Siti Soendari, “Kartini radikal” dari Pemalang Bag 2

Soendari menulis Wanita

Lewat Ayahnya, ia berkenalan dengan RM. Tirto Adi Soerjo yang dijuluki Bapak Pers Indonesia, Soendari terbakar untuk terus menulis, awalnya ia menulis di majalah dinding di Sekolahnya. Menguasai bahasa Belanda dengan baik adalah modal agar tulisannya dimuat di terbitan-terbitan Belanda. Selain Belanda, Soendari juga cukup menguasai bahasa Inggris, Jerman dan Perancis.

Tulisan-tulisannya yang menggunakan bahasa Melayu sekolahan dengan tajam mengecam pemerintahan kolonialisme, muncul diberbagai terbitan dan dengan cepat menarik perhatian Hindia Belanda, sehingga namanya mulai menjadi bahan pembicaraan, segala aktivitasnya diamati secermatnya oleh pemerintah.

Soendari, awalnya aktif sebagai penulis tetap di Poetri Hindia yang didirikan Tirto Adi Soerjo pada 1908 di Karanganyar. Secara berkala tulisan-tulisannya muncul dikoran tersebut. Poetri Hindia, awalnya hanya niatan Tirto Adi Soerjo memberikan kesempatan kepada istri bupati karanganyar waktu itu, RTA Tirtokokoesoemo.

Siti Soendari kemudian aktif di Wanita Swara, sebuah koran lokal Pacitan, yang ditulis dengan menggunakan huruf dan bahasa Jawa, tapi tak lama kemudian menggunakan bahasa Melayu. Wanita Swara, pada asalnya Surat Kabar yang dikeluarkan oleh Boedi Utomo cabang Pacitan. Meskipun, Majalah Basis Edisi Februari 2009 mencatat, muncul pula Wanita Swara keluaran Kota Brebes yang juga dipimpin Soendari. Pada 1914, Soendari juga mengeluarkan Sekar Setaman yang berbahasa Melayu.

            Dalam wanita swara,  Soendari aktif berbicara tentang hak perempuan. Soendari agak kesal melihat Perempuan dengan mudahnya diceraikan oleh suaminya. Yang menyebabkan wanita selalu dalam keadaan terbelakang. Soendari  ia dengan tegas menyerang budaya patriarkat yang menyebabkan kemunduran Wanita. Ia mendorong kepada kaum perempuan, untuk membaca dan menulis,

BACA JUGA :  Peringati Hari Santri, Ratusan Santri Pemalang Gelar Upacara Di Taman Makam Pahlawan

Menurut Soendari, minimal dengan membaca perempuan bisa memahami situasi sosial yang melingkupi perempuan kala itu, yang membuat mereka sulit diajak bersekolah. Soendari menunjuk masyarakat patriarki yang melekat di alam bawah sadar, bahwa para lelaki dan perempuan sebagaimana yang disampaikan orang-orang kepada Siti Soendari, bahwa perempuan meski bersekolah tinggi, tetap saja tidak akan disukai suami karena tak pandai masak nasi sayur.

Soendari sempat menaggapi opini sinis terhadap wanita berpendidikan kala itu.

“Apa faedahnya menyekolahkan gadis-gadis? Biar diajar terbang ke langit sekalipun, kalau tidak pandai memasak nasi dan sayur, maka suaminya tidak akan menyenanginya.”

Dengan kesal Soendari menanggapi, “Ah, ah, kalau memang demikian watak laki-laki, maka lebih baik dia kawini saja tukang masak Gubernur Jendral, pastilah setiap hari dia akan makan enak.”

Besar kemungkinan, Soendari membaca surat menyurat Kartini dengan Ny. Abendanon, yang kemudian diterbitkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Dalam Dunia bergerak no 2 tahun 1914, Seondari pun menyebut nama Marco, buruan nomor satu kaum Kolonial. Keponakan Kartosuwiryo ini termasuk Jurnalis yang kritiknya amat tajam terhadap pemerintah Kolonial. Besar kemungkinan Soendari juga berguru kepada Marco.

BACA JUGA :  Hantu Pemudik di Jembatan Sipait Pekalongan

Soendari bisa dibilang melengkapi tugas Kartini untuk memperjuangkan hak kaum wanita. Ia berani menentang kaum kolonial dengan berbagai aksi, termasuk memimpin pembakaran ladang tebu dan berbagai pemogokan.  Sesuatu yang sangat riskan pada saat itu, bahkan untuk seorang laki laki.

Keterlibatan Soendari dalam organisasi buruh kereta Api, (Kelak VSTP ini menjadi Cikal bakal SI [Sarekat Islam] Merah  dan kemudian melahirkan PKI) semakin menujukan keradikalanya menentang kaum Kolonial, maaf agak hiperbolis, kita sebut Soendari sebagai “Kartini Radikal” dari Pemalang.

Terakhir, Pram memberikan sebuah penghargaan dalam Tulisanya“Untuk kesekian kali kuakui dia sudah sepenuhnya beremansipasi, dan, secara Barat. Ia sudah cerah. Bagiku ia wanita Pribumi hasil terindah dari awal jaman modern di Hindia”. (Pramodya Ananta Toer: Rumah Kaca)

Pustaka

Ananta Toer, Pramoedya, Rumah Kaca, 1986, Jakarta : Hasta Mitra

Cahyono, Edi, Jaman Bergerak di Hindia Belanda; mosaic bacaan kaoem pergerakan, 2003, Jakarta : Pancar Uswah.

Majalah Basis  No 01-02, Edisi Januari-Februari 2009.

Vivid Widyawati, Siti Soendari : Sang Propagandis Ulung, Pemimpin Perempuan Pertama, 23 Juni 2009, mahardhikayogyakarta.wordpress.com, diakses pada Jumat 22 Juni 2016, Pukul 15:15

Faizal Adi Surya, Tinggal di Sikasur, Belik

Editor di Mediakita.co