Pidato Prabowo Ini Bikin Haikal dan Said Didu, “Mantan” Koleganya Panas Dingin, Jokowi “Tiru” AS ?
Pidato Prabowo Ini Bikin Haikal dan Said Didu, “Mantan” Koleganya Panas Dingin, Jokowi “Tiru” AS ?

NASIONAL, mediakita.co-Meski sudah sepekan berlalu, namun pidato Prabowo Subianto masih menuia pro dan kontra. Tak terkecuali, Pro dan kontra juga datang dari para pendukung Prabowo sendiri.

Mantan Juru Bicara Kampanye Nasional Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 yang juga Juru Bicara Presidium Alumni (PA) 212, Haikal Hassan mengaku kecewa.  Haikal menyampaikan ini dalam tayangan YouTube Refly Harun yang diunggah pada Senin (27/4/2020).

Haikal mengaku kecewa bukan lantaran Prabowo bergabung dalam pemerintahan Jokowi, tetapi karena Prabowo dianggap tak mampu memberi pengaruh untuk Jokowi.

Said Didu yang dulu merupakan anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi juga mengaku bingung saat Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto menyebutkan tak mau menjadi bagian dari perpecahan dalam pemerintahaan Joko Widodo – Ma’aruf Amin.

Pernyataan Mantan Sekretaris Kementerian BUMN ini disampaikannya melalui akun media sosial Twitter @msaid_didiu, Rabu, 22 April 2020.

Dikubu oposisi tak mau ketinggalan. Politisi Demokrat, Andi Arief pun angkat bicara. Lewat akun Twitter pribadinya, ia membuat sindiran merasa terharu mendengar pidato Prabowo tentang Presiden Jokowi.

BACA JUGA :  Di Seruduki Babi Hutan, Dua Warga Kuta Pemalang Terluka

“Selama 12 jam saya menangis haru mendengar penjelasan Pak Prabowo soal Pak Jokowi. Air mata tumpah 7 liter,” tulisnya di akun @AndiArief__.

Sementara, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menanggapinya dengan pandangan berbeda. Ia menganggap pidato Prabowo Subianto merupakan sikap saling menguntungkan.

Pandangan lain menganggap bahwa kesaksian Prabowo tersebut merupakan tiruan atas strategi politik yang pernah dilakukan oleh Amerika Serikat (AS). Dikutip dari pinterpolitik.com, strategi menggunakan sosok karismatik untuk menarik simpati publik seperti itu nyatanya juga kerap dilakukan dalam sejarah politik.

Pada Perang Dunia II misalnya, ketika Jepang kalah dalam peperangan melawan Amerika Serikat (AS) setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dibom. Kaisar Jepang Hirohito justru tidak diadili, melainkan tetap dibiarkan menjadi Kaisar agar dapat mengumumkan kekalahan Jepang atas negeri Paman Sam.

Olivia B. Waxman dalam tulisannya How the U.S. and Japan Became Allies Even After Hiroshima and Nagasaki menyebutkan bahwa kebijakan itu diambil karena masyarakat Jepang sangat menghormati dan menuruti Hirohito selaku sosok yang dianggap sebagai perwujudan Dewa Matahari.

BACA JUGA :  Suroto AKSES: Perusahaan Koperasi Solusi Transformasi Ekonomi Paling Efektif Masa Pandemi

Jika Hirohito diadili, itu akan memberikan dampak yang buruk bagi AS karena akan terjadi gelombang besar pemberontakan oleh masyarakat Jepang.

Oleh karenanya, AS harus menggunakan karisma Hirohito agar pemberontakan tersebut tidak terjadi dengan memintanya mengumumkan kekalahan Jepang atas negara yang kini dipimpin oleh Donald Trump tersebut.