah kritis, tau gak setiap hari saya mendengar orang meninggal, saya trauma, saya tak terbayangkan saya ngeri banget… Tapi Tuhan masing sayang pada saya, Dia Allah yang Hidup, mengasihi saya dan kamu ’ kata Capt. Rico

Selengkapnya nonton https://www.youtube.com/watch?v=n9Tche96bgs