Umar Bin Khattab, Pemimpin Berempati Tinggi di Tahun Amar Ramadah
Umar bin Khattab, Pemimpin berempati Tinggi di hari Abu

JAKARTA, mediakita.co — Tahun Abu (Amar Ramadah) menjadi sebutan ketika musim paceklik tiba dan hujan sama sekali tak mengguyur Semenanjung Arab selama sembilan bulan. Segala usaha pertanian dan peternakan hancur total. Hewan ternak kurus kering. Unta dan domba tak mampu menghasilkan susu.

Kelaparan dimana-mana. Pasar sepi sebab tak ada lagi yang akan diperjualbelikan. Uang pun tak berarti apa-apa. Tak ada yang dapat dibeli untuk sekedar menyambung hidup. Pada permulaan musim paceklik, keadaan penduduk Madinah masih lebih baik. seperti yang dikutip ROL. Kamis (22/10) Medinah adalah sebuah kota makmur. Penduduknya biasa menyimpan cadangan makanan. Ketika musim kemarau tiba, cadangan itu dikeluarkan.

Lain halnya, dengan kaum Arab Badui dan pedalaman. Tak ada yang dapat mereka simpan sehingga sejak mula mereka telah berbondong-bondong ke Madinah. Mereka datang meminta bantuan Amirul Mukminin, sekedar mencari remah-remah yang dapat dimakan. Lambat laun, gelombang pengungsi ke Madinah makin tak tertahankan. Bencana kelaparan mulai mengancam penduduk kota, sedang hujan tak kunjung turun.

Peristiwa itu terjadi tahun 17 Hijriyah. Kaum Muslim telah menaklukkan Syam dan Irak. Penduduk Madinah dan kota-kota sekitar sudah mampu meningkatkan taraf kesejahteraan. Barang-barang dagangan dari Yaman, Syam, dan Mesir didatangkan lewat kapal.

Muhammad Husain Haekal dalam buku Umar bin Khattab menuturkan, Amirul Mukminin Umar bin Khattab tak tinggal diam melihat kondisi rakyatnya. Suatu kali, di pasar, ada seorang penjual membawa samin dan susu dalam dua tabung kulit terpisah.

BACA JUGA :  Warga Resah Praktek Maksiat di Pasar "Bowong"

Kedua barang itu dibeli oleh seorang anak muda seharga 40 dirham. Anak muda itu langsung pergi menemui Umar, membawakan makanan tersebut.

Umar hanya tertunduk sebentar. Jawabnya, “Bagaimana saya akan dapat memerhatikan keadaan rakyat jika saya tidak ikut merasakan apa yang mereka rasakan.”

Amirul Mukminin telah bersumpah tidak lagi makan daging atau samin sampai semua orang hidup seperti sedia kala. Pasalnya, suatu kali Umar disuguhi roti yang diremukkan dengan samin.
Tatkala itu, bencana kelaparan tengah mencapai puncak. Ia panggil seorang Badui. Mereka santap roti itu bersama-sama.

Orang Badui itu setiap kali menyuap diikutinya dengan lemak yang terdapat di sisi luar. Umar bin Khattab menatap cara makan Badui itu dengan heran. “Tampaknya, engkau tidak pernah mengenyam lemak?” tanya Umar.

“Ya,” jawabnya singkat. “Saya tak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun, juga saya tak melihat ada orang memakannya sejak sekian lama sampai sekarang,” lanjut si Badui, seraya tak henti menyuapkan makanan.
Jawaban Arab Badui itu menyentak hati Umar. Saat itu juga, ia mengucapkan sumpah untuk tidak makan daging dan samin. Umar memegang teguh sumpahnya hingga musim paceklik berakhir.

BACA JUGA :  Bawaslu Sosialisasikan 11 Larangan Kampanye

Keputusan itu semakin bernilai, lantaran diambil seorang khalifah yang kekayaannya telah menyaingi Persia dan Romawi pada masa itu. Amirul Mukminin berpendapat tidak mungkin seorang pemimpin dapat memperjuangkan kehidupan rakyatnya kalau dia tidak merasakan apa yang dirasakan rakyat.

Umar yang warna kulitnya putih kemerahan sudah berubah menjadi hitam akibat kemarau panjang. Jika dulu dia terbiasa menyantap susu, samin, dan daging, sejak musim paceklik Umar hanya menyantap minyak zaitun, bahkan sering mengalami kelaparan.

“Jika Allah tidak menolong kami dari Tahun Abu ini, kami kira Umar akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib Muslimin,” kenang penduduk Madinah.

Kenyataannya, memang Umar sangat prihatin. Ia menulis surat kepada wakil-wakilnya di Irak dan Syam untuk meminta pertolongan. Kepada Amr bin Ash di Palestina, ia menulis, “Salam sejahtera bagi Anda. Anda melihat kami sudah akan binasa, sedang Anda dan rakyat Anda masih hidup. Kami sangat memerlukan pertolongan, sekali lagi pertolongan.”
Tegas, lugas. Surat serupa juga dia kirim kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Ubaidah bin Jarrah di Syams, juga kepada Sa’d bin Abi Waqqas di Irak. Kaum Muslim di berbagai wilayah pun bergegas mengulurkan bantuan. Abu Ubaidah paling cepat memenuhi seruan Umar.