Quo Vadis Pandemi Covid-19 di Indonesia

Sesuai dengan prediksi bahwa akan terjadi ledakan kasus di pertengahan Januari 2021, Indonesia mencatat rekor demi rekor. Hari ini penambahan kasus harian mencapai 14.224, setelah kemarin mencatat 12.000an lebih kasus baru Covid-19. Tentu ini dampak dari longgarnya kerumunan saat liburan Natal dan Tahun Baru.

Penyebab yang lain adalah naiknya jumlah test harian yang saat ini mencapai 63.500 dan juga tingginya angka positivity rate yang mencapai 22.56%. Artinya hampir 1 orang positif dari 4 orang yang menjalani test. Ini jauh dari standar aman WHO yang sebesar 5%, atau 1 dari 20 orang yang ditest positif.

Lalu apa langkah antisipasinya? Dari diri kita sendiri, minimal ada 2 hal. Pertama wajib hukumnya untuk mematuhi protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Bila perlu penyadaran akan pentingnya 3M dikumandangkan melalui jalur-jalur keagamaan. Khan bangsa kita katanya terkenal sebagai bangsa yang religius.

Kedua perkuat daya tahan tubuh. Dengan semakin banyaknya orang yang terkena, maka giliran kita hanya soal waktu saja. Caranya? Tetap olah raga serta jemuran tanpa topi, tanpa sunblock dan tanpa kaos lengan panjang. Cerita Dahlan Iskan bisa jadi pelajaran buat kita. Dengan sistem imun yang kuat, kita akan selamat kalau nantinya “mendapat giliran”. Semoga cuman batuk-batuk kecil sambil isolasi mandiri.

BACA JUGA :  Pesan Sosial Lailatul Qadar

Dari sisi pemerintah minimal ada 3 hal. Pertama perkuat 3T (testing, tracking dan treatment). Dari sisi testing, ndak perlu panik kalau angka kasus hariannya naik terus gara-gara jumlah test yang meningkat. Yang penting protokol penanganannya (treatment) di fasilitas kesehatan memadai agar bisa menekan angka fatalitas. Tentu tracingnya harus kuat dan perbanyak ruang-ruang isolasi, terutama bagi masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

Kedua program vaksinasi masal dan serentak untuk menciptakan kekebalan komunal harus sukses. Pesan komunikasinya harus lebih bening agar distorsi informasi bisa diminimalisir. Insentif bagi yang sudah divaksin jauh lebih elegan dan dapat diterima dibandingkan menghukum yang menolak vaksinasi. Jangan pula sampai gara-gara ada vaksinasi, orang lalu merasa kebal dan malahan protokol kesehatan diabaikan.

Soal vaksinasi masal, Indonesia sebenarnya sudah punya banyak pengalaman. Anak-anak yang lahir dan besar di Indonesia sudah hampir seluruhnya bolak-balik di vaksin macam-macam. Hanya memang kita belum berpengalaman dari sisi serentaknya.

BACA JUGA :  Pengorbanan Ditengah Pandemi

Lalu sampai kapan pandemi ini berakhir? Mungkin pandemi Covid-19 ini tidak bakal pernah berakhir. Hanya jumlah kasusnya yang akan terkendali dan yang penting fatalitasnya rendah. Sama seperti TBC, folio, flu yang walaupun sudah ada vaksinnya tapi tetap ada kasusnya sampai sekarang.

Maka dari itu ekonomi harus tetap berjalan beriringan dengan pandemi. Jangan sampai banyak rakyat kecil mati kelaparan atau bahkan negara bangkrut gara-gara ekonomi dipaksa berhenti total atas nama menghindari kerumunan. Harus bisa dipilah dan dipilih, aktivitas yang memberikan nilai tambah bagi ekonomi (misalnya pabrik dan industri) tetap diijinkan dibuka (tentu saja berkerumun), dengan protokol kesehatan yang ketat. Selama pandemi belum terkendali, untuk sementara yang nilai tambah ekonominya rendah (misalnya sekolah), bisa dijalani secara virtual.

Perjalanan ini masih panjang. Akan banyak cerita dan kisah yang nantinya bisa jadi pelajaran di masa mendatang. Kita beruntung, bisa menjadi saksi hidup pandemi terbesar sejak abad 20. Semoga saja kita yang menceritakan, bukan yang diceritakan, kelak.

Salam sehat.

 

Penulis:

Dr. Harris Turino

Akademisi