Misteri Penampakan Kobaran Api Pertunjukan Wayang Kulit di Kawasan Usaha PT. Aneka Usaha Pemalang
PEMALANG, mediakita.co- Pagelaran wayang kulit pada peresmian usaha Sistem Resi Gudang (SRG) dan Ground Breaking Aspal Mixing Plant (AMP) di Kawasan usaha PT. Aneka Usaha Kabupaten Pemalang (PTAU) persero, Kamis, 28 Oktober 2021 masih menjadi perbincangan warga.

Pasalnya, dalam pagelaran wayang kulit di kawasan usaha perusahaan milik daerah di Dukuh Silarang, Desa Surajaya, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah itu menyisakan peristiwa mistis yang oleh warga setempat dikaitkan dengan pesan goib dari leluhur yang menguasai wilayah itu.

Sumber warga menyebut ada sejumlah peristiwa mistis yang terjadi menjelang acara dan saat acara berlangsung.

Sehari menjelang acara, panitia melihat ada penampakan sinar merah menyerupai kobaran api di salah satu sudut tempat acara. Penampakan api serupa terjadi pada saat acara berlangsung. Kali ini, penampakan sinar yang mirip kobaran api itu berada di sebelah panggung acara.

ajibpol

Sebagaimana malam sebelumnya, penampakan bara api itu hanya sesaat. Sebelum akhirnya penampakan sinar merah mirip bara api itu kemudian menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun.

Selain peristiwa penampakan api itu, sekitar satu jam ki dalang Warsito dari Cilacap memulai pementasan, tiba-tiba turun hujan disertai angin. Sesaat kemudian, tiba-tiba sound system juga mati. Tak ayal, panitia dan tekhnisi sound system dibuat kalang kabut.

Disaat yang hampir bersamaan, angin yang bertiup dari arah makam leluhur dikawasan itu seperti menyulam aroma wawangian. Bau wewangian ini dirasakan salah satu warga di rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi. Sekitar 30 menit kemudian, sound system terdengar hidup kembali.

Kesaksian warga setempat, Bejo (54), menyatakan peristiwa yang kini banyak diperbincangkan warga itu dianggapnya sebagai hal yang tak biasa biasa. Karena di ujung barat lokasi acara ada makam para leluhur yang oleh warga diyakini yang menguasai wilayah itu.

“Disebelah barat kan ada makam mbah Pangeran Purbaya dan leluhur lain. Menurut cerita dan keyakinan warga disini yang turun temurun, para leluhur itu yang menguasai wilayah ini,” ungkapnya.

Menurut Bejo, bisa jadi karena acara itu tidak melibatkan warga atau pamit ke leluhur. Karena menurutnya, pagelaran wayang purwa itu hanya untuk tamu undangan. Sementara, warga setempat hanya mendengarkan dari jauh karena tidak bisa menyaksikannya.

BACA JUGA :  Pasar Loak Randudongkal Ini Ternyata Juga Menjadi Tujuan Bagi Pelaku Kreatif

“Saya sendiri hanya mendengar peristiwa itu dari mulut ke mulut, karena warga sini tidak bisa ikut nonton. Tapi dari adanya hujan angin yang tiba-tiba, trus sound system mati hingga pengakuan beberapa orang yang melihat ada kobaran api misterius ditempat acara itu pasti memiliki pesan dari para leluhur. Pesannya apa ya tidak tau, tapi itu harus jadi renungan kita semua,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Desa Surajaya Wasno membenarkan adanya peristiwa aneh tersebut. Meski tak melihat langsung, Wasno mengaku menerima pengaduan dari tamu VIP yang melihat penampakan Api itu saat acara berlangsung.

“Dua pejabat yang hadir mengaku kaget melihat kaya ada kilau api yang berkobar disebelah panggung pementasan. Tapi tak lama api itu hilang lagi,” kata Wasno mengisahkan.

“Beliau kemudian menanyakan kepada saya, apakah ada tempat yang dikeramatkan di wilayah itu, saya jawab iya ada. Disebelah barat kawasan ini ada makam Pangeran Purbaya,” tambahnya kepada mediakita.co, saat dihubungi melalui sambungan telepon selulernya, Minggu (31/10/2021).

Meski demikian, Wasno enggan berkomentar terkait dengan peristiwa mistis itu sebagai pesan leluhur yang menguasai kawasan itu.  Wasno berharap, pembangunan pabrik Aspal Mixing Plant (AMP) di Kawasan itu berjalan lancar dan membawa manfaat bagi masyarakat sekitar dan Kabupaten Pemalang pada umumnya.

Seperti diketahui, PTAU Kabupaten Pemalang, kembali menggandeng investor untuk membangun pabrik aspal hotmix atau asphalt mixing plant (AMP). Peletakan batu pertama di Kawasan Usaha Terpadu Desa Surajaya itu dilakukan oleh Bupati Pemalang Mukti Agung Wibowo, Kamis (28/10/2021).

Peresmian dimulainya usaha tersebut, PTAU menggelar acara wayang kulit semalam suntuk. Pagelaran wayang kulit ini dari kabar yang beredar semula akan mengusung lakon “Semar Mbangun Kayangan”. Tetapi diketahui menjelang acara, pada saat bupati menyerahkan wayang secara simbolis kepada ki dalang, lakon yang dibawakan berubah menjadi “Semar Gugat”.

Lakon Wayang

Lakon wayang purwa “Semar Bangun Kayangan” ini dalam pakem pewayangan termasuk lakon carangan.  Istilah carangan dikategorikan sebagai sebuah cerita atau lakon wayang yang bersumber dari cerita gubahan seorang dalang.

Lakon Semar Bangun Kayangan… (baca dihalaman selanjutnya)

BACA JUGA :  Update Covid -19 Pemalang : Tambah 48 Orang Terkonfirmasi Positif, 2 Meninggal Dunia.

Lakon Semar Bangun Kayangan menjadi populer di masyarakat luas pasca digelar dengan sangat menarik  oleh dalang kondang dari Kulonprogo, Almarhum Ki Hadi Sugito. Lakon ini memiliki pesan mendalam. Mengetengahkan ajaran luhur terhadap penonton tentang ilmu sangkan paraning dumadi (asal-muasal dan tujuan hidup manusia).

Selain itu, juga mengandung ajaran yang dalam filsafat jawa disebut dengan jumbuhing kawula-Gusti, manunggaling kawula-Gusti dan kasampurnaning dumadi. Jumbuhing kawula-Gusti artinya Penyelarasan antara tindakan hamba dengan kehendak Tuhan, Manunggaling kawula-Gusti berarti tentang bersatunya antara hamba dengan Tuhan sang pencipta dan kasampurnaning dumadi yang artinya tentang ajaran kesempurnaan hidup.

Sementara, lakon “Semar Gugat” adalah lakon panggung yang ditulis oleh nano Riantiarno pada 1995. Lakon ini kala itu dibuat untuk grup sandiwara Teater Koma.

Dikisahkan melalui tokoh Ki Semar, mencoba balas dendam  terhadap Arjuna dan Srikandi yang dianggap telah mempermalukannya dengan memotong sebagian rambutnya saat dia kesurupan ratu iblis Durga. Namun upaya balas dendamnya gagal.

Disisi lain, lakon Semar Gugat juga dianggap sebagai kritik terhadap Soeharto diera pemerintah Orde Baru.

Alkisah, meski Semar memiliki kekuasaan, tapi serig dipermalukan oleh manusia dan dewa. Tak terima, bersama Bagong putranya, Semar pergi ke istana dewa di Kayangan. Namun, saat itu hanya Semar yang diterima masuk, sementara Bagong justru diusir oleh dua penjaga.

Saat itulah Semar kemudian mengadu kepada dewa Batara Guru dan Batara Narada. Semar meminta agar wajah tampannya dikembalikan lagi. Singkat cerita, permintaan Semar dikabulkan dan diubah menjadi manusia. Tak hanya itu, Semar juga diberi kerajaan Simpang Bawana Nuranitis Asri.

Sebagai raja, Semar mengubah namanya menjadi Prabu Sanggadonya Lukanurani. Namun fakta berbicara lain, meskipun jadi raja, ternyata Semar tidak menemukan kebahagiaan. Istrinya, yang tidak juga percaya bahwa suaminya yang tampan itu adalah Semar, justru meninggalkannya.

Semar kemudian hanya tinggal bersama Petruk dan Gareng. Disini, Semar baru menyadari bahwa segala kekayaan dan jabatan yang dimiliki ternyata tidak memberikan harmoni dan kebahagiaan hidup.

(Red-01)