Dunia yang ‘Tengggelam dalam Lautan’ Stress: Ketahui Dampak dan Cara Pengendaliannya
Kedamaian yang menular (Sumber - Puisi Normantis)1

Dunia sedang diguncang dengan Pandemi Covid 19, seiring dengan itu seluruh dunia juga terserang wabah stress. Kita dengan mudah mendengar kata – kata ini, ‘Aduh saya sangat stress tinggal di rumah, tidak bisa ke mana – mana, bingung mau bikin apa, dll. Mereka yang sedang berjibaku melawan infeksi covid 19 pasti merasakan stress yang lebih berat.

Namun apakah yang dimaksud dengan stress? Menurut kamus Webster, stres adalah faktor yang bersifat jasmaniah, kimiawi atau emosional yang menyebabkan  ketegangan tubuh atau mental dan mungkin merupakan faktor penyebab timbulnya penyakit.

Menurut Dokter Don Colcert MD Penulis Buku Stress Less bahwa reaksi tubuh terhadap stress melibatkan lebih dari seribu empat ratus reaksi jasmaniah dan kimiawi  dan melibatkan lebih dari tiga puluh horman dan neoutrotransmitter (pemancar getaran saraf) berbeda. Pelepasan ‘hormon – horman stress’ yang berlebihan akan merusak sel – sel, jaringan – jaringan dan organ – organ tubuh.

Menurut Colbert bagi sebagian besar orang pergumulan – pergumulan karena stress sehari – hari adalah yang lain merusak tubuh. Stres yang disimpan dalam tubuh menciptakan tetesan – tetesan hormon stress ke dalam jaringan tubuh maupun otak. Hal – hal kecil yang menimbulkan stress semakin lama akan semakin bertambah dan dapat jauh lebih merusak dari pada peristiwa negatif yang hanya sesekali terjadi dan mungkin menimbulkan reaksi stress yang lebih berat.

Banyak hal yang potensial menyebabkan terjadinya stress. Berdasarkan hasil – hasil penelitian, penyebab stress dapat dibedakan dalam dua kategori yaitu penyebab utama stress besar dan stress sehari – hari. Penyebab utama stress besar antara lain: Perceraian, kematian anggota keluarga, penyakit yang berkepanjangan, kemiskinan dan ketidakbahagiaan di tempat kerja. Sedangkan penyebab stress sehari – hari antara lain: Kemacetan lalulintas, tagihan, ketegangan dalam keluarga, suara bising, kerumunan orang banyak, gangguan tidur, pengucilan, kelaparan dan bahaya.

Berdasarkan penyebabnya stress juga dibedakan dalam empat kategori antara lain: Stres jasmani, stress emosional dan mental, stress kimiawi dan stress suhu.

Stress Jasmani: Stress jasmani sering timbul karena kurang tidur, kerja lembur, olahraga berlebihan, luka atau trauma karena kecelakaan, operasi, infeksi, penyakit jasmani, dan rasa sakit menahun. Infeksi – infeksi menahun sangat menegangkan tubuh, Serangan sinusitis, bronchitis, infeksi virus, prostatitis, dan radang lambung menahun dan sering kambuh menyebabkan stress jasmani kronis. Semakin parah infeksi itu – terutama radang paru – paru atau infeksi – infeksi ginjal, dan semakin lama berlangsungnya maka semakin besar pula stress yang dialami tubuh.

Penyakit – penyakit dan konsisi – kondisi parah seperti penyakit jantung, diabetes, radang sendi, Alzheimer, kanker, asma dan penyakit – penyakit autoimmune biasanya merangsang timbulnya reaksi stress kronis dalam tubuh. Perubahan – perubahan jasmani tertentu dapat menambah beban stress seseorang misalnya menopause, ketidakseimbangan hormon, gizi yang tidak layak, kesulitan tidur dan bebagai macam faktor yang berhubungan dengan usia lanjut.

Perlu diketahui bahwa tidak semua keadaan atau lingkungan mengakibatkan tingkat stress jasmani yang sama bagi tiap – tiap orang. Latihan di pusat olaraga misalnya mungkin tidak mengakibatkan stress jasmani pada orang – orang tertentu tetapi menyebabkan stress jasmani yang besar bagi orang lain.

Stress Emosional dan Mental: Stress ini biasa juga disebut stress psikologis. Bisa pula disebut stress emosional atau stress mental. Berbagai emosi seperti kemarahan, permusuhan, depresi, kecemasan dan ketakutan dapat menyebabkan ketegangan emosional menahun. Demikian pula dengan stress mental seperti kekhawatiran dan kegelisahan. Biasanya stress – stress ini muncul karena terlalu banyak bekerja dan terlalu sedikit bermain, terlalu banyak utang, kesulitan – kesulitan dalam pernikahan, anak – anak yang menggunakan obat – obat terlarang dan kecanduan alkohol.

BACA JUGA :  Data Hoaks Covid-19: Terbanyak Lewat Facebook

Stress mental seringkali muncul dari perasaan kewalahan, kehilangan kendali atau terjebak tanpa jalan keluar. Orang – orang perfeksionis yang terus – menerus berusaha keras melakukan lebih dan lebih banyak pekerjaan, dan yang terus menerus memaksa diri sendiri tanpa benar – benar merasa puas dengan kinerja sendiri akan dengan mudah mengalami stress mental.

Banyak orang menderita depresi, kegelisahan, frustrasi, kemarahan ketakutan dan rasa bersalah mempunyai pola pikir yang biasanya menyimpang, yang membelenggu mereka dalam mentalitas yang menghasilkan stress. Perselisihan keluarga, deadline yang mendesak, terlalu banyak janji dan gaya hidup yang terlalu sibuk dapat mengakibatkan stress mental dan emosional.

Stress Kimiawi: Stress kimiawi dapat diderita seseorang karena telalu banyak menggunakan berbagai bahan kimia yang berlebihan seperti gula, kafein, obat perangsang, alkohol, nikotin (rokok) dan bahan makanan tambahan. Selain itu stress kimiawi dapat pula berhubungan dengan bahan – bahan kimiawi yang terpapar dengan seseorang dari lingkungan seperti serbuk tembikar, debu, bahan – bahan penyebab alergi dan zat – zat kimia yang beracun seperti gas pembuangan disel, asap rokok dan pestisida. Selain itu ada pula zat – zat kimia yang terdapat dalam makanan dan minuman seperti merkuri dalam ikan, kadmium dalam daging kerang dan zat kimia seperti klorin dalam air ledeng.

Lingkungan – lingkungan tertentu seperti perkotaan yang berpenduduk padat, pola lalulintas yang macet, daerah – daerah industri akan lebih banyak sumber – sumber penyebab stress kimiawinya. Tidak semua orang akan mengalami reaksi yang sama terhadap faktor – faktor penyebab tersebut.

Stress Suhu: Stress jenis ini sangat berhubungan erat dengan pengaruh suhu yang ektrem, panas atau terlalu dingin. Orang – orang bisa kelelahan karena suhu udara yang panas atau suhu udara yang dingin sehingga bisa menyebabkan stress. Di Indonesia jenis stress ini tidak terlalu sering terjadi.

Jangan Tenggelam dalam Faktor – Faktor Penyebab Stress!

Tidak terhitung banyaknya orang pada masa kini yang sedang ‘tenggelam dalam lautan’ penyebab stress. Beberapa penyebab stress tertentu tidak dapat dikendalikan, namun di spektrum yang lain justru kitalah yang jadi penyebabnya.  Di antara kedua ekstrem ini ada banyak sekali sumber stress yang dapat kita kendalikan.

Dr Albert Ellis Penemu Rasional Emotive Theraphy berkata, ‘Masa hidup anda yang terbaik adalah masa di mana Anda  memutuskan bahwa segala masalah adalah masalah – masalah Anda sendiri. Anda tidak menyalahkan ibu, ekologi atau presiden anda. Anda menyadari bahwa anda mengendalikan takdir anda sendiri’.

Albert menyebutkan bahwa masa terbaik hidup kita ketika kita dapat mengendalikan pikiran – pikiran kita, situasi – situasi sosial seperti hubungan dan dapat pula mengendalikan sampai tingkat tertentu serta kemungkinan kita rentan terhadap lingkungan – lingkungan yang berpolusi kimiawi. Kita harus menyadari bahwa kita mempunyai kendali yang cukup luas atas bagian – bagian dalam kehidupan kita, itulah langkah pertama mengurangi stress.

BACA JUGA :  Selamat Jalan Pahlawan Kemanusiaan! Satu dari 46 Tenaga Medis RSUP Kariadi yang Terinfeksi Covid 19, Berpulang Hari Ini

Kendalikan Pikiran Kita!

Setiap kita memiliki kemampuan mengubah pikiran – pikiran kita. Kita dapat mengganti pola pikir dalam otak kita sendiri dan mengambil kebiasaan – kebiasaan berpikir baru. Kita dapat mengubah persepsi  dan reaksi – reaksi kita, sehingga kita dapat mengalir bersama situasi yang penuh stress, mirip seorang peselancar yang mengendarai ombak hingga membawanya selamat ke pantai.

Sebagai contoh sekarang seluruh dunia dilanda pandemi covid 19. Dalam sekejab interaksi sosial kita berubah drastis, ada aturan physical distancing dan menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Bisa jadi kita stress bukanlah karena peraturan – peraturan itu tetapi pikiran – pikiran yang salah tentang hal itu yang menyiksa dan membuat kita stress. Kita melihat bahwa ada banyak orang yang berperilaku berlebihan dan tersiksa bukan karena virus corona itu tetapi karena pemahaman yang salah dan keliru tentang virus korona.

Kendalikan lingkungan sosial dan ‘kimiawi’ kita sendiri!

Semua orang dapat memilih di mana dan bagaimana harus hidup. Kita bisa menentukan jadwal kegiatan kita, pekerjaan apa yang kita akan kerjakan, komitmen apa yang kita akan buat, tempat dan dengan siapa kita ingin tinggal dan menentukan dengan siapa kita berhubungan. Kita dapat pula memilih tanggapan seperti apa yang dapat kita lakukan terhadap perlakuan dan perkataan orang – orang di sekitar kita.

Martin Luther King pejuang apartheid dari Amerika pernah berkata, ‘Kita tak bisa mencegah burung terbang di atas kepala kita tapi kita dapat mencegahnya bersarang di atas kepala kita’. Seseorang dapat memilih stress atau tidak stress karena kendali terbesarnya ada pada dirinya sendiri.

Sebagai penutup ketahuilah akan hal ini. Stress emosional dan mental akan menyebabkan reaksi hormonal dalam tubuh sebagai akibat dari dari stress jasmani, kimiawi dan suhu udara. Seseorang yang dapat meredakan stress emosional dan mentalnya dapat mengurangi risikonya untuk menderita penyakit yang mematikan.

Sisi lain dari kebenaran ini adalah orang – orang yang tidak belajar menanggulangi stress emosional dan mental akan lebih sering mengalami banyak penyakit. Penelitian jangka Panjang yang dilakukan DR. Hans Eysenck dan timnya dari London University menunjukkan bahwa stress menahun yang tidak ditanggulangi (berbagai stress emosional dan mental) enam kali lebih mudah diduga akan berakibat kanker dan penyakit jantung daripada merokok, kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi.

Sedangkan penelitian yang dilakukan Mayo Klinik terhadap orang – orang yang berpenyakit jantung mengungkapkan bahwa penyebab utama penyakit jantung yang mereka derita karena stress psikologis yang mereka pelihara bertahun – tahun. Diungkapkan pula bahwa mereka yang tidak dapat menanggulangi stress memiliki angka kematian 40 persen lebih tinggi dari orang – orang yang memilih ‘tidak stress’. Sementara mereka yang sakit jantung 74 persen mengalami penurunan kematian dan bypass setelah mereka mendapatkan pengetahuan pelatihan penanggulangan stress.

‘Kita bisa mencegah tertular virus corona, tetapi hal yang sama benarnya kita bisa memilih untuk tidak stress karena virus corona’

Penulis: Piter Randan Bua: https://twitter.com/PiterRandanB

Sumber:

  1. Colbert, Don MD. Stress Less. Imanuel. Jakarta. 2008
  2. Yen, Shih Cheng, Batin yang Damai. Mustika Abadi Indonesia.Jakarta. 2014
  3. Colbert, Don MD. The Seven Pillars Health: Cara Alami Menuju Kesehatan yang Semakin Baik Seumur Hidup. Imanuel. Jakarta 2007.