Gunung Mendelem (Jimat), Pura Sejarah Pemalang Yang Tersimpan Cerita Rakyat Pilihan, Pemalang Pusere Jawa
Gunung Mendelem (Jimat), Pura Sejarah Pemalang Yang Tersimpan
Oleh : Bambang Mugiarto 

BAGIAN : 2

Berkasur tanah berpasir, Gunung Mendelem seperti terus terdiam dalam rebahannya. Ia nampak sendirian. Duduk memaku bumi terpisah diantara bukit yang sambung menyambung di kawasan itu.  Menghadap ke barat, batuan tebing raksasa berwarna hitam itu seperti tengah bersitatap dengan Gunung Slamet.

Besoknya, Dewi Sekar Melati ikut pergi bersama Rakai Panaraban. Malamnya, hingga menjelang pagi, mereka tetap berdua di Taman Keputren. Sebuah tempat tinggal, yang lazim diperuntukan bagi istri raja. Tak ada pembicaraan lagi.  Tak ada satu kalimat keluar dari mulut mereka.

Rakai Panaraban duduk menghadap Selatan, sesekali menatap langit begitu lama. Berdiri dan berjalan mengelilingi taman, kembali duduk di sisi istrinya, dan begitulah hingga malam berlalu.

Mereka berdua berjalan terus ke Selatan. Beberapa rombongan pengawalnya, ikut berjalan di belakang. Tiga sisanya berjalan di depan. Rombongan itu, sekilas, terlihat baik-baik saja. Tidak seorangpun di rombongan yang tahu kegundahan jenis apa yang tinggal di hati Rakai Panaraban.

Mereka, rombongan pengawal pasangan suami istri itu, bahkan seperti pura-pura tidak tahu. Ketidak tahuan yang nyaris mendekati tidak peduli. Alih-alih ikut sedih, mereka malah tertawa-tawa.

BACA JUGA :  Ini Mengapa Gunung Mendelem Disebut Gunung Jimat

“Kita berhenti di sini. Kita sudah sampai,” kata Rakai Panaraban. Ia duduk di bawah kayu karet. Menghadap Utara. Menatap tebing hitam raksasa yang menjulang sampai ke atap langit. Di sela batuan, dedaunan hijau merambat. Dingin. Acuh.

“Itu Gunung Mendelem, diajeng.” Panaraban berbisik lirih. Menunjuk tebing tinggi di depannya.

Dewi Sekar tidak menjawab. Ia tahu apa maksud suaminya. Ia hampiri suaminya. Mereka berbalas tatap. Dari gunung air mengalir, dari mata jiwa pun membara terbakar api cinta.

Rakai Panaraban selalu terpukau dengan mata biru istrinya. Di situ ia melihat kedalaman laut, dan keluasan langit. Tajam.

Dewi Sekar coba tersenyum. Tapi, Rakai Panaraban mengerutkan kening. Ujung alis tebalnya seperti elang yang membentangkan sayap. Begitu gagah dan berwibawa. Hampir dua jam mereka istirahat. Matahari sudah tenggelam. Api unggun menyala. Malam makin larut. Rakai Panaraban makin larut dalam perasaan-perasaannya.

BACA JUGA :  Misteri Kali Bacin Dan Kekuatan Gaib Patih Sampun, Selalu Megar Sendiri Hanya Semalam

Malam lewat. Pagi hari, Rakai Panaraban menjelajah hutan di bawah kaki Gunung Mendelem. Ia terus babat alas dari pagi, sampai matahari tenggelam, berhari-hari.

Ia seperti sedang menjelaskan kepada para pengikutnya, bahkan kepada langit dan bumi Hutan Mendelem, kalau perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai. Ia tahu, ia dan rombongan mesti tinggal di Mendelem dari detik pertama mereka tiba.

Dari puncak Mendelem, bila ia palingkan muka ke arah laut Utara, ia bisa saksikan sebuah kerajaan. Kerajaan yang pernah jadi rumahnya.

Suatu malam, tidak lama setelah matahari terbenam, disaksikan api unggun, ia panggil para pengikut. Rakai Panaraban duduk di sebuah batu besar sementara para pengikut duduk melingkari api unggun. Mereka khidmat menanti titah raja.

Gunung Mendelem (Jimat), Pura Sejarah Pemalang Yang Tersimpan
Gunung Mendelem (Foto : Nurokman/mediakita.co)

“Mulai besok, kita buat sebuah bentar (Gapura).”

“Letakkan di sekitar kali, dua gundukan ke bawah dari sini,” katanya. Itu jadi kalimat perintah pertama sejak mereka tiba di Mendelem.

Sejak saat itu, diceritakan, Rakai Panaraban bersama istrinya, Dewi Sekar Melati dan para pengikutnya, tidak pernah kembali ke Istana Kerajaan Kebon Agung yang berada di Desa Kabunan Pemalang.

Ada darah biru tanah Sunda di nadi Dewi Sekar Melati. Ia keturunan Kerajaan Galuh Pakuan. Bersama beberapa kerabat, Dewi diboyong ke Pemalang. Untuk membantu urusan pemerintahan, Rakai Panaraban menunjuk salah satu kerabat Dewi Sekar sebagai pemangku urusan pemerintahan di Desa Cibelok.

BACA JUGA :  Sejarah, Asal-Usul Nama Desa Gombong, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang

Nama Cibelok, dengan awalan suku kata Ci, dijadikan simbol hubungan kekerabatan kerajaan Sunda dengan kerajaan Kebon Agung – Pemalang.

Di wilayah sekitar Pegunungan Mendelem, tata wilayah pemerintahan yang sama, dengan bekel kerabat Dewi Sekar Melati, berada di Desa Cikadu.

Bagi Rakai Panaraban, semuanya telah dimulai di sini. Sebuah perjalanan baru yang harus ia lewati. Ia baru saja melalui semak-semak yang sulit diterabas, mengalami kesalah pahaman yang biasa terjadi dalam kehidupan beragama.

Dewi Sekar Melati ada di suatu tempat, menemani, menunggu dengan sabar sampai ia bisa membuktikan tidak ada yang salah dalam keyakinannya. Dan ia tahu, kapan harus memulai dan kapan semuanya harus berhenti.

Di kaki gunung itu, Rakai Panaraban dan pengikutnya dengan tekun membangun peradaban baru. Ia membuat bentar, membuat pintu masuk dari batu di tempat yang sekarang diberi nama Watulawang.

Watu Payung, Gunung Mendelem (Foto Nurokhman/Zom jarak 1,5 km)

Mencari Watupayung (batu yang menjadi tempat berteduh di waktu hujan), membuat tempat pemandian berupa sumur lanang dan sumur wadon, tuk pakis untuk bersuci, memahat batu arca, stupa, bertapa sendirian di malam hari, dan membuat candi di sebuah tempat, di Gunung Mendelem.

BACA JUGA :  Sumpah Leluhur, Wong Mejagong Pantang Kawin Dengan Wong Kalimas...

Hari, bulan, dan tahun berganti. Rakai Panaraban telah melupakannya, sejak kapan ia memulai.  Ia juga lupa, berapa banyak, di berapa tempat, pahatan patung batu dibuat. Karena ia juga tak pernah ingin mengingatnya apalagi menghitung.

Mungkin pohon-pohon besar dan batu-batu pualam yang berserak di punggung Gunung, atau kaki-kakinya, atau bahkan batu-batu di lima tuk  mata air yang keluar dari rahim Gunung Mendelem itu akan menjadi bagian hitungan yang tidak akan terbilang, berapa jumlahnya.

Rakai Panaraban merasa telah kian banyak mendapatkan jawaban-jawaban dari semua hal yang telah dilakukan selama ini. Jawaban dari semua yang telah dikerjakan. Menyingkir dari gemerlap kekuasaan, membalut luka-luka hatinya yang terkoyak, sebagai jalan menuju ritual-ritualnya, yang terbukti dan bahkan kian meneguhkan prinsip-prinsip kehidupan yang diyakininya.

Gunung Mendelem, adalah sepotong kisah tentang perjuangan. Harga diri seorang lelaki ada pada apa yang ia percayai. Lelaki yang tidak bisa mempertahankan keyakinan adalah lelaki yang kehilangan harga diri. Itu sama dengan mati.

Kepergian Rakai Panaraban dengan memilih tempat perbukitan ini, bukan untuk bersembunyi. Ia juga tidak bermaksud untuk berlari dari tekanan ayahnya. Tapi bahkan karena ia telah gagal untuk dapat meloloskan diri dari panggilan jiwanya.