Kisah Pemuda Pemalang yang debat dengan Soekarno

 

Pemalang, Mediakita.co- Bagi orang Indonesia, Soekarno lebih dari sekedar Presiden pertama, sikapnya yang keras terhadap Asing, dan pidato yang menggelegar, menginspirasi banyak orang. Namun siapa sangka, ada seseorang atau bisa kita sebut Pemuda, asli Pemalang pernah debat dengan Soekarno.

Bocah itu tiada lain adalah Soedjairto, yang kini bergelar professor dan menjadi legenda dalam dunia pendidikan. kisah ini diceritakan dalam buku 7 wong pemalang menjemput mimpi (2014) karangan Puji D. Darmoko.

Kisah ini bermula dari keaktifan Seodjiarto di berbagai organisasi kampus, baik ekstra maupun intra. salah satunya GMNI. Di GMNI, Soedjiarto pernah menajdi wakil ketua GMNI cabang Bandung. Selain itu Seodjiarto pernah memegang jabatan pula sebagai Pengurus Senat Mahasiswa FKIP Unpad.

Tahun 1960-an, Suhu Politik begitu memanas. Terutama kedekatan Soekarno dengan Faksi PKI. Puncaknya tahun 1962, menteri pendidikan dasar dan kebudayaa waktu itu, Prof. Priyono mendirikan Institut Pendidikan Guru (IPG) yang berhaluan komunis. Para mahsiswa berhaluan Nasionalis, sempat mengecam pendirian IPG kepada Soekarno.

BACA JUGA :  Percepat Munas, OSO Calon Kuat Ketum Hanura

Soekarno pun memanggil perwakilan mahasiswa FKIP ke Istana, Bung Karno juga memanggil CGMI yang merupakan sayap pemuda PKI. Soedjiarto, kala itu baru lulus dari FKIP Unpad Bandung (berubah menjadi IKIP Bandung dan menjadi UPI Bandung) didaulat menjad juru bicara mahasiwa FKIP. Keduanya berdebat sengit. Terlebih mahsiswa FKIP menuntut diidirikanya institut pendidikan yang mandiri yang terbebas dari unsur komunis.

CGMI terpojok, Soekarno menghentikan debat. Ia lalu bertanya apa keinginan dari para mahsiswa FKIP. Soedjiarto yang didaulat menjadi juru bicara menjawab dengan lantang. Diperluken pendidikan guru yang komprehensif, mandiri dan berkesinambungan sehingga output yang dihasilkan lebih berkualitas dan profesional.”

Satu bulan kemudian, tanggal 31 januari 1963, Pemerintah mendirikan IKIP yang mandiri, dan tidak menginduk kepada Universitas yang lama. Tiga bulan berikutnya, Soedjiarto dan kawan kawannya bergabung menjadi Tim perumus Pemisahan FKIP menjadi IKIP se Indonesia.(fZ)