Peran Story Telling Di Masa Pandemi

OPINI, mediakita.co – Pandemi Covid-19 mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan di rumah, baik kegiatan sekolah dan kantoran. Nyaris seluruh kegiatan berbasis daring atau online, dan membutuhkan gawai atau gadget.

Kondisi ini menuntut respons yang luar biasa dari orangtua, terutama dalam menghadapi anak-anak. Mendampingi anak dalam proses belajar daring senantiasa akan berdampingan dengan game dan sebangsanya. Hal tersebut tidak mudah, sebab dunia game anak-anak sangat mungkin asing dan tidak dipahami orangtua sendiri.

Kebingungan yang dihadapi oleh orangtua jaman now, adalah adanya kesenjangan antara dunia orang tua dan dunia anak-anak yang membutuhkan pencermatan tersendiri. Dan, jika dicermati lebih jauh, kesenjangan tersebut bisa diatasi dengan model story telling.

Metode Story Telling Dalam Pendidikan Di Rumah

Bercerita atau story telling merupakan metode lama yang ternyata bermanfaat dan mampu menstimulasi aspek perkembangan anak, salah satunya aspek perkembangan bahasa.

Nah, apa itu story telling? Kata ini sering kita dengar terutama dalam kehidupan anak, kata story telling berasal dari dua suku kata yaitu story yang artinya cerita dan telling yang berarti penceritaan.

Story telling berbeda dengan story reading, meski sama-sama bercerita namun cara penyampaiannya berbeda. Story telling adalah menyampaikan pesan dengan bercerita secara lisan dengan menggunakan media, sedangkan story reading adalah membacakan cerita yang berpatokan dengan buku cerita. Story telling dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai media seperti boneka tangan, buku cerita, dan aksesoris lain yang sesuai dengan tema cerita yang akan dibawakan untuk si kecil.

Banyak cerita yang dapat digunakan untuk story telling kepada si kecil, seperti cerita rakyat, fabel hingga cerita pengalaman sendiri.

Manfaat Story Telling

Metode story telling memiliki banyak sekali terutama untuk anak usia dini. Beberapa manfaat yang teruji secara akademik, yakni pertama adalah meningkatkan kecerdasan emosional anak. Manakala orangtua sedang melakukan story telling di depan si kecil, kecerdasan emosional anak akan terbangun. Dengan cara tersebut anak dapat melatih emosi diri sendiri dan mengenal emosi orang lain.

BACA JUGA :  Kebangkitan Kader Ditengah Pandemi

Kedua, meningkatkan kemampuan bahasa anak. Cukup banyak artikel dan jurnal penelitian yang mengatakan bahwa metode story telling mampu meningkatkan perkembangan bahasa anak, dengan story telling dapat melatih kemampuan mendengar, menyimak, komunikasi serta dapat menambah kosa kata baru bagi anak.

Ketiga, meningkatkan kreativitas anak. Melalui story telling kreativitas anak akan berkembang, ketika dia sedang mendengarkan cerita yang dibacakan oleh orang tua, anak akan berimajinasi tentang cerita tersebut. Anak juga akan menggambarkan atau membayangkan bagaimana karakter tokoh, konflik maupun latar dari cerita.

Keempat, menanamkan nilai moral. Dalam sebuah cerita pasti mengandung pesan moral, seperti cerita yang berjudul kelinci dan kura-kura dalam cerita tersbut mengajarkan anak agar tidak bersifat sombong dan tidak merendahkan orang lain.

Media Story Telling

Untuk menjadi story teller, tidak hanya untuk guru atau orangtua. Anak sendiri juga dapat dilatih untuk menjadi storyteller sejak usia dini. Namun, tentu membutuhkan pemicu dari orangtua. Anak dapat bercerita tentang kegiatannya, hobinya, mainan yang dimilikinya baik di depan orang tua, guru ataupun teman-temannya.

Lalu bagaimana jika anak merasa bosan ketika mendengarkan cerita? Konsentrasi anak memang tidak bisa berlangsung lama, untuk itu sebagai storyteller kita harus menyusun stategi agar si kecil tidak merasa bosan saat orangtua sedang bercerita. Banyak cara yang dapat dilakuan agar anak tidak merasa bosan ketika orangtua sedang membawakan cerita.

Media bercerita. Sangat banyak media yang bisa digunakan untuk mendikung kegiatan bercerita. Boneka tangan sering kali digunakan oleh storyteller sebagai media untuk bercerita. Penggunaan boneka dalam bercerita hendaknya sesuai dengan tokoh dalam cerita tersebut, sehingga akan lebih menarik perhatian anak sehingga dia tidak merasa bosan. Selain boneka, buku cerita bergambar juga dapat digunakan sebagai media untuk mendongeng. Orangtua dapat menunjukkan kepada si kecil gambar yang terdapat dalam buku cerita. Dan media lain yang juga dapat digunakan sebagai pelengkap untuk mendongeng dan sesuai dengan tema.

BACA JUGA :  Ekonomi Politik Love and Hate Chimerica Bretton Wood II (Bagian Kedua)

Gestur tubuh, intonasi suara dan mimik wajah. Saat orangtua mendongeng dengan intonasi suara yang menyerupai tokoh akan mempermudah anak untuk memahami cerita. Dan, penggunaan gestur yang sesuai maka anak akan tertarik untuk mendengarkan cerita dan ia rasa keingintahuan tentang cerita tersebut akan semakin meningkat sehingga dia tidak akan merasa bosan. Berbeda dengan storyteller yang tidak menggunakan gestur dan suara yang sesuai alur cerita yang akan menyebabkan anak merasa bosan saat kita membawakan cerita.

Partisipasi anak. Untuk mengatasi agar anak tidak merasa bosan saat orangtua bercerita, pelibatan anak dalam membawakan cerita tersebut memberi dampak positif. Semisal orangtua bercerita tentang semut dan dan gajah, mintalah anak untuk menirukan suara gajah, sehingga dia tidak hanya mendengarkan kita bercerita namun ia juga ikut memerankan tokoh dalam cerita. Selain itu, orngtua juga dapat melontarkan pertanyaan di tengah-tengah mendongeng sehingga dapat membangun suasana dan tidak menimbulkan kebosanan untuk si kecil.

Kendala Orangtua

Story telling sejatinya merupakan hal biasa dan mudah. Namun, kondisi ini dalam kondisi riil tidak mudah dilakukan oleh orangtua, terutama sekali bagi orangtua yang tidak memiliki kebiasaan lisan, dan ‘tidak punya waktu’.

Namun, melihat manfaat storry telling bagi anak, maka peran orangtua dalam mengambil waktu bersama anak-anak harus dibagi dengan kepadatan waktu yang dimiliki, misal ketika pulang dari kerja, ketika anak-anak akan tidur, menanyakan kegiatan mereka seharian. Mungkin hal tersebut sangat klise, tapi hal tersebut sangat berdampak dalam meningkatkan perkembangan emosional, bahasa, dan kecerdasan intelektual anak, pun anak akan merasa bahwa ia tetap diperhatikan oleh orang tua meskipun orang tuanya bekerja.

Situasi yang tidak ideal dalam keluarga, dalam kondisi saat pandemi seperti ini tentu membutuhkan pengorbanan orangtua bagi anak-anaknya. Hal ini perlu untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan emosi serta intelektual anak-anak, yang adalah masa depan bangsa.

Penulis : mahasiswa UIN Syarif Jakarta