400 Jurnalis Merahasiakan Panama Papers Selama 1 Tahun. Ini Alasan Mereka Membukanya Sekarang

Bisnis, mediakita.co – Marina Walker masih ingat saat ia pertamak kali mendengar ada sebuah dokumen yang diklaim sebagai “rahasia terbesar” dari bocoran data yang pernah ada.

Walker, Direktur Deputi dari International Consortium of Investigative Juournalists (ICIJ) akhirnya meneliti “kebocoran data” terbesar itu.

Ukuran data itu mengejutkan : 2,6 terra byte yang berisi 11,5 juta dokumen yang berisi data aliran dana jutaan dolar selama lebih dari 40 tahun.

Kita menyebutnya sebagai “Panama Papers”, dan diakui sebagai kebocoran data terbesar dalam dunia jurnalistik. Para pemimpin negara, atlit dan selebriti di seluruh dunia banyak disebut dalam Panama Papers ini.

Dokumen seberharga itu pasti membutuhkan pengecekan, kemampuan teknologi dan tantangan tersendiri dalam dunia jurnalistik investigasi dan ICIJ menjadi pusat dari semua usaha itu.

Namun yang harus mereka lakukan pertama kali adalah bagaimana dokumen-dokumen tersebut dapat dibaca dengan jelas dan disebarluaskan.

“Ada 2 hal yang kami lakukan. Kami merekrut team investigasi yang terdiri dari jurnalis-jurnalis seluruh dunia yang dapat mengolah data. Kami juga menghadapi tantangan teknologi untuk membuat data itu bisa dibaca dan disebarluarkan dengan aman. Kami butuh waktu hingga berbulan-bulan untuk membersihkan, menyaring dan mempersiapkan data,” cerita Walker.

Lebih dari 370 jurnalis yang berasal dari 100 media dari 80 negara di seluruh dunia bekerja membongkar “dokumen raksasa” tersebut, yang menelusuri perputaran uang di berbagai perusahaan di seluruh dunia.

Semua diawali pada akhir 2014, saat sebuah dokumen yang dikirim oleh seorang bernama “John Doe” ke Bastian Obermayer, seorang jurnalis Investigasi koran Jerman Süddeutsche Zeitung.

Setiap dokumen dalam data tersebut diterbitkan oleh sebuah firma Panama Mossack, Fonseca & Co. Perusahaan tersebut hanya dikenal oleh para elit global- Sebua firma hukum terbesar keempat untuk perlindungan pajak offshore.

BACA JUGA :  Coba Lihat, Ini Hikmah Penciptaan Iblis dan Setan (Bagian 2)

Sheila Coronel, seorang jurnalis investigasi kawakan dan profesor di the Columbia Journalism School mengatakan bahwa Panama Papers  telah menciptakan pengadilan baru untuk korporasi.

“Saya tidak pernah menyaksikan sebuah kerja sama alami antara sekelompok jurnalis dan media dari berbagai negara yang secara simultan terlibat dan suka rela memberikan segala daya upaya untuk menggali dokumen yang sangat rahasia ini untuk mengungkap cerita yang sangat penting dibalik itu,” kata Coronel

Usaha Global

Berbagai media internasional terkemuka seperti The Guardian, BBC, Le Monde (Prancis), La Nacion (Argentina), NDR dan WDR (Jerman), Koran Swiss Sonntagszeitung, Mingguan Austria Falter dan ORF terlibat dalam mega proyek ini.

Dan bukannya tanpa halangan, banyak kesulitan yang dihadapi oleh jurnalis investigasi dan industri media, diganggu dengan pergolakan. Banyak jurnalis yang keluar dari pekerjaannya untuk menangani proyek ini, di antaranya 2 jurnalis peraih Pulitzer Prize.

Karena besarnya data yang harus digali dan melibatkan banyak negara, perusahaan dan tokoh-tokoh maka perlu membagi para jurnalis berdasarkan pengetahuan lokalnya.

“Jadi jika anda ingin tahu dokumen-dokumen Brazil, anda bisa bertanya pada reporter Brazil,” kata direktur ICIJ Gerard Ryle pada Fortune.

Tidak Semua Orang Diundang

Tidak semua media dilibatkan dalam proyek ini, khususnya media-media besar di Amerika : The New York Times, The Wall Street Journal and Washington Post.

Alasan kenapa mereka tidak dilibatkan, Walker mengatakan bahwa kejujuran dalam kerja sama ini sangat penting, setiap pihak harus membagikan semua hal yang relevan dengan penemuan-penemuan lainnya.

Beberapa media merasa nyaman jika harus membagikan informasi kepada lainnya sedangkan lainnya tidak, hal ini sangat dipahami Walker berkenaan dengan kebijakan perusahaan medianya sendiri.

BACA JUGA :  Terkait Kasus Penyebaran Berita Hoax Virus Corona, Polri Tetapkan 5 Tersangka

Dia meyakinkan bahwa pintu kerja sama terbuka lebar untuk setiap media yang mau kerja sama.

“Dengan begitu, tidak berarti bahwa kami tidak bisa bekerja sama dengan the Washington Post or the New York Times dalam mengungkap data ini,” katanya.

Kerahasiaan proyek ini sangat penting berkenaan dengan ukuran dan lingkup kerjanya. ICIJ membangun sebuah Search Engine online untuk organisasi rekanan, termasuk fasilitas chat dan dilengkapi dengan keamanan ganda.

Sebuah perusahaan teknologi membuat backbone dari proyek tersebut.

Semburan pertama dari cerita ini dipublikasikan pada hari Minggu sore. Edward Snowden adalah salah satu orang yang pertama kali mentweet link dari Website SZ

Dia menyebutnya sebagai kebocoran terbesar dalam sejarah jurnalisme data.

Dalam Gelombang

Media menanggapi Panama Papers secara berbeda.  Tentu saja yang paling dipercaya adalah WikiLeaks, sebuah organisasi yang mendedikasikan dirinya untuk keterbukaan dan transparansi. Karena itu, WikiLeaks menyimpan dokumen tersebut dalam websitenya agar bisa dibaca oleh setiap orang.

Namun, sebetulnya, Panama Papers tidak tersedia secara online, mungkin dalam waktu dekat ini bisa.

Le Monde mengatakan bahwa keputusan untuk tidak membuka Panama Papers ke publik – tapi bisa di search – adalah karena banyak mengandung informasi yang sensitif dan rahasia.

Namun Walker mengungkapkan bahwa beberapa data – nama perusahaan dan pemiliknya – tersedia online. Data lainnya tergantung kepada permintaan.

“Kami menganggap bahwa informasi tentang siapa pemilik perusahaan tersebut harus diketahui publik,” kata Walker.

Cerita ini belum berakhir, dan nampaknya baru dimulai.

Proyek-proyek korupsi dan kejahatan terorganisir sepertinya akan mengisi cerita selanjutnya dari Panama Papers ini.

 

(dikutip oleh mediakita dari Mashable, Jason Abbruzzese)