Literasi Digital Guna Meningkatkan Ketahanan Keluarga Indonesia

NASIONAL, mediakita.co- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) kembali selenggarakan seminar literasi digital. Acara mengambil tema “Literasi Digital untuk Meningkatkan Ketahanan Keluarga Indonesia.”

Acara diselenggarakan di Restoran Pindang Gajah Kota Bandar Lampung mulai pukul 09.00 hingga 12.00, Minggu (4/2/2024).

Hadir sebagai narasumber Almuzzammil Yusuf, Komisi I DPR RI, Semuel Abrijani Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Kominfo RI, Rahmad Adhi Pratomo (Praktisi Digital), dan Nurul Hidayati (Ketua Presidium Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI).

Seminar diselenggarakan sebagai dukungan Kominfo terhadap Program Literasi Digital yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Format Acara Ngobras (Ngobrol Asik) literasi digital ini bertujuan untuk mendorong keluarga agar lebih mudah mengakses informasi yang relevan terkait kesehatan, pendidikan, dan keamanan, sehingga mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

Penyelenggaraan acara seminar juga bertujuan untuk memberdayakan masyarakat agar dapat memilah dan memilih informasi yang bermanfaat, memberikan informasi yang lengkap terkait pembangunan Infrastruktur TIK yang dilakukan oleh Pemerintah khususnya oleh APTIKA, serta mendorong peran orang tua dalam mendampingi pembelajaran selama pandemi, serta mewujudkan jaringan informasi dan media komunikasi dua arah antara masyarakat dan pihak lainnya.

Bacaan Lainnya

Almuzzammil menyampaikan bahwa kontrol dan informasi digital telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, namun juga membawa tantangan dan risiko yang perlu diatasi.

Anggota Komisi I dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyebutkan bahwa sudah ada program-program literasi digital yang bertujuan melibatkan lebih banyak masyarakat Indonesia.

Salah satu program tersebut telah melibatkan 12 juta individu yang telah terlatih, dengan target mencapai 18 juta hingga akhir Oktober 2024. Program literasi digital ini dianggap penting mengingat sebagian besar aktivitas kini sudah beralih ke ranah digital, termasuk ekonomi.

Almuzzammil juga mengingatkan bahwa digital bukan hanya sebatas alat komunikasi, tetapi juga mencakup aspek ekonomi, media, dan bahkan keamanan. Dalam konteks ini, literasi digital dianggap krusial untuk membantu masyarakat menghadapi tantangan tersebut.

Almuzzammil menekankan perlunya pendidikan literasi digital di tingkat keluarga, terutama dalam menghadapi anak-anak yang semakin terpapar dengan teknologi. Ia juga memperingatkan agar keluarga dapat mengelola penggunaan teknologi secara bijaksana, menghindari dampak negatif seperti penyebaran hoaks, dan memastikan bahwa literasi digital tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga etika dan moral.

Termasuk regulasi undang-undang, dengan mengacu pada hak asasi warga negara dan pengelolaan informasi harus diperhatikan. Ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi harus dalam bingkai hukum dan moralitas, serta berlandaskan pada prinsip hak asasi manusia.

Anggota Komisi I ini prihatin dengan kondisi saat ini dan menekankan pentingnya kesadaran literasi digital dalam konteks perkembangan teknologi yang begitu cepat di Indonesia.Menurutnya masyarakat perlu proaktif dalam memahami dan mengelola penggunaan teknologi digital demi ketahanan keluarga dan kemajuan bangsa.

Rahmad Adhi Pratomo memberikan pengalamannya sebagai seorang ayah yang aktif menggunakan digital dalam aktivitas ekonomi. ia juga menyoroti bahaya-bahaya penggunaan sosial media, terutama bagi anak-anak. Adhi Pratomo juga mencatat risiko terhadap keamanan pribadi, termasuk upaya penipuan melalui tautan yang dikirim melalui WhatsApp.

Para orang tua diharapkan untuk menegakkan batas usia minimal akses anak-anak terhadap media digital, memberikan contoh yang baik, dan aktif memantau serta membahas penggunaan teknologi bersama anak-anak.

Sementara itu Nurul Hidayati, yang merupakan ketua Pesidium BMIWI. Ia menyoroti peran teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana kita sebagai orang tua dapat membimbing anak-anak di era ini.

Ia membahas signifikansi hubungan dengan Allah dan bagaimana membangun kehidupan beragama yang kuat. Ia menekankan perlunya memberikan literasi digital kepada ibu-ibu di kampung-kampung agar mereka dapat memahami dampak positif dan negatif teknologi digital.

Ia juga berbicara tentang fungsi keluarga dan pentingnya membangun ikatan yang kuat antara anggota keluarga. Kasih sayang, perhatian, dan komunikasi yang produktif menjadi kunci untuk membentuk keluarga yang kokoh di tengah era digital.

Nurul Hidayati mengajak orang tua untuk mengoptimalkan fungsi keluarga, membangun bonding yang kuat, dan memperkuat komunikasi yang produktif dengan anak-anak. Pendekatan ini, menempatkan keluarga dapat menghadapi tantangan era digital dengan baik dan memastikan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang seimbang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait