Ibadah Di Rumah Adalah Bentuk Tanggung Jawab Sosial Gereja Mendukung Pemerintah Memutus Rantai Penularan Virus Corona.
Pendeta GKI Peterongan Helen Aramada Setyoputri

Semarang, mediakita.co – Pandemi Covid 19 yang melanda seluruh dunia secara radikal telah mengubah cara interaksi manusia termasuk di dalamnya cara beribadah bersama – sama.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mengeluarkan kebijakan bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.

Meski kebijakan tersebut ditanggapi beragam oleh berbagai pihak karena berbagai kondisi dan situasi namun tetap diterapkan dengan segala keadaannya.

Gereja – gereja di Indonesia hari ini beberapa di antaranya menerapkan himbauan pemerintah tersebut dengan cara beribadah dari rumah. Beberapa gereja mencoba tetapi melayani jemaatnya seperti hari minggu biasanya dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan media sosial.

Di Semarang salah satu gereja yang melayani jemaatnya dengan memanfaatkan media sosial youtube untuk beribadah.

Melalui saluran youtube GKI Peterongan ibadah dilakukan dengan live streaming. Diawal ibadah Pendeta GKI Peterongan Rinta Kurniawaty menyampaikan bahwa keputusan melakukan ibadah secara online adalah merupakan perwujudan tanggung jawab sosial gereja untuk membantu pemerintah yang sedang berjuang keras memutus rantai  penularan virus corona.

‘Saudara apa yang kita lakukan ini bukan karena ikut – ikutan, bukan pula karena ketakutan dan beralasan, apalagi untuk keren – karena dengan kemajuan zaman tetapi karena kita sedang menghadapi sebuah bencana yaitu wabah penyakit virus corona yang sudah yang menjadi pandemi di dunia ini. Oleh karena itu ibadah yang dilaksanakan tanpa pertemuan di gedung gereja sebagai bentuk tanggung jawab sosial gereja untuk ikut serta membantu pemerintah yang sedang berupaya keras memutus rantai penularan virus corona dengan cara sosial distancing sekaligus juga menjadi bentuk tanggung jawab moral kita  untuk tidak menambah beban rumah sakit dengan pasien – pasien yang baru’ ungkap Pendeta Rianta Kurniawati.

BACA JUGA :  Presiden Tak Melarang Mudik, Tapi Konsekuensinya Otomatis ODP dan Harus Isolasi Mandiri 14 Hari, Fadli Zon: Pernyataan Mencla - Mencle

Pendeta Rinta juga menyampaikan bahwa semua itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab iman sebagai orang percaya yang di utus di dunia ini untuk memberikan dampak positif.

‘Semuanya ini kita lakukan sebagai bentuk tanggung jawab iman kita sebagai orang percaya yang diutus hadir di tengah dunia untuk memberikan dampak yang positif’ tutur Pdt Rinta selanjutnya.

Dalam waktu yang sama Pendeta Helen Aramada Setyoputri yang memimpin ibadah mengawalinya dengan mengutip tema masa raya paskah 2020 yang berjudul, ‘Perjumpaan yang tak terduga dengan Allah.

‘Saudara yang terkasih dalam Tuhan dalam masa raya paskah 2020 ini kita mengambil tema, ‘Perjumpaan yang tak terduga dengan Allah’ . Sungguh tak terduga kalau pada masa ini juga kita memulai sesuatu yang baru yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya dengan ibadah tanpa tatap muka secara langsung ini. Tetapi biarlah kiranya semangat kita tetap tertuju Allah, hati kita tetap terfokus beribadah menemui Allah dengan cara yang baru, dengan cara yang berbeda dan tidak terduga ini’ tutur Pendeta Helen.

BACA JUGA :  Bhabinkamtibmas Mendampingi Penyerahan Bansos

Ibadah Minggu GKI Peterongan 22 Maret 2020 dengan tema. ‘Memberdayakan Bukan Memperdayai’ dalam khotbahnya Pendeta Helen mengajak semua jemaat agar memberdayakan semua orang tanpa terkecuali melalui kehadiran (presence), tuntunan (guidence), pemberdayaan (empowerment) dan dukungan (support).

Diakhir khotbanya Pendeta Helen berucap, ‘Dukunglah setiap orang dalam segala kelemahannya, berdirilah bersama dengan para korban ketidakadilan sosial, nyatakanlah dan suarakanlah kebenaran melalui begitu banyak cara yang bisa kita lakukan. Inilah panggilan kita untuk mensupport setiap orang dalam kebenaran Tuhan’.